Apa itu infeksi oportunistik

Dalam tubuh anda terdapat banyak kuman – bakteri, protozoa, jamur dan virus. Saat sistim kekebalan anda bekerja dengan baik, sistim tersebut mampu mengendalikan kuman-kuman ini. Tetapi bila sistim kekebalan dilemahkan oleh penyakit HIV atau oleh beberapa jenis obat, kuman ini mungkin tidak terkuasai lagi dan dapat menyebabkan masalah kesehatan. Infeksi yang mengambil manfaat dari lemahnya pertahanan kekebalan tubuh disebut "oportunistik". Kata "infeksi oportunistik" sering kali disingkat menjadi "IO".

Dasar IO

Anda dapat terinfeksi IO, dan "dites positif" untuk IO tersebut, walaupun anda tidak mengalami  penyakit tersebut. Misalnya, hampir setiap orang dengan HIV akan menerima hasil tes positif untuk sitomegalia (Cytomegalovirus atau CMV). Tetapi penyakit CMV itu sendiri jarang dapat berkembang kecuali bila jumlah CD4 turun di bawah 50, yang menandakan kerusakan parah terhadap sistem kekebalan.

Untuk menentukan apakah anda terinfeksi IO, darah anda dapat dites untuk antigen (potongan kuman yang menyebabkan IO) atau untuk antibodi (protein yang dibuat oleh sistem kekebalan untuk memerangi antigen). Bila antigen ditemukan artinya anda terinfeksi. Ditemukan antibodi berarti anda pernah terpajan infeksi. Anda mungkin pernah menerima imunisasi atau vaksinasi terhadap infeksi tersebut, atau sistem kekebalan anda mungkin telah "memberantas" infeksi dari tubuh, atau anda mungkin terinfeksi.

Jika anda terinfeksi kuman yang menyebabkan IO, dan jika jumlah CD4 anda cukup rendah sehingga memungkinkan IO berkembang, dokter anda akan mencari tanda penyakit aktif. Tanda ini tergantung pada jenis IO.

 

IO dan AIDS

Orang yang tidak terinfeksi HIV dapat mengalami IO jika sistem kekebalannya rusak. Misalnya, banyak obat yang dipakai untuk mengobati kanker dapat menekan sistem kekebalan. Beberapa orang yang menjalani pengobatan kanker dapat mengalami IO.

HIV memperlemah sistem kekebalan, sehingga IO dapat berkembang. Jika anda terinfeksi HIV dan mengalami IO, anda mungkin AIDS.

Di Indonesia, Departemen Kesehatan bertanggung jawab untuk memutuskan siapa yang AIDS. Depkes mengembangkan pedoman untuk menentukan IO yang apa mendefinisikan AIDS. Jika anda HIV, dan mengalami satu atau lebih IO "resmi" ini, maka anda AIDS.

 

Apa IO yang paling umum?

Pada tahun-tahun pertama epidemi AIDS, IO menyebabkan banyak penyakit dan kematian. Namun, setelah orang mulai memakai terapi antiretroviral (ART), lebih sedikit orang yang mengalami IO. Tidak jelas berapa banyak orang dengan HIV akan jatuh sakit dengan IO tertentu.

Pada perempuan, masalah kesehatan di daerah vagina dapat menjadi tanda awal infeksi HIV. Masalah ini, antara lain, termasuk penyakit radang panggul dan vaginosis bakteri.

IO yang paling umum terlampir di sini, bersama penyakit yang biasa disebabkannya, dan jumlah CD4 waktu penyakit menjadi aktif:

 

Pencegahan IO

Sebagian besar kuman yang menyebabkan IO sangat umum, dan mungkin anda telah membawa beberapa dari infeksi ini. Anda dapat mengurangi risiko infeksi baru dengan tetap menjaga kebersihan dan menghindari sumber kuman yang diketahui yang menyebabkan IO.

Meskipun anda terinfeksi beberapa IO, anda dapat memakai obat yang akan mencegah pengembangan penyakit aktif. Pencegahan ini disebut profilaksis. Cara terbaik untuk mencegah IO adalah untuk memakai ART.

Lihat lembaran informasi masing-masing IO untuk informasi lebih lanjut tentang menghindari infeksi atau mencegah pengembangan penyakit aktif.

 

Pengobatan IO

Untuk setiap IO, ada obat, atau kombinasi obat tertentu yang sepertinya bekerja lebih baik. Lihat lembaran informasi setiap IO untuk lebih mempelajari tentang bagaimana IO tersebut diobati.

ART memungkinkan pemulihan sistem kekebalan yang rusak dan lebih berhasil memerangi IO.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI 500]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/24

Kandidiasis (Thrush)

Kandidiasis adalah infeksi oportunistik yang sangat umum pada orang dengan HIV. Infeksi ini disebabkan oleh sejenis jamur yang umum, yang disebut kandida. Jamur ini, semacam ragi, ditemukan di tubuh kebanyakan orang. Sistim kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Jamur ini biasa menyebabkan penyakit pada mulut, tenggorokan dan vagina. Infeksi oportunistik ini dapat terjadi beberapa bulan atau tahun sebelum infeksi oportunistik lain yang lebih berat.

Pada mulut, penyakit ini disebut thrush. Bila infeksi menyebar lebih dalam pada tenggorokan, penyakit yang timbul disebut esofagitis. Gejalanya adalah gumpalan putih kecil seperti busa, atau bintik merah. Penyakit ini dapat menyebabkan sakit tenggorokan, sulit menelan, mual, dan hilang nafsu makan.

Kandidiasis berbeda dengan sariawan, walaupun orang awan sering menyebutnya sebagai sariawan.

Kandidiasis pada vagina disebut vaginitis. Penyakit ini sangat umum ditemukan. Gejala vaginitis termasuk gatal, rasa bakar dan keluarnya cairan kental putih.

 

Apakah kandidiasis dapat dicegah?

Tidak ada cara untuk mencegah terpajan kandida. Obat-obatan tidak biasa dipakai untuk mencegah kandidiasis. Ada beberapa alasan:

Memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan terapi antiretroviral (ART) adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya kandidiasis.

 

Bagaimana cara mengobati kandidiasis?

Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat menjaga supaya kandida tetap seimbang. Bakteri yang biasa ada di tubuh juga dapat membantu mengendalikan kandida. Beberapa antibiotik membunuh bakteri pengendali ini dan dapat menyebabkan kandidiasis. Mengobati kandidiasis tidak dapat memberantas raginya. Pengobatan akan mengendalikan jamur agar tidak berlebihan.

Pengobatan dapat lokal atau sistemik. Pengobatan lokal diberikan pada tempat infeksi. Pengobatan sistemik mempengaruhi seluruh tubuh. Banyak dokter lebih senang memakai pengobatan lokal terlebih dahulu. Ini menimbulkan lebih sedikit efek samping dibanding pengobatan sistemik. Selain itu risiko kandida menjadi resistan terhadap obat lebih rendah.

Obat-obatan yang dipakai untuk memerangi kandida adalah obat antijamur. Hampir semua namanya diakhiri dengan '-azol'.

Pengobatan lokal termasuk:

Pengobatan lokal dapat menyebabkan rasa pedas atau gangguan setempat.

Pengobatan yang paling murah untuk kandidiasis mulut adalah gentian violet; obat ini dioleskan di tempat ada lesi (jamur) tiga kali sehari selama 14 hari. Obat yang sangat murah ini dapat diperoleh dari puskesmas atau apotek tanpa resep.

Pengobatan sistemik diperlukan jika pengobatan lokal tidak berhasil, atau jika infeksi menyebar pada tenggorokan (esofagitis). Beberapa obat sistemik tersedia dalam bentuk pil.

Efek samping yang paling umum adalah mual, muntah dan sakit perut. Kurang dari 20 persen orang mengalami efek samping ini.

Kandidiasis dapat kambuhan. Beberapa dokter meresepkan obat anti-jamur jangka panjang. Ini dapat menyebabkan resistansi. Ragi dapat bermutasi sehingga obat tersebut tidak lagi berhasil.

Beberapa kasus parah tidak menanggapi obat-obatan lain. Amfoterisin B mungkin dipakai. Obat ini yang sangat manjur dan beracun, dan diberi secara intravena (disuntik). Efek samping utama obat ini adalah masalah ginjal dan anemia (kurang darah merah). Reaksi lain termasuk demam, panas dingin, mual, muntah dan sakit kepala. Reaksi ini biasa membaik setelah beberapa dosis pertama.

 

Terapi Alamiah

Beberapa terapi non-obat tampaknya membantu. Terapi tersebut belum diteliti dengan hati-hati untuk membuktikan hasilnya.

 

Kesimpulan

Kandidiasis adalah penyakit jamur (ragi) yang sangat umum. Jamur ini biasa hidup dalam tubuh. Jamur tersebut tidak dapat diberantas. Cara terbaik untuk menghindari terjadinya kandidiasis adalah dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh melalui penggunaan terapi antiretroviral.

Sebagian besar penyakit kandidiasis dapat diobati secara mudah dengan terapi lokal. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit ini menjadi lebih sering terjadi. Obat-obatan antijamur sistemik dapat dipakai, tetapi kandida mungkin menjadi resistan terhadapnya. Obat anti-jamur yang paling manjur, amfoterisin B, dapat menimbulkan efek samping yang parah.

Beberapa terapi alam tampaknya memberi manfaat untuk mengendalikan infeksi kandida.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI516]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/23

Virus Sitomegalia (CMV)

Virus sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah infeksi oportunistik. Virus ini sangat umum. Antara 50 persen sampai 85 persen masyarakat Amerika Serikat adalah CMV-positif waktu mereka berusia 40 tahun. Statistik untuk Indonesia belum diketahui. Sistem kekebalan tubuh yang sehat menahan virus ini agar tidak mengakibatkan penyakit.

Waktu pertahanan kekebalan menjadi lemah, CMV dapat menyerang beberapa bagian tubuh. Kelemahan tersebut dapat disebabkan oleh bebagai penyakit termasuk HIV. Terapi antiretroviral (ART) sudah mengurangi angka penyakit CMV pada Odha sampai dengan 75 persen. Namun, kurang-lebih 5 persen Odha masih mengembangkan CMV.

Penyakit yang paling lazim disebabkan CMV adalah retinitis. Penyakit ini adalah kematian sel pada retina, bagian belakang mata. Ini secara cepat dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati. CMV dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menginfeksikan beberapa organ sekaligus. Risiko CMV tertinggi waktu jumlah CD4 di bawah 50. CMV jarang terjadi dengan jumlah CD4 di atas 100.

Tanda pertama retinitis CMV adalahmasalah penglihatan seperti titik hitam yang bergerak. Ini disebut 'floater' (katung-katung) dan mungkin menunjukkan adanya radang pada retina. Anda juga mungkin akan melihat cahaya kilat, penglihatan yang kurang atau terdistorsi, atau titik buta. Beberapa dokter mengusulkan pemeriksaan mata untuk mengetahui adanya retinitis CMV. Pemeriksaan ini dilaksanakan oleh ahli mata. Jika jumlah CD4 anda dibawah 200 dan anda mengalami masalah penglihatan apa saja, sebaiknya anda langsung menghubungi dokter.

Beberapa Odha yang baru saja mulai memakai ART dapat mengalami radang dalam mata, yang menyebabkan kehilangan penglihatan. Masalah ini disebabkan oleh sindrom pemulihan kekebalan.

Sebuah penelitian baru beranggapan bahwa orang dengan CMV aktif lebih mudah menularkan HIV-nya pada orang lain.

 

Bagaimana CMV diobati?

Pengobatan pertama untuk CMV meliputi infus setiap hari. Karena harus diinfus setiap hari, sebagian besar orang memasang 'keran' atau buluh obat yang dipasang secara permanen pada dada atau lengan. Dulu orang dengan penyakit CMV diperkirakan harus tetap memakai obat anti-CMV seumur hidup.

Pengobatan CMV mengalami kemajuan dramatis selama beberapa tahun terakhir ini. Saat ini ada tujuh jenis pengobatan CMV yang telah disetujui oleh FDA di AS.

ART dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Pasien dapat berhenti memakai obat CMV jika jumlah CD4-nya di atas 100 hingga 150 dan tetap begitu selama tiga bulan. Namun ada dua keadaan yang khusus:

  1. Sindrom pemulihan kekebalan dapat menyebabkan radang yang parah pada mata Odha walaupun mereka tidak mempunyai penyakit CMV sebelumnya. Dalam hal ini, biasanya pasien diberikan obat anti-CMV bersama dengan ART-nya.
  2. Bila jumlah CD4 turun di bawah 50, risiko penyakit CMV meningkat.

 

Apakah CMV dapat dicegah?

Gansiklovir disetujui untuk mencegah (profilaksis) CMV, tetapi banyak dokter enggan meresepkannya. Mereka tidak ingin menambahkan hingga 12 kapsul lagi untuk dikonsumsi pasien dalam sehari. Lagi pula, belum jelas profilaksis ini bermanfaat. Dua penelitian besar menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Pada akhirnya, ART dapat menahan jumlah CD4 pada tingkat yang cukup tinggi sehingga yang memakainya tidak akan berpenyakit CMV.

 

Bagaimana anda dapat memilih pengobatan CMV?

Ada beberapa masalah yang sebaiknya dipertimbangkan dalam memilih pengobatan penyakit CMV aktif:

Anda sebaiknya bertindak cepat agar anda tidak menjadi buta.

Gansiklovir suntikan pengobatan CMV yang paling efektif secara keseluruhan. Bentuk implan sangat baik untuk menghentikan retinitis. Namun implan tersebut hanya bekerja pada mata tempat ditanamnya.

Pil paling mudah ditangani. Pengobatan intravena meliputi suntikan atau buluh obat yang mungkin menimbulkan infeksi. Suntikan pada mata berarti menyuntik jarum langsung pada mata. Bentuk tanam, yang bertahan enam sampai delapan bulan, membutuhkan seandar satu jam rawat jalan.

Terapi lokal hanya mempengaruhi mata. Retinitis CMV dapat cepat menyebar dan mengakibatkan kebutaan. Karena itu, penyakit ini harus diobati secara agresif waktu pertama diketahui. Obat baru dalam bentuk suntikan dan tanam menempatkan obat langsung dalam mata, dan menimbulkan dampak terbesar pada retinitis.

CMV juga dapat ditemukan pada bagian tubuh lain. Untuk menanggulangi di bagian tubuh lain, anda membutuhkan terapi sistemik (seluruh tubuh). Pengobatan suntikan atau infus, atau pil valgansiklovir, dapat dipakai.

Beberapa obat CMV dapat merusak sumsum tulang atau ginjal. Ini mungkin membutuhkan obat tambahan. Obat lain meliputi infus selama waktu yang lama. Membahas efek samping pengobatan CMV dengan dokter.

 

Apa kata pedoman?

Baru-baru ini ada beberapa pedoman profesional yang menyarankan penggunaan valgansiklovir sebagai pengobatan pilihan untuk pasien yang tidak berisiko kehilangan penglihatannya dengan segera.

 

Kesimpulan

Penggunaan ART adalah cara terbaik untuk mencegah CMV. Jika jumlah CD4 anda rendah, dan anda mengalami gangguan penglihatan APA PUN, anda harus langsung periksa ke dokter!

Pengobatan langsung pada mata memungkinkan pengendalian retinitis CMV. Dengan obat CMV baru, anda dapat menghindari buluh obat yang dipasang pada tubuh anda dan infus harian.

Sebagian besar orang dapat menghentikan penggunaan obat CMV jika jumlah CD4-nya naik dan tetap di atas 100–150 waktu memakai ART.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI501]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/22

MAC (Mycobacterium Avium Complex)

Mycobacterium Avium Complex (MAC) adalah penyakit berat yang disebabkan oleh bakteri umum. MAC juga dikenal sebagai MAI (Mycobacterium Avium Intracellulare). Infeksi MAC bisa lokal (terbatas pada satu bagian tubuh) atau tersebar luas pada seluruh tubuh (DMAC). Infeksi MAC sering terjadi pada paru, usus, sumsum tulang, hati dan limpa.

Bakteri yang menyebabkan MAC sangat lazim. Kuman ini ditemukan di air, tanah, debu dan makanan. Hampir setiap orang memiliki bakteri ini dalam tubuhnya. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan MAC, tetapi orang dengan sistem kekebalan yang lemah dapat mengembangkan penyakit MAC.

Hingga 50 persen Odha mengalami penyakit MAC, terutama jika jumlah CD4 di bawah 50. MAC hampir tidak pernah menyebabkan penyakit pada orang dengan jumlah CD4 di atas 100.

 

Bagaimana tahu anda terkena MAC?

Gejala MAC dapat meliputi demam tinggi, panas dingin, diare, kehilangan berat badan, sakit perut, kelelahan, dan anemia (kurang sel darah merah). Jika MAC menyebar dalam tubuh, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi darah, hepatitis, pneumonia, dan masalah berat lain.

Gejala seperti ini juga merupakan gejala banyak infeksi oportunistik lain. Jadi, dokter kemungkinan akan memeriksa darah, air seni, atau air ludah untuk mencari bakteri MAC. Contoh cairan tersebut dites untuk mengetahui bakteri apa yang tumbuh padanya. Proses ini, yang disebut pembiakan, perlu beberapa minggu. Bahkan jika anda terinfeksi MAC, sulit menemukan bakteri MAC.

Jika jumlah CD4 anda di bawah 50, dokter mungkin mengobati anda seolah-olah anda MAC, walaupun tidak ada diagnosis yang tepat. Ini karena infeksi MAC sangat umum terjadi tetapi sulit didiagnosis.

 

Bagaimana MAC diobati?

Bakteri MAC dapat bermutasi dan menjadi resisten terhadap beberapa obat yang dipakai untuk mengobatinya. Dokter memakai kombinasi obat antibakteri (antibiotik) untuk mengobati MAC. Sedikitnya dua obat dipakai: biasanya azitromisin atau klaritromisin ditambah hingga tiga obat lain. Pengobatan MAC harus diteruskan seumur hidup, agar penyakit tidak kembali (kambuh).

Orang akan bereaksi secara berbeda terhadap obat anti-MAC. anda dan dokter mungkin harus mencoba berbagai kombinasi sebelum anda menemukan satu kombinasi yang berhasil untuk anda dan menyebabkan efek samping sedikit mungkin.

Obat MAC yang paling umum dan efek sampingnya adalah:

 

Dapatkah MAC dicegah?

Bakteri yang menyebabkan MAC sangat umum. Mustahil infeksinya dihindari. Cara terbaik untuk mencegah penyakit MAC adalah memakai terapi antiretroviral (ART). Bahkan jika jumlah CD4 anda sangat rendah, ada obat yang dapat mencegah perkembangan penyakit MAC pada hingga 50 persen orang.

Obat antibiotik azitromisin dan klaritromisin dipakai untuk mencegah penyakit MAC. Obat ini biasa diresepkan untuk orang dengan jumlah CD4 di bawah 75.

ART dapat meningkatkan jumlah CD4. Jika jumlah CD4 naik di atas 100 dan tahan pada tingkat ini selama tiga bulan, berhenti memakai obat pencegahan MAC mungkin aman. Tentukan dengan berdiskusi dengan dokter sebelum berhenti memakai obat apa pun yang diresep.

 

Masalah interaksi obat

Sebagian besar obat yang dipakai untuk mengobati MAC berinteraksi dengan banyak obat lain, termasuk obat antiretroviral (ARV), obat antijamur dan pil KB. Hal ini dapat menjadi masalah besar dengan rifampisin, rifabutin dan rifapentin. Pastikan dokter mengetahui semua obat-obatan yang dipakai agar semua interaksi yang mungkin dapat dipertimbangkan.

 

Kesimpulan

MAC adalah penyakit berat yang disebabkan bakteri yang lazim. MAC dapat menyebabkan kehilangan berat badan yang parah, diare dan gejala lain. Jika anda MAC, kemungkinan anda akan diobati dengan azitromisin atau klaritromisin ditambah satu hingga tiga antibiotik lain. anda harus memakai obat ini terus-menerus seumur hidup untuk menghindari kambuhnya MAC.

Orang dengan jumlah CD4 di bawah 75 sebaiknya bicara dengan dokter mengenai obat untuk mencegah penyakit MAC.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI510]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/21

PCP (Pneumonia Pneumocystis)

Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi oportunistik (IO) paling umum terjadi pada orang HIV-positif. Tanpa pengobatan, lebih dari 85 persen orang dengan HIV pada akhirnya akan mengembangkan penyakit PCP. PCP menjadi salah satu pembunuh utama Odha. Namun, saat ini hampir semua penyakit PCP dapat dicegah dan diobati.

PCP disebabkan oleh jamur yang ada dalam tubuh hampir setiap orang. Dahulu jamur tersebut disebut Pneumocystis carinii, tetapi para ilmuwan kini menggunakan nama Pneumocystis jiroveci, namun penyakit masih disingkatkan sebagai PCP.

Sistim kekebalan yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Namun, PCP menyebabkan penyakit pada anak dan pada orang dewasa dengan sistim kekebalan yang lemah.

Jamur Pneumocystis hampir selalu mempengaruhi paru, menyebabkan bentuk pneumonia (radang paru). Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 mempunyai risiko paling tinggi mengalami penyakit PCP. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 300 yang telah mengalami IO lain juga berisiko. Sebagian besar orang yang mengalami penyakit PCP menjadi jauh lebih lemah, kehilangan berat badan, dan kemungkinan akan kembali mengalami penyakit PCP lagi.

Tanda pertama PCP adalah sesak napas, demam, dan batuk tanpa dahak. Siapa pun dengan gejala ini sebaiknya segera periksa ke dokter. Namun, semua Odha dengan jumlah CD4 di bawah 300 sebaiknya membahas pencegahan PCP dengan dokter, sebelum mengalami gejala apa pun.

 

Bagaimana cara mengobati PCP?

Selama bertahun-tahun, antibiotik dipakai untuk mencegah PCP pada pasien kanker dengan sistim kekebalan yang lemah. Tetapi pada 1985 sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa antibiotik juga dapat mencegah PCP pada Odha. Keberhasilan dalam pencegahan dan pengobatan PCP sangat dramatis. Persentase Odha yang mengalami PCP sebagai penyakit yang mendefinisikan AIDS dipotong kurang lebih separoh, seperti juga PCP sebagai penyebab kematian Odha.

Sayang, PCP masih umum pada orang yang terlambat mencari pengobatan atau belum mengetahui dirinya terinfeksi.

Sebenarnya, 30-40 persen Odha akan mengembangkan PCP bila mereka menunggu sampai jumlah CD4-nya kurang lebih 50.

Obat yang dipakai untuk mengobati PCP mencakup kotrimoksazol, dapson, pentamidin, dan atovakuon.

 

Dapatkah PCP dicegah?

Cara terbaik untuk mencegah PCP adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART). Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 dapat mencegah PCP dengan memakai obat yang juga dipakai untuk mengobati PCP.

ART dapat meningkatkan jumlah CD4 anda. Jika jumlah ini melebihi 200 dan bertahan begitu selama tiga bulan, mungkin anda dapat berhenti memakai obat pencegah PCP tanpa risiko. Namun, karena pengobatan PCP murah dan mempunyai efek samping yang ringan, beberapa peneliti mengusulkan pengobatan sebaiknya diteruskan hingga jumlah CD4 di atas 300. Anda harus berbicara dengan dokter anda sebelum anda berhenti memakai obat apa pun yang diresepkan.

 

Obat apa yang paling baik?

Kotrimoksazol adalah obat yang paling efektif melawan PCP. Obat ini juga murah, dan dipakai dalam bentuk pil, tidak lebih dari satu pil sehari.

Namun, bagian SMX dari kotrimoksazol merupakan obat sulfa dan hampir separo orang yang memakainya mengalami reaksi alergi, biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam. Sering kali, bila penggunaan kotrimoksazol dihentikan sampai gejala alergi hilang, lalu penggunaan dimulai kembali, masalah alergi tidak muncul lagi. Reaksi alergi yang berat dapat diatasi dengan cara desensitisasi. Pasien mulai dengan dosis obat yang sangat rendah dan kemudian meningkatkan dosisnya hingga dosis penuh dapat ditahan. Mengurangi dosis dari satu pil sehari menjadi tiga pil seminggu mengurangi masalah alergi kotrimoksazol, dan tampak sama berhasilnya.

Karena masalah alergi yang disebabkan oleh kotrimoksazol serupa dengan efek samping dari beberapa obat antiretroviral, sebaiknya penggunaan kotrimoksazol dimulai seminggu atau lebih sebelum mulai ART. Dengan cara ini, bila alergi muncul, penyebabnya dapat lebih mudah diketahui.

Dapson menyebabkan lebih sedikit reaksi alergi dibanding kotrimoksazol, dan harganya juga agak murah. Biasanya dapson dipakai dalam bentuk pil tidak lebih dari satu pil sehari. Namun dapson kadang kala lebih sulit diperoleh di Indonesia.

Pentamidin memerlukan kunjungan bulanan ke klinik dengan nebulizer, mesin yang membuat kabut obat yang sangat halus. Kabut ini dihirup secara langsung ke dalam paru. Prosedur ini memakan waktu kurang lebih 30-45 menit. anda dibebani harga obat tersebut ditambah biaya klinik. Pasien yang memakai pentamidin aerosol akan mengalami PCP lebih sering dibanding orang yang memakai pil antibiotik.

 

Kesimpulan

Hampir semua peristiwa PCP, salah satu penyakit pembunuh utama para Odha, dapat diobati dan dapat dicegah dengan obat murah yang mudah dipakai. ART dapat menahan jumlah CD4 anda tetap tinggi. Jika jumlah CD4 anda turun di bawah 300, anda sebaiknya membahas penggunaan obat untuk mencegah PCP dengan dokter anda. Setiap orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 seharusnya memakai obat anti-PCP.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LS512]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/20

Toksoplasmosis

Toksoplasmosis (tokso) adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit hidup dalam organisme hidup lain (induknya) dan mengambil semua nutrisi dari induknya.

Parasit tokso sangat umum ditemukan pada tinja kucing, sayuran mentah dan tanah. Kuman ini juga umumnya ditemu dalam daging mentah, terutama daging babi, kambing dan rusa. Parasit tersebut dapat masuk ke tubuh waktu anda menghirup debu. Hingga 50 persen penduduk terinfeksi tokso. Sistim kekebalan tubuh yang sehat dapat mencegah agar tokso tidak mengakibatkan penyakit ini. Tokso tampaknya tidak menular dari manusia ke manusia.

Penyakit yang paling umum diakibatkan tokso adalah infeksi pada otak (ensefalitis). Tokso juga dapat menginfeksikan bagian tubuh lain. Tokso dapat menyebabkan koma dan kematian. Risiko tokso paling tinggi waktu jumlah CD4 di bawah 100.

Gejala pertama tokso termasuk demam, kekacauan, kepala nyeri, disorientasi, perubahan pada kepribadian, gemetaran dan kejang-kejang. Tokso biasanya didiagnosis dengan tes antibodi terhadap T. gondii.

Perempuan hamil dengan infeksi tokso juga dapat menularkannya pada bayinya.

Tes antibodi tokso menunjukkan apakah anda terinfeksi tokso. Hasil positif bukan berarti anda menderita penyakit ensefalitis tokso. Namun, hasil tes negatif berarti anda tidak terinfeksi tokso.

Pengamatan otak (brain scan) dengan computerized tomography (CT scan) atau magnetic resonance imaging (MRI scan) juga dipakai untuk mendiagnosis tokso. CT scan untuk tokso dapat mirip dengan pengamatan untuk infeksi oportunistik yang lain. MRI scan lebih peka dan mempermudah diagnosis tokso.

 

Bagaimana cara mengobati tokso?

Tokso diobati dengan kombinasi pirimetamin dan sulfadiazin. Kedua obat ini dapat melalui sawar-darah otak. Parasit tokso membutuhkan vitamin B untuk hidup. Pirimetamin menghambat pemerolehan vitamin B oleh tokso. Sulfadiazin menghambat pemakaiannya. Dosis normal obat ini adalah 50-75mg pirimetamin dan 2-5g sulfadiazin per hari.

Kedua obat ini mengganggu ketersediaan vitamin B dan dapat mengakibatkan anemia. Orang dengan tokso biasanya memakai kalsium folinat (semacam vitamin B) untuk mencegah anemia.

Kombinasi obat ini sangat efektif terhadap tokso. Lebih dari 80 persen orang menunjukkan perbaikan dalam 2-3 minggu.

Tokso biasanya kambuh setelah peristiwa pertama. Orang yang pulih dari tokso seharusnya terus memakai obat antitokso dengan dosis pemeliharaan yang lebih rendah. Jelas orang yang mengalami tokso sebaiknya mulai terapi antiretroviral (ART) secepatnya, dan bila CD4 naik di atas 200 lebih dari enam minggu, terapi tokso sudah diselesaikan dan bila tidak ada gejala tokso lagi, terapi pemeliharaan tokso dapat dihentikan.

 

Bagaimana cara memilih pengobatan tokso?

Jika anda didiagnosis tokso, dokter anda kemungkinan akan meresepkan pirimetamin dan sulfadiazin. Kombinasi ini dapat menyebabkan penurunan pada jumlah sel darah putih, dan masalah ginjal. Juga sulfadiazin adalah obat sulfa. Hampir separo orang yang memakainya mengalami reaksi alergi. Ini biasanya ruam kulit, kadang-kadang demam.

Reaksi alergi dapat ditangani dengan proses desensitisasi. Pasien mulai dengan dosis obat yang sangat rendah, dan dosis ditingkatkan berangsur-angsur sehingga mereka dapat menahan dosis penuh.

Orang yang tidak tahan terhadap obat sulfa dapat memakai klindamisin untuk mengganti sulfdiazin dalam kombinasi.

 

Apakah tokso dapat dicegah?

Cara terbaik untuk mencegah tokso adalah dengan menggunakan obat anti-HIV yang manjur.

Kita dapat dites untuk mengetahui apakah anda terinfeksi tokso. Jika belum terinfeksi, anda dapat mengurangi risiko infeksi dengan menghindari memakan daging atau ikan mentah, dan memakai sarung tangan dan masker jika anda membersihkan kandang kucing, dan cuci tangan dengan sempurna setelahnya.

Jika jumlah CD4 anda di bawah 100, anda sebaiknya memakai obat untuk mencegah penyakit tokso aktif. Orang dengan jumlah CD4 di bawah 200 biasanya memakai kotrimoksazol untuk mencegah PCP. Obat ini juga melindungi anda dari tokso. Jika anda tidak tahan memakai kotrimoksazol, dokter anda dapat meresepkan obat lain.

 

Kesimpulan

Toksoplasmosis merupakan infeksi oportunistik yang serius. Jika anda belum terinfeksi tokso, anda dapat menghindari risiko terpajan infeksi dengan tidak memakan daging atau ikan mentah, dan ambil kewaspadaan lebih lanjut jika anda membersihkan kandang kucing.

Anda dapat memakai obat anti-HIV yang manjur untuk menahan jumlah CD4. Ini kemungkinan akan mencegah masalah kesehatan diakibatkan tokso. Jika jumlah CD4 anda turun di bawah 100, anda sebaiknya bicara dengan dokter tentang pemakaian obat untuk mencegah penyakit tokso.

Jika anda mengalami kepala nyeri, disorientasi, kejang-kejang, atau gejala tokso lain, anda harus langsung menghubungi dokter. Dengan diagnosis dan pengobatan dini, tokso dapat diobati secara efektif.

Jika anda mengalami penyakit tokso, sebaiknya anda terus memakai obat antitokso untuk mencegah penyakitnya kambuh.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI517]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/19

Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. TB biasanya mempengaruhi paru-paru, tapi kadang-kadang dapat juga mempengaruhi organ tubuh lain, terutama pada Odha dengan jumlah CD4 di bawah 200.

TB adalah penyakit yang sangat parah di seluruh dunia. Hampir sepertiga penduduk dunia terinfeksi TB, tetapi sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya dapat mencegah penyakit aktif.

Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel. Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru.

Ada dua jenis TB aktif. TB primer baru terjadi setelah anda terinfeksi TB untuk pertama kali. Keaktifan kembali TB terjadi pada orang yang sebelumnya terinfeksi TB. Jika sistem kekebalan tubuhnya melemah, TB dapat lolos dari tuberkel dan mengakibatkan penyakit aktif. Kebanyakan kasus TB pada orang dengan HIV diakibatkan keaktifan kembali infeksi TB sebelumnya.

TB aktif dapat menyebabkan gejala berikut: batuk lebih dari tiga minggu; hilang berat badan; kelelahan terus menerus; keringat basah kuyup pada malam hari; dan demam, terutama pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP, tetapi TB dapat terjadi pada jumlah CD4 yang tinggi.

TB ditularkan melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif batuk atau bersin. Anda dapat mengembangkan TB secara mudah jika anda pada tahap infeksi HIV lanjut. Anda dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.

 

TB dan HIV: pasangan yang buruk

Banyak jenis virus dan bakteri hidup di tubuh anda. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit. Jika HIV melemahkan sistem kekebalan, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).

Angka TB pada Odha sering kali 40 kali lebih tinggi dibanding angka untuk orang yang tidak terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia meningkat karena HIV. TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri, dan memperburuk infeksi HIV. Karena itu, penting bagi orang dengan HIV untuk mencegah dan mengobati TB.

 

Bagaimana cara mendiagnosis TB?

Ada tes kulit yang sederhana untuk TB. Sebuah protein yang ditemukan pada bakteri TB disuntik pada kulit lengan. Jika kulit anda bereaksi dengan bengkak, itu berarti anda kemungkinan terinfeksi bakteri TB.

Jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan anda, anda mungkin tidak menunjukkan reaksi pada tes kulit, walaupun anda terinfeksi TB. Kondisi ini disebut 'anergi'. Oleh karena masalah ini, dan karena kebanyakan orang di Indonesia sudah terinfeksi TB, jadi tes kulit sekarang jarang dipakai di sini. Jika anda anergi, pembiakan bakteri dari dahak (lihat alinea berikut) adalah cara terbaik untuk diagnosis TB aktif.

Bila anda mempunyai gejala yang mungkin disebabkan oleh TB, dokter akan minta anda menyediakan tiga contoh dahak untuk diperiksa, termasuk satu yang anda diminta keluarkan dari paru pada pagi hari. Dokter juga mungkin melakukan x-ray paru, dan mencoba membiakkan bakteri TB dari contoh dahak anda. Tes ini mungkin memerlukan waktu empat minggu.

Sulit untuk mendiagnosis TB aktif, terutama pada Odha, karena gejalanya mirip dengan pneumonia, masalah paru lain, atau infeksi lain.

 

Bagaimana TB diobati?

Jika anda terinfeksi TB, tetapi tidak mengalami penyakit aktif, kemungkinananda diobati dengan isoniazid (INH) untuk sedikitnya enam bulan, atau dengan INH plus satu atau dua obat lain untuk tiga bulan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2001 menunjukkan bahwa terapi kombinasi lebih efektif dibandingkan INH sendiri. INH dapat menyebabkan masalah hati, terutama pada perempuan.

Jika anda mengalami TB aktif, anda diobati dengan antibiotik. Karena bakteri TB dapat menjadi kebal (resisten) terhadap obat tunggal, anda akan diberi kombinasi antibiotik. Juga, TB sulit disembuhkan, dan obat tersebut harus dipakai untuk sedikitnya enam bulan. Jika anda tidak memakai semua obat, TB dalam tubuh anda mungkin jadi resistan dan obat tersebut akan menjadi tidak efektif lagi.

Ada jenis TB yang sudah resistan pada beberapa antibiotik. Ini disebut TB yang resistan terhadap beberapa obat atau MDR-TB. Hingga saat ini, Prevalensi MDR-TB di Indonesia belum jelas; surveillans akan segera dilakukan oleh Depkes. Kendati masalah ini, lebih dari 90 persen kasus TB dapat disembuhkan dengan antibiotik.

 

Masalah obat

Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu juga beberapa obat antiretroviral yang dipakai untuk memerangi HIV. Bisa jadi sulit untuk memakai obat untuk TB dan HIV sekaligus. INH dapat menyebabkan neuropati perifer, seperti juga beberapa ARV, jadi dapat terjadi masalah bila obat ini dipakai bersamaan.

Juga, banyak obat anti-HIV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB. Rifampisin atau rifabutin umumnya dipakai untuk mengobati TB. Obat ini dapat mengurangi kadar ARV dalam darah anda di bawah tingkat yang diperlukan untuk mengendalikan HIV.

ARV dapat meningkatkan kadar obat TB ini pada tingkat yang mengakibatkan efek samping yang berat. Rifampisin tidak boleh dipakai jika anda memakai protease inhibitor (PI). Rifabutin dapat dipakai dalam beberapa kasus, tetapi mungkin dosisnya harus diubah. Ada pedoman khusus untuk dokter jika anda memakai obat untuk memerangi TB dan HIV sekaligus. Juga, jika jumlah CD4 anda di bawah 100, anda sebaiknya memakai rifabutin sedikitnya tiga kali seminggu. Ini mengurangi risiko TB-nya menjadi resistan terhadap rifabutin.

Untuk alasan ini, TB biasanya disembuhkan sebelum ART dimulai. Namun mungkin ini mustahil bila jumlah CD4 sangat rendah.

 

Kesimpulan

TB adalah penyakit parah dan membunuh lebih banyak orang dengan HIV dibanding dengan semua penyakit lain. TB dan HIV saling memperburuk.

Ada pengobatan efektif untuk infeksi TB, dan untuk penyakit TB aktif. Jika anda pernah dekat dengan orang TB aktif, atau mempuyai gejala TB, sebaiknya anda dites dan diobati.

Pengobatan untuk TB perlu jangka waktu yang lama, dan dapat sulit dipakai sekaligus dengan ARV, tetapi obat tersebut dapat menyembuhkan TB. Beberapa obat TB dapat berinteraksi dengan ARV, jadi pengobatan harus direncanakan dengan hati-hati jika anda TB dan HIV sekaligus.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI515]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/18

Menghentikan profilaksis untuk infeksi oportunistik

Sebelumnya pengobatan preventif yang disebut profilaksis merupakan standar bagi orang-orang yang berisiko terhadap beberapa jenis infeksi oportunistik tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengobatan dengan kombinasi HAART (Highly Active Anti-Retroviral Therapy) dapat meningkatkan jumlah sel CD4 dan memperbaiki fungsi kekebalan tubuh.

Karena tidak pasti bahwa peningkatan dalam jumlah sel CD4 berarti sistim kekebalan tubuh mampu melawan infeksi-infeksi seperti PCP, para dokter berhati-hati dalam menghentikan pengobatan preventif seperti Bactrim. Beberapa penelitian baru kini mengatakan bahwa bila peningkatan jumlah sel CD4 dapat dipertahankan selama 3-6 bulan, beberapa jenis pengobatan preventif dapat dengan aman dihentikan. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian baru ini, beberapa bagian Panduan Pelayanan Kesehatan Publik (PHS) tentang Pencegahan Infeksi Oportunistik kini diperbarui.

 

Menghentikan profilaksis untuk PCP

Rekomendasi untuk memulai profilaksis PCP tidak berubah: mulai profilaksis PCP bila jumlah sel CD4 kurang dari 200 atau bila ada sejarah thrush. Sebuah bagian baru kini telah ditambahkan dalam panduan tentang menghentikan profilaksis PCP. Bagian ini mengatakan bahwa penyedia layanan dapat menghentikan profilaksis PCP ketia jumlah CD4 seseorang tetap berada di atas 200 selama 3 bulan berturut-turut. Hal yang sama berlaku bagi orang yang pernah mengalami PCP. Sementara untuk memulai kembali profilaksis PCP, panduan menggunakan aturan yang sama dengan waktu memulai: ulangi kembali pengobatan pencegahan bila jumlah sel CD4 turun di bawah 200.

 

Menghentikan profilaksis untuk Toksoplasmosis

Sebuah rekomendasi baru ditambahkan pada update tahun 2001 tentang panduan untuk menghentikan profilaksis untuk Toksoplasmosis. Panduan tersebut sama dengan panduan untuk profilaksis PCP: ketika jumlah sel CD4 seseorang tetap berada di atas 200 selama paling tidak 3 bulan berturut-turut.

Bagi mereka yang pernah mengalami infeksi Tokso, diharuskan untuk menjalankan pengobatan untuk mencegah infeksi berulang (ini disebut pengobatan pemeliharaan). Panduan tahun 2001 mengatakan bahwa menghentikan profilaksis Tokso dapat dilakukan bila jumlah sel CD4 meningkat lebih dari 200 sel selama paling tidak 6 bulan, bila individu tersebut telah menyelesaikan terapi awal Tokso dan tidak menunjukkan gejala penyakit tersebut.

 

Menghentikan profilaksis untuk MAC

Rekomendasi untuk pencegahan MAC juga telah berubah. Dulu MAC merupakan infeksi oportunistik umum bagi orang dengan jumlah sel CD4 rendah. Gejala MAC termasuk kehilangan berat badan, demam, keringat malam, pembengkakan kelenjar, sakit perut, diare dan badan lemah. Risiko mengalami MAC paling tinggi pada orang dengan jumlah sel CD4 kurang dari 50. Panduan PHS merekomendasikan terapi pencegahan untuk MAC bila jumlah sel CD4 serendah ini. Obat-obatan yang direkomendasikan adalah antara clarithromycin (Biaxin) atau azithromycin (Zithromax).

Panduan PHS yang telah diperbarui mengandung rekomendasi baru untuk penghentian profilaksis MAC. Panduan tersebut mengatakan bahwa patut untuk menghentikan profilaksis MAC bila jumlah sel CD4 meningkat menjadi lebih dari 100 sel selama paling tidak 3 bulan. Panduan tersebut menganjurkan memulai kembali pengobatan pencegahan MAC bila jumlah sel CD4 kembali turun menjadi kurang dari 50.

Orang yang pernah mengalami infeksi MAC perlu menjalani pengobatan untuk mencegah infeksi berulang (ini disebut pengobatan pemeliharaan). Panduan tahun 2001 menyebutkan anda dapat menghentikan profilaksis MAC bila jumlah sel CD4 meningkat menjadi lebih dari 100 selama paling tidak 6 bulan, setelah orang tersebut telah menyelesaikan terapi MAC selama 12 bulan dan tidak mengalami gejala penyakit.

 

Menghentikan pengobatan pemeliharaan untuk CMV

Perubahan lain yang berkenaan dengan HAART dalam Panduan PHS adalah untuk infeksi sitomegalovirus (CMV). CMV merupakan virus herpes yang umumnya mengakibatkan sakit ketika jumlah T-sel kurang dari 50. CMV dapat menyebabkan retititis, sejenis infeksi mata yang dapat mengakibatkan kebutaan. Pengobatan standar untuk CMV termasuk obat-obatan yang diberikan lewat infus. Begitu seseorang terinfeksi CMV, pengobatan pemeliharaan dibutuhkan untuk mencegah infeksi tersebut menjadi aktif kembali. Beberapa penelitian baru kini menunjukkan bahwa ketika jumlah sel CD4 meningkat hingga lebih dari 100-150 sel, pengobatan pemeliharaan untuk CMV mungkin tidak lagi mendesak.

Panduan PHS sangat berhati-hati mengenai informasi ini, karena penyakit CMV aktif dapat sangat serius. Panduan yang terbaru menyebutkan bahwa menghentikan pengobatan pemeliharaan dapat dipertimbangkan bila terdapat peningkatan jumlah CD4 yang berkelanjutan hingga lebih dari 100-150 sel. Keputusan apapun untk menghentikan terapi pemeliharaan CMV harus dilakukan dengan konsultasi dokter mata, atau ahli mata (ophthalmologist) yang biasa merawat CMV. Ahli mata tersebut akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk seberapa besar ancaman infeksi CMV terhadap penglihatan seseorang.

 

Menghentikan pengobatan pemeliharaan untuk Kriptokokus

Untuk orang yang pernah menderita infeksi Kriptokokus penting untuk menjalani pengobatan untuk mencegah infeksi berulang (ini disebut pengobatan pemeliharaan). Panduan tahun 2001 menyebutkan penghentian profilaksis Kripto dapat dipertimbangkan bila jumlah sel CD4 meningkat lebih dari 100-200 sel selama paling tidak 6 bulan, dan bila orang tersebut telah menyelesaikan pengobatan awal terapi Kripto dan tidak mengalami gejala penyakit.

Panduan PHS yang baru untuk Pencegahan Infeksi Oportunistik dapat diperoleh di http://www.hivatis.org/trtgdlns.html .

[Sumber: AIDS Treatment Data Network]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/255