Jenis perawatan yang tersedia

Orang dengan HIV-positif tidak boleh putus asa. Terobosan-terobosan dalam pengobatan HIV terus berlangsung setiap hari. Tidak lama lagi anda pasti akan mendengar bahwa HIV telah dikalahkan. Maka kuatkan diri anda, dan untuk sementara belajarlah untuk hidup dengan HIV.

Imunisasi yang dianjurkan untuk HIV-positif dewasa

Informasi berdasarkan: (1) National Immunization Program Additional Information for Adolescent and Adult Vaccines. Centers for Disease Control Website. Tersedia di http://www.cdc.gov/nip/recs/adult-specinfo.htm. Diambil Maret 23, 2006, dan (2) Recommended Adult Immunization Schedule oleh Vaccine and Age Group. Centers for Disease Control Website. Tersedia di http://www.cdc.gov/nip/recs/adult-schedule.pdf. Diambil Maret 23, 2006.

 [Sumber: AIDSinfo]

 

Jenis Imunisasi
Penyakit Terkait
Dosis
Komentar dan Peringatan
Dianjurkan bagi semua orang dewasa HIV-positif
Virus Hepatitis B (HBV)
Hepatitis B
3 suntikan dalam periode 6 bulan
Dianjurkan kecuali terdapat bukti kekebalan atau hepatitis aktif. Tes darah untuk memastikan tingkat antibodi HBV diperlukan setelah rangkaian imunisasi berakhir. Suntikan tambahan mungkin dibutuhkan bila tingkat antibodi terlalu rendah.
Influenza
Flu
1 suntikan
Harus diberikan tiap tahun. Hanya vaksin flu suntik yang sebaiknya diberikan pada mereka yang HIV-positif. Vaksin semprot (FluMist/LAIV) sebaiknya tidak diberikan untuk populasi ini.
Cacar, mumps dan Rubella (MMR)

1. Cacar

2. Mumps

3. Rubella (Cacar Jerman)

1 atau 2 suntikan
Satu-satunya vaksin hidup yang dianjurkan untuk orang HIV positif dewasa. Orang yang lahir sebelum 1957 tidak perlu diberikan vaksin ini. Orang dewasa HIV positif dengan jumlah CD4 <200 sel/mm3, yang memiliki sejarah penyakit terkait AIDS, atau memiliki gejala klinis HIV tidak boleh menerima vaksin MMR. Tiap komponen dapat diberikan secara terpisah bila diperlukan untuk memperoleh tingkatan antibodi yang diperlukan.
Polysaccharide pneumococcal
Pneumonia
1 atau 2 suntikan
Sebaiknya diberikan begitu didiagnosa HIV, kecuali bila divaksinasi dalam 5 tahun terakhir. Bila jumlah CD4 <200 sel/mm3 ketika diberi vaksin, imunisasi harus diulang bila jumlah CD4 ≥200 sel/mm3. Ulangi tiap 5 tahun.
Tetanus dan Difteria Toksoid (Td)

1. Lockjaw

2. Difteri

1 suntikan
Ulangi tiap 10 tahun.
Dianjurkan bagi sebagian orang dewasa HIV-positif
Virus Hepatitis A (HAV)
Hepatitis A
2 suntikan dalam periode 1 atau 1.5 tahun
Dianjurkan untuk pekerja kesehatan, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, pengguna napza suntik, orang dengan penyakit lever kronis (termasuk hepatitis B atau C kronis), hemofilia, dan orang yang akan pergi ke beberapa tempat di dunia.
Vaksin kombinasi Hepatitis A/Hepatitis B (Twinrix)

1. Hepatitis A

2. Hepatitis B

3 suntikan dalam periode 1 tahun
Dapat digunakan pada mereka yang membutuhkan sekaligus imunisasi HAV dan HBV.
Haemophilus influenzae tipe B
Bakterial meningitis
1 suntikan
Orang dewasa HIV-positif beserta penyedia pelayanan kesehatan mereka perlu membahas apakah imunisasi Haemophilus influenzae diperlukan.
Meningococcal
Bakterial meningitis
1 suntikan
Dianjurkan bagi mahasiswa, tentara dan orang-orang yang bepergian ke beberapa tempat di dunia.
Tidak dianjurkan bagi orang dewasa HIV-positif
Anthrax
Anthrax
Vaksin smallpox dan varicella yang sekarang ada merupakan vaksin hidup. Kecuali vaksin MMR, vaksin hidup tidak dianjurkan bagi orang dengan HIV. Walaupun vaksin anthrax yang sekarang berlisensi tidak untuk vaksin hidup, Komite Penasehat untuk Praktik Imunisasi tidak menganjurkan vaksinasi rutin anthrax.
Smallpox
Smallpox
Varicella
Chicken pox
Varicella-zoster*
Shingles

* Imunisasi untuk orang dewasa usia 60 tahun atau lebih.

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/257

Komplikasi saraf terkait AIDS

AIDS adalah kondisi yang muncul pada kebanyakan infeksi HIV stadium paling lanjut. Diperlukan waktu bertahun-tahun sejak awal terjadinya infeksi HIV hingga menjadi AIDS.

Walaupun terutama merupakan kelainan sistem kekebalan, AIDS juga berdampak pada sistem saraf dan dapat mengakibatkan kelainan pada saraf.

 

Bagaimana AIDS berdampak pada sistem saraf?

Virus tampaknya tidak menyerang sel saraf secara langsung tetapi membahayakan fungsi dan kesehatan sel saraf. Peradangan yang diakibatkannya dapat merusak otak dan saraf tulang belakang dan menyebabkan berbagai gejala, contoh kebingungan dan pelupa, perubahan perilaku, sakit kepala berat, kelemahan yang berkepanjangan, mati rasa pada lengan dan kaki, dan stroke. Kerusakan motor kognitif atau kerusakan saraf perifer juga umum. Penelitian menunjukkan bahwa infeksi HIV secara bermakna dapat mengubah struktur otak tertentu yang terlibat dalam proses belajar dan pengelolaan informasi.

Komplikasi sistem saraf lain yang muncul akibat penyakit atau penggunaan obat untuk mengobatinya termasuk nyeri, kejang, ruam, masalah saraf tulang belakang, kurang koordinasi, sulit atau nyeri saat menelan, cemas berlebihan, depresi, demam, kehilangan penglihatan, kelainan pola berjalan, kerusakan jaringan otak dan koma. Gejala ini mungkin ringan pada stadium awal AIDS tetapi dapat berkembang menjadi berat.

Di AS, komplikasi saraf terlihat pada lebih dari 40% pasien AIDS dewasa. Komplikasi ini dapat muncul pada segala usia tetapi cenderung berkembang secara lebih cepat pada anak-anak. Komplikasi sistem kekebalan dapat termasuk penundaan pengembangan, kemunduran pada perkembangan penting yang pernah dicapai, lesi pada otak, nyeri saraf, ukuran tengkorak di bawah normal, pertumbuhan yang lambat, masalah mata, dan infeksi bakteri yang kambuh.

 

Komplikasi saraf apa yang terkait AIDS?

Kelainan sistem saraf terkait AIDS mungkin secara langsung disebabkan oleh HIV, oleh kanker dan infeksi oportunistik tertentu (penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus lain yang tidak akan berdampak pada orang dengan sistem kekebalan yang sehat), atau efek toksik obat yang dipakai untuk mengobati gejala. Kelainan saraf lain terkait AIDS yang tidak diketahui penyebabnya mungkin dipengaruhi oleh virus tetapi tidak sebagi penyebab langsung.

AIDS dementia complex (ADC), atau ensefalopati terkait HIV, muncul terutama pada orang dengan infeksi HIV lebih lanjut. Gejala termasuk ensefalitis (peradangan otak), perubahan perilaku, dan penurunan fungsi kognitif secara bertahap, termasuk kesulitan berkonsentrasi, ingatan dan perhatian. Orang dengan ADC juga menunjukkan pengembangan fungsi motor yang melambat dan kehilangan ketangkasan serta koordinasi. Apabila tidak diobati, ADC dapat mematikan.

Limfoma sususnan saraf pusat (SSP) adalah tumor ganas yang mulai di otak atau akibat kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain. Limfoma SSP hampir selalu dikaitkan dengan virus Epstein-Barr (jenis virus herpes yang umum pada manusia). Gejala termasuk sakit kepala, kejang, masalah penglihatan, pusing, gangguan bicara, paralisis dan penurunan mental. Pasien AIDS dapat mengembangkan satu atau lebih limfoma SSP. Prognosis adalah kurang baik karena kekebalan yang semakin rusak.

Meningitis kriptokokus terlihat pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang tidak diobati dan pada orang lain dengan sistem kekebalannya sangat tertekan oleh penyakit atau obat. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Cryptococcus neoformans, yang umum ditemukan pada tanah dan tinja burung. Jamur ini pertama-tama menyerang paru dan menyebar ke otak dan saraf tulang belakang, menyebabkan peradangan. Gejala termasuk kelelahan, demam, sakit kepala, mual, kehilangan ingatan, bingung, pusing dan muntah. Apabila tidak diobati, pasien meningitis kriptokokus dapat jatuh dalam koma dan meninggal.

Infeksi cytomegalovirus (CMV) dapat muncul bersamaan dengan infeksi lain. Gejala ensepalitis CMV termasuk lemas pada lengan dan kaki, masalah pendengaran dan keseimbangan, tingkat mental yang berubah, demensia, neuropati perifer, koma dan penyakit retina yang dapat mengakibatkan kebutaan. Infeksi CMV pada urat saraf tulang belakang dan saraf dapat mengakibatkan lemahnya tungkai bagian bawah dan beberapa paralisis, nyeri bagian bawah yang berat dan kehilangan fungsi kandung kemih. Infeksi ini juga dapat menyebabkan pneumonia dan penyakit lambung-usus.

Infeksi virus herpes sering terlihat pada pasien AIDS. Virus herpes zoster yang menyebabkan cacar dan sinanaga, dapat menginfeksi otak dan mengakibatkan ensepalitis dan mielitis (peradangan saraf tulang belakang). Virus ini umumnya menghasilkan ruam, yang melepuh dan sangat nyeri di kulit akibat saraf yang terinfeksi. Pada orang yang terpajan dengan herpes zoster, virus dapat tidur di jaringan saraf selama bertahun-tahun hingga muncul kembali sebagai ruam. Reaktivasi ini umum pada orang yang AIDS karena sistem kekebalannya melemah. Tanda sinanaga termasuk bentol yang menyakitkan (serupa dengan cacar), gatal, kesemutan (menggelitik) dan nyeri pada saraf.

Pasien AIDS mungkin menderita berbagai bentuk neuropati, atau nyeri saraf, masing-masing sangat terkait dengan penyakit kerusakan kekebalan stadium tertentu. Neuropati perifer menggambarkan kerusakan pada saraf perifer, jaringan komunikasi yang luas yang mengantar informasi dari otak dan saraf tulang belakang ke setiap bagian tubuh. Saraf perifer juga mengirim informasi sensorik kembali ke otak dan saraf tulang belakang. HIV merusak serat saraf yang membantu melakukan sinyal dan dapat menyebabkan beberapa bentuk neropati. Distal sensory polyneuropathy menyebabkan mati rasa atau perih yang ringan hingga sangat nyeri atau rasa kesemutan yang biasanya mulai di kaki dan telapak kaki. Sensasi ini terutama kuat pada malam hari dan dapat menjalar ke tangan. Orang yang terdampak memiliki kepekaan yang meningkat terhadap nyeri, sentuhan atau rangsangan lain. Pada awal biasanya muncul pada stadium infeksi HIV lebih lanjut dan dapat berdampak pada kebanyakan pasien stadium HIV lanjut.

Neurosifilis, akibat infeksi sifilis yang tidak diobati secara tepat, tampak lebih sering dan lebih cepat berkembang pada orang terinfeksi HIV. Neurosifilis dapat menyebabkan degenerasi secara perlahan pada sel saraf dan serat saraf yang membawa informasi sensori ke otak. Gejala yang mungkin baru muncul setelah puluhan tahun setelah infeksi awal dan berbeda antar pasien, termasuk kelemahan, refleks yang menghilang, jalan yang tidak mantap, pengembangan degenerasi sendi, hilangnya koordinasi, episode nyeri hebat dan gangguan sensasi, perubahan kepribadian, demensia, tuli, kerusakan penglihatan dan kerusakan tanggapan terhadap cahaya. Penyakit ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan. Penyakit ini umum biasa mulai pada usia setengah baya.

Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML) terutama berdampak pada orang dengan penekanan sistem kekebalan (termasuk hampir 5% pasien AIDS). PML disebabkan oleh virus JC, yang bergerak menuju otak, menulari berbagai tempat dan merusak sel yang membuat mielin - lemak pelindung yang menutupi banyak sel saraf dan otak. Gejala termasuk berbagai tipe penurunan kejiwaan, kehilangan penglihatan, gangguan berbicara, ataksia (ketidakmampuan untuk mengatur gerakan), kelumpuhan, lesi otak dan terakhir koma. Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan ingatan dan kognitif, dan mungkin muncul kejang. PML berkembang terus-menerus dan kematian biasanya terjadi dalam enam bulan setelah gejala awal.

Kelainan psikologis dan neuropsikiatri dapat muncul dalam fase infeksi HIV dan AIDS yang berbeda, dan dapat berupa bentuk yang beragam dan rumit. Beberapa penyakit misalnya demensia kompleks terkait AIDS yang secara langsung disebabkan oleh infeksi HIV pada otak, sementara kondisi lain mungkin dipicu oleh obat yang dipakai untuk melawan infeksi. Pasien mungkin mengalami kegelisahan, depresi, keingingan bunuh diri yang kuat, paranoid, demensia, delirium, kerusakan kognitif, kebingungan, halusinasi, perilaku yang tidak normal, malaise, dan mania akut.

Stroke yang disebabkan oleh penyakit pembuluh darah otak jarang dianggap sebagai komplikasi AIDS, walaupun hubungan antara AIDS dan stroke mungkin jauh lebih besar dari dugaan. Para peneliti di Universitas Maryland, AS melakukan penelitian pertama berbasis populasi untuk menghitung risiko stroke terkait AIDS dan menemukan bahwa AIDS meningkatkan kemungkinan menderita stroke hampir sepuluh kali lipat. Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi hubungan ini. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi HIV, infeksi lain atau reaksi sistem kekebalan terhadap HIV, dapat menyebabkan kelainan pembuluh darah dan/atau membuat pembuluh darah kurang menanggapi perubahan dalam tekanan darah yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah dan stroke.

Ensefalitis toksoplasma, juga disebut toksoplasmosis otak, muncul pada kurang lebih 10% pasien AIDS yang tidak diobati. Hal ini disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang dibawa oleh kucing, burung dan hewan lain yang dapat ditemukan pada tanah yang tercemar oleh tinja kucing dan kadang pada daging mentah atau kurang matang. Begitu parasit masuk ke dalam sistem kekebalan, ia menetap di sana; tetapi sistem kekebalan pada orang yang sehat dapat melawan parasit tersebut hingga tuntas, mencegah penyakit. Gejala termasuk ensefalitis, demam, sakit kepala berat yang tidak menanggapi pengobatan, lemah pada satu sisi tubuh, kejang, kelesuan, kebingungan yang meningkat, masalah penglihatan, pusing, masalah berbicara dan berjalan, muntah dan perubahan kepribadian. Tidak semua pasien menunjukkan tanda infeksi.

Mielopati vakuolar menyebabkan lapisan mielin yang melindungi untuk melepaskan diri dari sel saraf di saraf tulang belakang, membentuk lubang kecil yang disebut vakuol dalam serat saraf. Gejala termasuk kaki lemas dan kaku serta tidak berjalan secara mantap. Berjalan menjadi sulit dan penyakit semakin parah dan lama-kelamaan pasien membutuhkan kursi roda. Beberapa pasien juga mengembangkan demensia terkait AIDS. Mielopati vakuolar dapat berdampak pada hampir 30% pasien AIDS dewasa yang tidak diobati dan kejadiannya tersebut mungkin lebih tinggi pada anak yang terinfeksi HIV.

 

Bagaimana kelainan ini didiagnosis?

Berdasarkan hasil rekam medis pasien dan pemerikaan fisik secara umum, dokter akan melakukan pemeriksaan saraf secara menyeluruh untuk menilai berbagai fungsi saraf: kemampuan motor dan sensor, fungsi saraf, pendengaran dan berbicara, penglihatan, koordinasi dan keseimbangan, status kejiwaan, perubahan perilaku atau suasana hati. Dokter mungkin meminta tes laboratorium dan satu atau lebih tindakan di bawah ini untuk membantu diagnosis kerumitan neurologi terkait AIDS.

Pemetaan dibantu komputer dapat mengungkap tanda peradangan otak, tumor dan limfoma SSP, kerusakan saraf, perdarahan dalam, sumsum otak yang tidak biasa, dan kelainan otak lain. Beberapa tindakan pemetaan yang tidak menyakitkan dipakai untuk membantu diagnosis komplikasi neurologi terkait AIDS. 

 

Bagaimana kelainan ini diobati?

Tidak ada pengobatan tunggal yang dapat menyembuhkan komplikasi neurologi terkait AIDS. Beberapa kelainan membutuhkan terapi secara giat sementara lainnya diobati sesuai gejala.

Nyeri neuropati umumnya sulit dikendalikan. Obat beragam dari analgesik yang dapat dibeli tanpa resep dokter hingga obat antiepilepsi dan beberapa golongan antidepresan. Jaringan yang meradang dapat menekan saraf, menyebabkan nyeri. Peradangan dan kondisi otoimun yang mengakibatkan neuropati mungkin dapat diobati dengan kortikosteroid, dan tindakan misalnya plasmaferesis (atau cuci darah) dapat membebaskan darah dari unsur berbahaya yang menyebabkan peradangan.

Pilihan pengobatan untuk neuropsikiatri terkait AIDS dan HIV atau kelainan psikotik termasuk antidepresan dan antikejang. Psikostimulan mungkin juga memperbaiki gejala depresi dan melawan kelesuan. Obat antidemensia mungkin menghilangkan kebingungan dan memperlambat penurunan mental, dan benzodiazepin dapat diresepkan untuk mengobati kecemasan. Terapi psikologis juga dapat menolong beberapa pasien.

Terapi antiretroviral (ART) dipakai untuk mengobati demensia kompleks terkait AIDS, miopati vakuolar, PML, dan ensefalitis CMV. ART mengkombinasikan sedikitnya tiga jenis obat untuk mengurangi jumlah virus yang beredar dalam darah dan mungkin juga menunda permulaan beberapa infeksi.

Beberapa pilihan pengobatan saraf terkait AIDS termasuk terapi fisik dan rehabilitasi, terapi radiasi dan/atau kemoterapi untuk membunuh atau memperkecil tumor ganas di otak yang dapat disebabkan oleh HIV, obat antijamur atau antimalaria untuk melawan infeksi bakteri tertentu yang terkait dengan kelainan, dan penisilin untuk mengobati neurosifilis saraf.

 

Penelitian apa yang sedang dilakukan?

National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) di AS, salah satu bagian dari National Institutes of Health (NIH), mendukung penelitian dampak neurologis terkait AIDS. NINDS bekerja erat dengan lembaga rekanan National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), dengan tanggung jawab utamanya adalah meneliti HIV dan AIDS.

Beberapa proyek yang didukung oleh NINDS meneliti peran makrofag otak yang terinfeksi virus (sel yang biasanya bekerja melindungi infeksi) yang menyebabkan penyakit dalam SSP pada kera macaq dewasa. Fokus penelitian ini termasuk analisis gen dan meneliti molekul pengatur kekebalan saraf kunci yang diaktifkan dalam otak selama infeksi virus pada tingkat yang ditunjukkan sebagai toksik.

Beberapa model HIV pada hewan (termasuk tikus kecil, tikus besar dan kera) dipakai oleh ilmuwan untuk meneliti mekanisme penyakit dan perkembangan AIDS, dan penerima hibah NINDS bekerja mengembangkan model HIV baru. Beberapa proyek tergantung pada tikus dengan gabungan kerusakan kekebalan yang berat (kelompok kelainan yang diwariskan yang dicirikan oleh ketiadaan kerusakan sel yang bertanggung jawab untuk melindungi sistem kekebalan). Model ini memungkinkan para peneliti untuk mencangkok jaringan otak manusia yang dikembangkan dan biakan ke dalam otak tikus untuk memantau dan menilai kerusakan neurologi yang disebabkan oleh infeksi HIV. Penelitian lain memakai tikus kecil yang dikembangbiakkan untuk membawa gejala HIV. Penerima hibah NINDS memakai tikus ini untuk mengamati apakah otak dapat berfungsi sebagai perlindungan sel yang terinfeksi HIV yang dapat berpindah dan menginfeksi jaringan limfoma perifer.

NINDS juga mendukung penelitian mekanisme penyakit neurologis terkait kerusakan kekebalan pada pasien AIDS. Beberapa peneliti yang berbeda meneliti virus JC, yang dapat bereproduksi dalam otak pasien yang mengalami penekanan kekebalan dan menyebabkan PML, dan sebuah penelitian menentukan reseptor baru untuk virus JC. Penelitian lain tentang unsur infeksi termasuk penyelidikan tentang interaksi unsur jamur kriptokokus dengan pembuluh darah otak dan sebuah analisis neurosifilis pada pasien AIDS. Ilmuwan juga sedang meneliti dampak protein neurotoksik dan ART secara langsung terhadap sel saraf sebagai penyebab matinya sensor neuropati perifer.

Beberapa peneliti sedang meneliti demensia terkait AIDS dan perubahan kognitif pada HIV. Ilmuwan yang didukung NINDS memakai fMRI dan MRS untuk menilai fungsi otak dan segala kemunduran perilaku pada orang yang terdampak oleh HIV. Para peneliti berharap dapat lebih memahami bagaimana perkembangan kematian sel saraf mengakibatkan kerusakan kognitif dan demensia terkait AIDS. National NeuroAIDS Tissue Consortium, sebuah proyek yang didukung bersama oleh NINDS dan lembaga rekanan National Institute of Mental Health, mengumpulkan jaringan dari pasien AIDS yang menderita demensia dan komplikasi neurologis terkait infeksi HIV untuk diberikan pada para peneliti di seluruh dunia.

The Neurological AIDS Research Consortium dibentuk oleh NINDS pada 1993 untuk merancang dan melakukan uji coba klinis terhadap penyakit neurologis terkait HIV. Hingga kini, konsorsium ini telah mendukung penelitian fungsi neurologis terkait AIDS stadium lanjut dan pengobatan neuropati perifer terkait HIV, PML, dan infeksi CMV. Para peneliti konsorsium meneliti obat selegilin sebagai tambahan ART untuk demensia, dan riwayat alami penyakit neurologis pada HIV lanjut. Penelitian termasuk penelitian prosaptid terkontrol double-blind untuk pengobatan neuropati perifer terkait HIV, dan uji coba asetil-L-karnitin dan eritropoietin sebagai pengobatan untuk neuropati toksik tekait infeksi HIV.

Artikel asli: Neurological Complications of AIDS [Terjemahan diambil dari Yayasan Spiritia ]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/87

Mengenal hasil lab anda

oleh Sarah Biel-Cunningham, M.S.W.

Tes laboratorium berkala merupakan salah satu bagian terpenting dari perawatan kesehatan HIV. Tes laboratorium ini merupakan bagian dari perencanaan pengobatan yang berfungsi untuk memonitor perkembangan HIV dalam tubuh anda, selain juga memberi informasi untuk membantu dalam penentuan jenis rejimen pengobatan - apakah anda sudah layak memulai pengobatan, menghentikan atau mengubah pengobatan. Komitmen anda untuk secara berkala melakukan monitor hasil laboratorium sangatlah penting untuk dapat memegang kendali terhadap kesehatan anda. Banyak orang merasa perlu untuk mengetahui dan mengerti tentang aspek perawatan kesehatan ini untuk dapat menerima status HIV mereka.

Terdapat beberapa jenis tes laboratorium yang digunakan untuk memonitor HIV. Keempat tes yang paling umum adalah viral load, jumlah CD4, tes darah lengkap dan tes kimia darah. Keempat jenis tes ini adalah tes darah dan merupakan tes paling komprehensif yang ada untuk memonitor kesehatan seeorang dengan HIV. Tergantung dari kesehatan dan apakah anda sedang dalam rejimen pengobatan, kebanyakan dokter akan melakukan tes ini setiap tiga hingga enam bulan. Karena tes-tes ini digunakan untuk memonitor kesehatan anda secara keseluruhan dengan membandingkan dengan hasil-hasil tes yang lalu, sangatlah penting untuk mengetahui kapan anda pertama kali didiagnosa atau kapan anda memulai pengobatan dalam melakukan tes laboratorium sehingga terdapat titik awal untuk perbandingan.

Untuk membaca hasil tes anda, dalam ringkasan laporan biasanya anda dapat melihat daftar jenis tes yang dilakukan, hasil tes tersebut serta rentang angka referensi. Hasil tes biasanya dilaporkan dalam bentuk angka absolut yang diukur per unit tertentu atau dalam persentase, yang kemudian dapat dibandingkan dengan rentang angka referensi yang diberikan untuk jenis tes tersebut. Rentang angka referensi diperoleh dari sampling sejumlah orang-orang sehat untuk menentukan rentang rata-rata. Hasil tes seseorang seharusnya jatuh di antara angka rata-rata tersebut untuk dapat dianggap masuk dalam rentang - normal.

 

Viral load

Tes ini dilakukan untuk mengukur jumlah HIV dalam darah (kopi/mL). Terdapat dua jenis tes viral load: polymerase chain reaction (PCR) atau branched DNA (b-DNA). Dari ringkasan hasil tes anda dapat mengetahui jenis tes yang digunakan. Walaupun kedua tes ini memberikan kesimpulan yang hampir sama, hasil tes dari dua jenis tes laboratorium ini tidak sebanding. Karenanya, walaupun hasil kedua tes tersebut pada dasarnya memberikan informasi yang sama, sangatlah penting untuk hanya menggunakan salah satu agar memberikan perbandingan yang konsisten.

Tujuan dari tes ini adalah untuk mencapai atau sedekat mungkin mencapai tingkat tidak terdeteksi. Untuk tes viral load PCR, angka yang dianggap tidak terdeteksi adalah kurang dari 50 kopi HIV dalam darah, dan untuk tes viral load b-DNA, angka ini adalah kurang dari 400 kopi HIV dalam darah. Anda disarankan untuk melakukan tes viral load setiap tiga bulan. Butuh waktu antara empat hingga tujuh hari bagi laboratorium untuk memproses hasil tes ini.

 

Jumlah CD4

Tes ini mengukur jumlah sel CD4 (T sel) dalam tubuh anda, berdasarkan kesehatan sistim kekebalan tubuh anda. Fokus dari tes ini adalah untuk mengukur jumlah CD4 absolut. Jumlah CD4 absolut adalah jumlah sel CD4 yang ada dalam sistim kekebalan tubuh anda. Sel CD4 merupakan bagian dari sistim kekebalan tubuh yang bertugas untuk melawan infeksi dan juga merupakan sel-sel yang secara langsung menjadi sasaran HIV. Dalam perkembangannya, HIV mengambil alih sel CD4, memanfaatkan sel-sel ini untuk bereplikasi, dan dalam proses tersebut membunuh sel CD4 yang asli. Hal inilah mengapa tes jumlah CD4 menjadi indikator yang berguna untuk menentukan kesehatan sistim kekebalan tubuh. Semakin banyak jumlah sel CD4, semakin kuat sistim kekebalan tubuh anda. Biasanya seseorang yang hidup dengan HIV dianjurkan untuk memonitor jumlah CD4 mereka untuk memastikan jumlahnya di atas 200. Namun bila jumlah CD4 anda di bawah 200, anda dianjurkan untuk bekerjasama dengan dokter untuk memulai rejimen pengobatan atau melakukan perbaikan dalam rejimen obat yang kini anda konsumsi. Dengan tes jumlah CD4, anda dianjurkan untuk melakukan tes begitu anda dites positif HIV, kemudian secara berkala tiap tiga hingga enam bulan. Biasanya laboratorium butuh waktu dua minggu untuk memproses tes ini.

 

Tes darah lengkap

Tes ini mengukur tiap komponen dalam darah. Tes darah lengkap sangat penting karena beberapa jenis obat-obatan dapat menyebabkan rendahnya jumlah darah merah atau darah putih, yang kemudian dapat menyebabkan anemia atau kelainan darah lain. Tes ini mengukur jumlah sel darah putih, hemoglobin, hematocrit dan platelet dalam darah. Dengan menggunakan tes ini, jumlah sel darah putih yang tinggi dapat berarti tubuh melakukan perlawanan terhadap infeksi yang mungkin tidak terdeteksi; jumlah sel darah merah yang rendah dengan hemoglobin dan hematocrit bisa jadi merupakan anemia akibat konsumsi obat HIV; dan jumlah platelet yang rendah dapat mempengaruhi pembekuan darah. Tes ini berbeda dengan tes viral load atau tes jumlah CD4 karena tidak secara langsung memperlihatkan perkembangan berkenaan dengan HIV, tetapi tetap membantu dengan memonitor kesehatan keseluruhan seseorang. Dengan tes darah lengkap dianjurkan anda melakukan tes tiap tiga bulan bila anda dalam rejimen pengobatan. Bila anda tidak mengkonsumsi obat-obatan HIV, tes ini seharusnya menjadi bagian dari tes fisik tahunan anda. Tes ini butuh satu hari untuk diproses laboratorium.

 

Skrining kimia darah

Tes ini merupakan skrining umum untuk mengukur apakah organ-organ tubuh anda (jantung, hati, ginjal, pankreas), otot dan tulang, bekerja dengan benar dengan mengukur kimia-kimia tertentu dalam darah. Tes ini penting untuk mendeteksi infeksi atau efek samping obat. Salah satu fokus terpenting dalam tes ini adalah monitor ensim hati. Hati merupakan organ tubuh penting karena hati membantu memproses obat-obatan, dan karena obat-obatan ini menuntut lebih banyak dari hati anda, ada kemungkinan terjadi toksisitas hati yang dapat mempengaruhi kesehatan umum anda. Albumin, alkalin, fosfat dan bilirubin juga perlu dimonitor untuk memastikan hati anda bekerja dengan baik. Fokus penting lain adalah untuk memonitor tingkat lipid jantung anda. Tes ini membantu memonitor kolesterol LDL (kolesterol jahat), kolesterol HDL (kolesterol sehat) serta trigliserida. Mengenal jenis-jenis lipid ini sangatlah penting untuk membantu memonitor kemungkinan penyakit jantung. Tes kimia darah ini sebaiknya dilakukan setiap tiga bulan, hasilnya dapat diperoleh dalam dua atau tiga hari kerja.

Tes laboratorium merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan komprehensif anda dengan membantu memonitor perkembangan HIV dalam tubuh anda. Tes-tes ini dapat menjadi indikator untuk mendeteksi masalah-masalah kesehatan. Namun, ketika anda menggunakan hasil lab sebagai perbandingan dalam memonitor kesehatan anda, perlu juga untuk memahami bahwa suatu hasil tes yang tidak terduga belum tentu mengindikasikan adanya masalah kesehatan yang serius, yang lebih penting adalah untuk melihat tren dari hasil tes dalam jangka waktu tertentu, daripada hanya berpatokan pada satu hasil tes saja. Selain itu, terdapat banyak faktor dapat membuat hasil tes darah anda berbeda, ingatlah: bila anda tidak nyaman dengan tes darah pertama anda, minta dokter untuk mengulang tes. Penting untuk semua orang untuk memiliki pengertian umum tentang cara membaca ringkasan hasil tes laboratorium. Namun, lebih penting lagi untuk berbicara dengan dokter anda mengenai hasil lab anda dan minta kepadanya untuk mengartikan hasil tes dan bagaimana hasil tersebut dapat mempengaruhi perencanaan pengobatan anda.

[Sumber: TheBody.com]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/254

Nutrisi bagi HIV

Nutrisi yang baik membantu mempertahankan kekuatan sistim kekebalan tubuh anda, sehingga anda dapat lebih baik melawan penyakit. Diet yang baik memperbaiki kualitas hidup.

Kehilangan berat badan, wasting, serta malnutrisi tetap menjadi masalah dalam HIV, walaupun dengan pengobatan antiretroviral yang lebih efektif, dan dapat memberi andil bagi perkembangan penyakit HIV.

Nutrisi yang baik membantu tubuh memproses banyaknya obat-obatan yang harus dikonsumsi orang dengan HIV.

Diet (dan olah raga) dapat membantu mengatasi gejala-gejala seperti diare, mual-mual, dan kelelahan, serta juga dengan redistribusi lemak dan kelaian metabolis seperti gula darah, kolesterol, dan trigliserida tinggi.

 

Apa itu diet berkualitas tinggi?

Diet berkualitas tinggi merupakan diet yang banyak mengandung sayur-sayuran, buah-buahan, gandum-ganduman, serta biji-bijian, dengan sumber-sumber protein yang rendah lemak. Jenis makanan seperti ini padat nutrisi, dan akan lebih bermanfaat bagi kesehatan anda daripada kalori kosong yang diperoleh dari gula dan lemak.

Tips untuk membentuk diet berkualitas tinggi:

 

Protein

Protein merupakan bahan dasar dari otot, organ tubuh, serta dari banyak zat yang membentuk sistim kekebalan tubuh anda. Bila anda tidak menyediakan cukup banyak kalori dan protein melalui makanan, maka tubuh anda akan menggunakan proteinnya sendiri (otot) untuk mengganti kekurangan bahan bakar tersebut. Hal ini mengakibatkan kelemahan dalam tubuh dan sistim kekebalannya.

Jumlah asupan protein yang direkomendasikan (RDA) adalah 0.8-1.0 gram per kilogram berat badan untuk orang dewasa sehat. Lebih banyak protein dibutuhkan untuk mempertahankan atau membentuk berat badan ideal bagi orang dengan HIV, antara 1.2-2.0 g/kg berat badan. Asupan protein tidak boleh lebih dari 15-20% total kalori; diet protein yang sangat tinggi dapat mengakibatkan tekanan pada ginjal.

Daging sapi rendah lemak, daging unggas tanpa kulit, dan ikan merupakan sumber protein yang baik. Telur dan produk susu rendah lemak juga baik. Selain sumber protein hewani ini, anda juga dapat memperoleh protein dari biji-bijian (seperti kacang polong), dan kacang-kacangan. Sayur dan produk gandum seperti roti gandum, pasta, barley, dan beras mengandung jumlah protein yang rendah.

 

Karbohidrat

Karbohidrat memberi anda energi. Diet yang sehat adalah yang mengandung karbohidrat kompleks yang tinggi (gandum, produk gandum dan biji-bijian) serta mengandung karbohidrat simpel yang rendah (gula, permen, soft drink, cake, biskuit, es krim). Dalam kategori karbohidrat kompleks, biji-bijian dan gandum seperti tepung gandum, oat, barley, dan beras coklat merupakan sumber karbohidrat yang lebih baik daripada roti putih dan pasta, beras dan kentang. Jenis-jenis tersebut lebih tinggi kandungan nutrisi dan seratnya serta diserap lebih lamban oleh tubuh untuk menyediakan sumber glukosa yang lebih mapan, sehingga tubuh anda dapat tahan hingga saat makan berikutnya. Makanan-makanan sejenis ini dapat juga bermanfaat bagi orang dengan diabetes atau dengan kekebalan insulin.

 

Lemak

Lemak merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Asupan lemak yang dianjurkan adalah kurang dari 30% (25% lebih baik) dari total asupan kalori per harinya, namun jenis lemak yang diasup juga berpengaruh. Lemak jenuh meningkatkan risiko penyakit jantung (CVD). Orang dengan HIV dapat mengalami kolesterol dan trigliserida tinggi akibat obat-obatan, sehingga harus berhati-hati terhadap CVD. Asam lemak Omega-3 (sejenis lemak tak jenuh ganda), yang ditemukan dalam ikan dan jenis makanan lain, memberi perlindungan terhadap CVD.

LEMAK JENUH:
Anjuran: 7% atau kurang dari total asupan kalori.
Sumber makanan: daging berlemak, daging unggas dengan kulit, butter, makanan bersumber susu, serta minyak kelapa dan kelapa sawit.

LEMAK TAK JENUH TUNGGAL:
Anjuran: 10% atau lebih dari total asupan kalori.
Sumber makanan: biji-bijian, minyak kanola dan olive, alpukat, dan ikan.

LEMAK TAK JENUH GANDA:
Anjuran: 10% atau kurang dari total asupan kalori.
Sumber makanan: ikan, walnut, biji dan minyak flax, serta jagung, kacang kedelai, minyak bunga matahari dan safflower.

 

Berapa kalori yang saya butuhkan?

Kalori merupakan energi dalam makanan. Kalori menyediakan bahan bakar bagi tubuh untuk tetap bekerja. Bila anda HIV-positif, anda perlu meningkatkan jumlah makanan yang anda konsumsi untuk mempertahankan berat badan ideal anda. Anda paling tidak membutuhkan 34-40 kalori per kilogram berat tubuh ideal. Namun kebutuhan kalori anda akan lebih meningkat pada saat infeksi dan demam.

Ingat bahwa kalori yang berasal dari makanan yang sehat dan padat nutrisi akan lebih bermanfaat bagi kesehatan anda daripada kalori dari gula dan lemak.

 

Kesimpulan

Panduan diet umum terhadap jumlah asupan harian yang dianjurkan untuk:

 

Suplemen gizi

Bila anda kehilangan berat badan dan tidak memiliki sumber makanan yang memadai, bicarakan dengan dokter anda mengenai penambahan suplemen gizi. Namun sebisa mungkin makan diet berkualitas tinggi yang padat nutrisi untuk meningkatkan berat badan.

Orang dengan HIV tidak selalu makan 100% dari nutrisi yang dianjurkan per hari. Mengkonsumsi satu atau dua tablet multivitamin/mineral (tanpa extra iron) dapat melengkapi paling tidak 100% dari nutrisi yang dianjurkan per harinya. Selalu informasikan dokter anda mengenai suplemen yang anda gunakan.

Diambil dari “Building a High Quality Diet" oleh Margo Woods, DSc, Emily Potts, MSc, and Joan Connors, DMin, RD [Sumber: Tufts University School of Medicine]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/29

Olahraga

Olahraga membantu banyak orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Odha) untuk merasa lebih sehat dan mungkin memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Olahraga tidak dapat mengendalikan atau melawan penyakit HIV, tetapi dapat membantu kita merasa lebih sehat dan melawan berbagai dampak dari HIV dan efek samping obat-obatan yang dipakai oleh Odha.

 

Apa manfaat olahraga?

Olahraga yang tidak terlalu berat dan dilakukan secara berkala memberi manfaat yang sama pada Odha seperti pada orang lain. Olahraga dapat:

 

Apakah risiko olahraga?

 

Pedoman olahraga untuk Odha

Jangan berlebihan
Program olahraga yang sedang akan membantu tubuh anda mengubah makanan menjadi otot. Tenang saja, dan padukan olahraga ke dalam kegiatan sehari-hari.

Tingkatkan program olahraga anda sedikitnya 20 menit, sedikitnya tiga kali seminggu, asal anda merasa lebih baik. Jadwal ini dapat membuat tingkat kesehatan anda meningkat dan anda dapat merasa lebih baik.

Odha dapat meningkat kesehatan jasmaninya melalui jenis pelatihan yang sama seperti orang HIV-negatif. Namun Odha mungkin mengalami kesulitan yang lebih besar untuk melanjutkan program pelatihan akibat kelelahan.

Mulailah program olahraga saat masih sehat. Hal ini dapat membantu anda menjauhkan gejala HIV yang akan mengakibatkan anda merasa kurang enak. Upayakan untuk sering memperbarui program olahraga agar tidak menjadi bosan. Cari cara baru untuk tetap termotivasi untuk olaraga.

Tingkat kesehatan jasmani anda mungkin lebih rendah daripada dahulu. Sangat penting bagi anda untuk meningkatkan progam olahraga secara bertahap agar tidak menimbulkan penyakit.

 

Makan dan minum secara benar
Minum cairan yang cukup sangat penting pada saat anda berolahraga. Air tambahan dapat membantu mengganti cairan yang hilang. Ingatlah bahwa meminum teh, kopi, kola, coklat atau alkohol justru dapat menghilangkan cairan tubuh.

Jangan makan saat berolahraga. Sebetulnya setelah makan besar, sebaiknya anda menunggu dua jam sebelum berolahraga. Dan setelah berolahraga, sebaiknya anda menunggu satu jam sebelum makan besar berikut.

Gizi yang tepat juga penting. Dengan badan lebih banyak bergerak, anda mungkin membutuhkan lebih banyak kalori agar menghindari kehilangan berat badan.

 

Pilih olahraga yang anda sukai
Memilih kegiatan olahraga yang anda sukai. Apakah yoga, jogging, bersepeda, atau olahraga lain, melakukan sesuatu yang disenangi akan membantu anda tetap mengikuti program. Jangan sampai bosan! Ubah kegiatan anda bila dibutuhkan untuk tetap termotivasi.

Jika tingkat kesehatan jasmani anda tinggi, anda dapat mengikuti olahraga bertanding. Keterlibatan dalam olahraga bertanding tidak berisiko menularkan HIV pada atlet lain atau pelatih.

Bila anda terluka dan berdarah, risiko menularkan HIV pada orang lain sangat kecil. Namun bila anda berdarah waktu olahraga, anda sebaiknya berhenti bermain sehingga luka dapat ditutupi.

 

Olahraga dengan beban
Olahraga angkat besi atau beban adalah salah satu cara terbaik untuk meningkat massa tubuh yang mungkin hilang akibat penyakit HIV dan penuaan. Angkat beban tiga kali seminggu untuk satu jam cukup bila dilakukan dengan baik. Menggabungkan angkat beban dengan olahraga kardiovaskular (jantung/sistem aliran darah) selama 30 menit merupakan cara terbaik untuk memperbaiki susunan tubuh dan mengurangi lemak (lipid) dan gula dalam darah. Olahraga kardiovaskular berarti melatih kelompok otot yang besar secara terus-menerus untuk sedikitnya 30 menit. Kegiatan seperti berjalan kaki cepat, jogging, bersepeda atau berenang dapat menjadi olahraga kardiovaskular.

 

Kesimpulan

Olahraga dapat meningkatkan energi, melawan kelelahan dan depresi, meningkatkan daya tahan dan kesehatan kardiovaskular, membantu mengurangi stres dan mendorong kekuatan otot. Ada anggapan juga bahwa olahraga dapat meningkatkan kesehatan sistem kekebalan tubuh.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI802] 

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/30

Vitamin dan kemungkinan efek sampingnya

Vitamin A dan beta-karotene:
Mungkin merupakan vitamin yang paling toksik. Dalam dosis tinggi (lebih dari 25,000 IU per hari) toksisitas lebih mungkin terjadi, termasuk hilangnya nafsu makan, hilangnya berat badan, perubahan bentuk tulang, tulang retak secara tiba-tiba, perdarahan dalam, keracunan hati dan cacat lahir.

Vitamin B-6 (pyridoxine):
Neuropati reversible dilaporkan terjadi pada orang yang menggunakan dalam dosis tinggi (500mg hingga 6 gram per hari) dalam waktu yang lama. Bagi orang yang telah mengalami efek samping yang berhubungan dengan dosis tinggi ini, mereka akan kembali mengalaminya bahkan ketika menggunakan dosis serendah 50mg per hari (RDA vitamin ini adalah 2mg/hari).

Vitamin B-12:
Dalam beberapa kasus yang sangat jarang, telah dilaporkan terjadi reaksi alergi.

Folat:
Dosis tinggi telah diasosiasikan dengan kurangnya penyerapan zinc dan diketahui dapat menyamarkan gejala kekurangan vitamin B-12.

Vitamin C:
Dosis tinggi dapat menyebabkan diare dan gangguan pencernaan. Formula yang terbuffer telah tersedia dan mungkin dapat mengurangi masalah perut. Orang dengan sejarah batu ginjal sebaiknya konsultasi dokter sebelum mengkonsumsi dosis tinggi.

Vitamin D:
Potensial untuk sangat toksik, dapat mengakibatkan lesi tulang. Toksisitas dilaporkan terhadap suplemen tunggal dengan dosis sangat tinggi.

Thiamin:
Dosis intravena yang sangat tinggi diketahui mengakibatkan mabuk, sakit kepala, kejang-kejang, lemah otot, kelumpuhan dan masalah jantung.

Biotin:
Tidak ada laporan toksisitas

Vitamin E:
Pada dosis lebih dari 1,000mg (1,500 IU) dapat mengganggu bekunya darah. Penggunaan yang berkelanjutan dalam dosis tinggi (800-3,200mg/hari) telah diasosiaikan dengan mual-mual, diare, lemah oto dan kelelahan.

Riboflavin:
Tidak ada laporan toksisitas.

Asam Pantothenic:
Tidak ada laporan toksisitas pada manusia.

Vitamin K:
Tidak ada laporan toksisitas pada dosis hingga 500 kali dosis anjuran per hari (0.5mg/kg/hari).

Niasin:
Toksisitas dapat berhubungan dengan formulasinya. Asam nikotinik dapat menimbulkan gatal-gatal, mual-mual, diare dan muntah-muntah pada dosis hingga 2-4g/hari. Toksisitas ini sangat jarang terjadi terhadap nikotinamide. Dalam dosis tinggi, efek samping yang tidak umum namun lebih serius dapat meliputi kerusakan hati, penyakit otot, masalah pandangan, tekanan darah rendah, penyakit jantung, dan masalah pada beku darah.

[Sumber: Project Inform]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/237

Vitamin dan zat mineral

Vitamin dan zat mineral biasa disebut juga nutrisi mikro. Tubuh anda hanya memerlukan nutrisi mikro dalam jumlah sedikit untuk mendukung reaksi kimia yang diperlukan oleh sel tubuh agar dapat hidup. Berbagai macam nutrisi dapat berdampak pada pencernaan, sistem susunan saraf, pikiran, dan proses tubuh yang lain.

Nutrisi mikro terkandung dalam banyak bahan makanan. Orang yang sehat mungkin mendapatkan cukup vitamin dan zat mineral dari makanannya saja. Odha atau orang dengan penyakit lain membutuhkan lebih banyak nutrisi mikro untuk membantu memperbaiki dan memulihkan sel yang rusak. Selain itu, beberapa jenis obat dapat menyebabkan kekurangan berbagai jenis nutrisi.

 

Apa itu Antioksidan?

Beberapa molekul dalam tubuh adalah dalam bentuk yang disebut teroksidasi. Molekul ini juga dikenal sebagai radikal bebas (free radical). Molekul ini bereaksi secara mudah dengan molekul lain, dan dapat merusak sel tubuh. Kadar radikal bebas yang tinggi tampaknya menyebabkan banyak kerusakan yang berkaitan dengan proses penuaan.

Radikal bebas diproduksi sebagai bagian dari reaksi kimia normal tubuh. Antioksidan merupakan molekul yang dapat menghambat radikal bebas bereaksi dengan molekul lain. Ini membatasi kerusakan yang dilakukan oleh radikal bebas. Ada beberapa macam nutrisi yang merupakan antioksidan.

Antioksidan penting bagi Odha, karena infeksi HIV mempertinggi tingkat radikal bebas. Lagi pula radikal bebas dapat memacu kegiatan HIV. Pada tingkat yang lebih tinggi antioksidan dapat memperlambat penggandaan HIV dan membantu memperbaiki sebagian kerusakan yang disebabkan oleh virus tersebut.

 

Berapa banyak yang anda butuhkan?

Mungkin anda berpikir bahwa anda dapat memperoleh cukup vitamin dan zat mineral dengan mengkonsumsi pil multivitamin satu kali sehari. Sayangnya, tidak semudah itu. Jumlah nutrisi mikro dalam kebanyakan pil tersebut dibuat berdasarkan pada kebutuhan diet yang dianjurkan (Recommended Dietary Allowances/RDA), yang disusun oleh pemerintah Amerika Serikat.

Masalah dengan RDA adalah bahwa jumlah nutrisi yang ditetapkan RDA tidak cocok bagi Odha. Sebaliknya, anjuran RDA merupakan jumlah minimal untuk mencegah kekurangan gizi bagi orang yang sehat. Penyakit HIV dan beberapa obat AIDS dapat menghilangkan beberapa nutrisi. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa Odha membutuhkan nutrisi dengan jumlah enam sampai 25 kali RDA. Namun, sebuah pil multivitamin yang sangat manjur merupakan cara yang baik untuk memperoleh nutrisi mikro dasar.

 

Nutrisi mana yang penting?

Belum ada banyak penelitian yang dilakukan mengenai nutrisi tertentu terkait dengan penyakit HIV. Namun satu penelitian menunjukkan bahwa perempuan hamil di Tanzania mendapatkan manfaat besar dari suplemen multivitamin. Juga, banyak nutrisi yang saling berinteraksi. Kebanyakan ahli gizi menganjurkan untuk merencanakan program tambahan nutrisi secara menyeluruh.

Odha dapat memperoleh manfaat dengan memakai tambahan vitamin dan zat mineral seperti berikut:

 

Bagaimana dengan zat tambahan lain?

Selain vitamin dan zat mineral, beberapa ahli gizi menyarankan Odha untuk memakai tambahan nutrisi lain:

 

Apakah nutrisi suplemen dapat berbahaya?

Kebanyakan vitamin dan zat mineral tampaknya aman sebagai suplemen, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang dianjurkan oleh RDA. Namun sebagian diantaranya dapat menyebabkan masalah jika dikonsumsi dalam dosis yang tertalu tinggi, termasuk vitamin A, vitamin D, niasin, dan zat tembaga, besi, selenium, dan seng.

Program dasar tambahan vitamin dan zat mineral seharusnya aman. Ini meliputi yang berikut (semua yang sesuai dengan petunjuk yang ada di kemasan):

Program tambahan lain sebaiknya dibahas dahulu dengan dokter atau ahli gizi. Ingat bahwa harga mahal bukan berarti mutu semakin tinggi.

[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI601] 

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/33