Segala jenis peradangan pada hati dapat disebut Hepatitis. Namun istilah ini biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sekelompok infeksi viral yang menyebabkan peradangan atau kerusakan pada hati. Terdapat beberapa jenis virus hepatitis, yang ditularkan melalui berbagai cara dan memiliki efek yang berbeda pada tubuh. Di bagian ini anda dapat memperoleh informasi mengenai hepatitis dan HIV. Suatu infeksi dengan lebih dari satu organisme biasa disebut dengan koinfeksi.
Hepatitis berarti radang atau pembengkakan hati. Hepatitis bisa disebabkan oleh virus, alkohol, narkoba, obat-obatan (termasuk obat yang diresepkan), atau racun. Penyebab lainnya adalah infeksi oportunistik seperti MAC atau CMV.
Hepatitis merupakan penyakit yang sangat umum terjadi, yang dapat terjadi bahkan pada orang yang sistem kekebalannya baik. Hepatitis juga bisa mengakibatkan goresan hati (sirosis) dan gagalnya fungsi hati, yang bisa mematikan.
Banyak kasus hepatitis tidak diobati karena dianggap hanya serangan flu biasa. Gejala hepatitis yang paling umum adalah nafsu makan hilang, kelelahan, demam, pegal sekujur tubuh, mual dan muntah serta nyeri pada perut. Pada kasus yang parah dapat terjadi air seni yang berwarna gelap, buang air besar yang berwarna pucat, dan kulit serta mata yang menguning (disebut ikterus atau jaundice).
Dokter akan memeriksa darah kita untuk melihat apakah hati kita bekerja normal. Tes fungsi hati tersebut mencakup pengukuran kadar bahan kimia tertentu, seperti bilirubin, AST/SGOT dan ALT/SGPT. Kadar zat-zat tersebut yang sangat tinggi dalam darah dapat mengindikasikan hepatitis. Tes darah juga dapat digunakan untuk mencari virus penyebab hepatitis. Adakalanya sampel sel hati diambil dengan memakai jarum (biopsi) dan diperiksa untuk menemukan tanda-tanda infeksi.
Hepatitis Virus
Para ilmuwan mengenali tujuh virus yang bisa menyebabkan hepatitis. Ini disebut virus hepatitis A, B, C, D, E, F dan G, atau HAV, HBV, dan seterusnya. Lebih dari 90% kasus hepatitis disebabkan HAV, HBV dan HCV.
Hepatitis virus bisa akut atau kronis. Akut berarti kita sakit selama beberapa minggu, tapi kemudian pulih. Hepatitis kronis berarti hati kita mungkin sudah terkena radang selama enam bulan atau lebih. Hepatitis kronis menetap di tubuh kita; kita dapat menulari orang lain, dan penyakit kita bisa menjadi aktif lagi.
HAV dan HEV merupakan penyakit akut dan tidak pernah menjadi kronis. Keduanya menular melalui kontak dengan tinja, baik secara langsung atau pun melalui makanan yang tersentuh oleh tangan yang tercemar.
HBV merupakan virus hepatitis yang paling umum. Infeksi ini bisa ditularkan di antara anggota keluarga, melalui hubungan seks, atau kontak dengan darah yang terinfeksi. Di Amerika Serikat, HBV berkembang menjadi kronis pada kurang-lebih 7 persen Odha yang terinfeksinya. Angka ini sudah jauh lebih rendah daripada masa sebelumnya. Penurunan ini sebagian diakibatkan oleh vaksinasi terhadap HBV. Hal ini juga berkat penggunaan terapi antiretorviral (ART) oleh Odha, terutama dengan 3TC yang juga efektif terhadap HBV. HBV jauh lebih berbahaya pada orang yang juga terinfeksi HIV.
HCV biasanya ditularkan melalui kontak dengan darah atau jarum yang tercemar. HCV bisa sangat ringan atau sama sekali tidak menunjukkan gejala, tetapi bisa menyebabkan kerusakan hati yang parah pada kurun waktu 10 tahun setelah infeksi awal. Hampir semua orang yang terinfeksi HCV dapat secara terus-menerus menularikan virus ini ke orang lain.
HDV hanya muncul pada orang dengan HBV. Penyakit pada orang yang terinfeksi HDV menjadi lebih parah dibandingkan orang yang hanya terinfeksi HBV.
HFV sangat jarang ditemukan dan belum dipahami dengan baik, bahkan ada para ilmuwan yang berpendapat bahwa HFV sebenarnya tidak ada.
HGV sebetulnya lebih tepat disebut sebagai virus GBV-C. Tampaknya, virus ini tidak menyebabkan penyakit. Infeksi GBV-C sangat umum terjadi pada Odha. Satu laporan mengatakan bahwa infeksi dengan GBV-C mungkin memperlambat perkembangan penyakit HIV. Namun Odha yang mengeluarkan infeksi GBV-C mengalami hasil yang lebih buruk.
Cara terbaik untuk mencegah virus hepatitis adalah dengan menjaga kebersihan dan menghindari hubungan langsung dengan darah orang yang terinfeksi. Kondom dapat membantu mencegah penularan HBV melalui hubungan seks. Selain itu, ada vaksin yang dapat melindungi terhadap HAV dan HBV.
Belum ada pengobatan yang efektif untuk HAV dan HEV, tapi kedua penyakit ini biasanya cepat sembuh. Interferonalfa dan dua obat anti-HIV – 3TC dan FTC – tampaknya membantu mengobati HBV dan HDV. Pada September 2002, Adefovir dipivoxil (Hepsera®) disetujui di AS untuk mengobati HBV. Ada beberapa obat baru yang diuji-coba untuk melawan HIV yang tampaknya juga dapat digunakan untuk mengobati HBV, HCV dan HDV.
Tipe Hepatitis Lain
Hepatitis yang disebabkan oleh alkohol, narkoba, obat-obatan, atau pun racun mengakibatkan gejala yang sama seperti hepatitis virus. Tugas hati adalah untuk menguraikan zat-zat yang terdapat dalam darah, dan beban dapat menjadi terlalu berat. Beberapa obat yang digunakan untuk memerangi HIV atau pun penyakit terkait AIDS bisa mengakibatkan hepatitis. Begitu juga dengan asetaminofen (nama merek antara lain Bodrex® dan Panadol®), obat penawar nyeri yang umum.
Pengobatan yang paling baik untuk tipe hepatitis ini adalah menghentikan penggunaan alkohol, narkoba atau obat-obatan yang mengganggu hati. Jika hepatitis disebabkan oleh infeksi oportunistik (IO) yang terkait AIDS maka IO itu harus ditangani agar hati bisa sembuh.
Masalah Pengobatan
Hati harus berfungsi dengan baik agar dapat menguraikan sebagian besar obatobatan. Obat yang tidak menyebabkan gangguan apa pun pada waktu hati kita sehat dapat membuat kita sakit parah bila kita mengalami hepatitis. Ini juga berlaku untuk alkohol, aspirin, jamu-jamuan, dan narkoba. Sebaiknya kita mengetahui dokter mengenai semua obat atau pun suplemen yang kita gunakan.
Pendekatan Alternatif
Dua jenis jamu tampaknya dapat menolong jenis hepatitis apa pun. Pertama adalah licorice (Glycyrrhiza glabra), sering kali diminum dalam bentuk kapsul atau sebagai teh. Sedangkan yang lain adalah 'widuri susu’'(milk thistle – Silybum marianum), digunakan dalam bentuk sari patinya atau teh. Bicaralah dengan dokter atau ahli jamu yang berpengalaman sebelum memakai kedua jenis jamu tersebut.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI505]
Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan virus hepatitis C (HCV). Penyakit ini disebarkan melalui darah yang terinfeksi HCV. HCV mudah menular bila pengguna narkoba memakai peralatan suntiknya bergantian. Lebih dari 80 persen pengguna narkoba suntikan terinfeksi HCV. Hepatitis C juga dapat disebarkan melalui hubungan seks.
HCV lebih mudah ditularkan dibanding HIV melalui darah yang tercemar. Di Indonesia, ada kurang-lebih 40 kali lebih banyak orang HCV-positif dibanding HIV-positif. Kita bisa terinfeksi HCV dan tidak menyadarinya. 15-30 persen orang memberantas HCV dari tubuhnya tanpa pengobatan. 70-85 persen lainnya mengembangkan infeksi kronis, dan virus ini bermukim dalam tubuhnya kecuali bila berhasil diobati. HCV mungkin tidak menyebabkan masalah selama kurang-lebih sepuluh tahun atau bahkan jauh lebih lama, tetapi HCV dapat mengakibatkan kerusakan hati parah yang menyebabkan hatinya gagal dan kematian.
Bagaimana HCV didiagnosis?
Setelah HCV merusak hati, tes darah akan menunjukkan hasil tes fungsi hati yang tidak normal. Tingkat SGPT dan SGOT dapat menjadi tanda adanya penyakit atau kerusakan hati.
Bahkan hasil tes fungsi hati normal, HCV mungkin sudah mulai merusak hati. Jika kita HIV, sebaiknya kita dites HCV, terutama jika kita pernah memakai peralatan suntik narkoba bergantian.
Tes darah untuk infeksi HCV termasuk tes antibodi HCV dan tes viral load. Tes ini serupa dengan tes HIV. Viral load HCV sering kali berjuta-juta. Hasil tes ini tidak meramal laju penyakit seperti viral load HIV. Tes antibodi HCV mungkin tidak menemukan infeksi HCV pada kurang-lebih 20 persen orang dengan HIV dan HCV. Odha dengan tes funsi hati yang abnormal sebaiknya mempertimbangkan untuk melakukan tes viral load HCV.
Beberapa dokter melakukan tes yang disebut biopsi, untuk menyakinkan adanya kerusakan hati kita. Sel hati diambil dengan jarum yang tipis, dan diperiksa dengan mikroskop. Biopsi adalah cara terbaik untuk mengetahui apakah hati kita rusak.
Bagaimana Hepatitis C diobati?
Infeksi HCV lebih mudah disembuhkan jika pengobatan dimulai sangat dini sejak terinfeksi. Sayangnya, tanda awal hepatitis tampaknya seperti flu. Sebagian besar kasus baru didiagnosis beberapa tahun setelah terinfeksi.
Langkah pertama dalam mengobati HCV adalah untuk menentukan jenis HCV. Ada enam jenis HCV yang diketahui, yang disebut "genotipe". Sebagian besar orang terinfeksi dengan genotipe 1. Beberapa orang terinfeksi genotipe 2 atau 3. Genotipe 1 lebih sulit diobati dibandingkan genotipe 2 atau 3.
Pengobatan umum untuk HCV adalah kombinasi obat interferon dan ribavirin. Interferon harus disuntikkan di bawah kulit tiga kali seminggu, dan ribavirin adalah pil yang dipakai dua kali sehari. Obat ini mempunyai efek samping yang parah, termasuk gejala serupa flu, lekas marah, depresi, dan kadar rendah sel darah merah (anemia) atau sel darah putih.
Ribavirin meningkatkan jumlah ddI dalam aliran darah, dan dapat meningkatkan efek samping ddI. Jangan memakai ribavirin sekaligus dengan AZT. Ribavirin dapat menyebabkan cacat lahir. Perempuan sebaiknya tidak memakainya selama enam bulan atau lebih sebelum menjadi hamil, atau selama kehamilan. Laki-laki sebaiknya tidak memakai ribavirin untuk sedikitnya enam bulan sebelum menghamili seorang perempuan.
Pada 2001, bentuk interferon baru yang disebut "pegylated interferon" disetujui untuk mengobati HCV. Jenis obat ini bertahan lebih lama dalam darah. Hanya satu suntikan dibutuhkan setiap minggu. Pegylated interferon tampaknya lebih kuat dari bentuk asli. Obat ini juga dipakai dalam kombinasi dengan ribavirin.
Pengobatan HCV biasanya berjalan selama 6-12 bulan, tergantung genotipe HCV. Setelah pengobatan, kurang-lebih 40% pasien dengan HCV genotipe 1 dan 80 persen pasien dengan genotipe 2 atau 3 mempunyai viral load HCV yang tidak dapat dideteksi. Ini berarti jumlah HCV dalam darahnya terlalu rendah untuk dideteksikan. Persentase ini berlaku untuk orang dengan HCV, tidak untuk orang yang juga terinfeksi HIV. Angka untuk Odha lebih rendah. Orang dengan viral load HCV yang masih dapat dideteksi setelah pengobatan mungkin perlu terus memakai interferon pada dosis lebih rendah, disebut "terapi pemeliharaan."
Beberapa unsur mempengaruhi keberhasilan pengobatan HCV. Anda akan lebih baik menanggapi pengobatan jika anda:
Dapatkah HCV Dicegah?
Belum ada vaksin untuk HCV. Cara terbaik untuk mencegah infeksi HCV adalah menghindari terkena darah yang terinfeksi HCV, misalnya tidak memakai peralatan suntik narkoba bergantian.
HCV dan HIV Bersama
Karena HIV dan HCV ditularkan melalui hubungan dengan darah yang terinfeksi, banyak orang terinfeksi kedua virus ini, yang disebut infeksi bersama atau koinfeksi. Koinfeksi menimbulkan masalah khusus. HCV mempersulit penyakit HIV. Ini kemungkinan karena hatinya rusak. Namun, HCV tampaknya tidak mengganggu terapi antiretroviral (ART).
Menangani infeksi HIV dan HCV secara bersamaan sangatlah. Kita sebaiknya memilih dokter yang mengetahui kedua penyakit tersebut.
Kesimpulan
Hepatitis C adalah masalah kesehatan yang parah. Jauh lebih banyak orang terinfeksi HCV dibanding HIV, tetapi mungkin mereka tidak mengetahuinya. Infeksi HCV dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan merusak hati sebelum menyebabkan gejala yang nyata.
Infeksi HIV dapat memperburuk HCV. HCV merusak hati, yang dapat mempersulit penggunaan obat HIV. Orang dengan HIV sebaiknya dites HCV. Pengobatan HCV dini akan lebih berhasil.
Pengobatan untuk orang yang terinfeksi HCV dan HIV memang rumit. Orang ini sebaiknya menemui dokter yang ahli kedua penyakit tersebut.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI505]