Bagian ini, kadang juga disebut pendekatan holistik, dapat terdiri dari berbagai pendekatan komplementer. Ini termasuk pengurangan stress, pijat, visualisasi, yoga dan relaksasi, dukungan emosional dan spiritual, pengobatan alamiah, dsb. Namun bila digunakan sendirian, pendekatan-pendekatan ini tidak akan menyelesaikan masalah. Sayangnya, beberapa promotor pendekatan komplementer seringkali menekan, memaksa orang untuk menggunakan pendekatan-pendekatan mereka dan meninggalkan yang lain, bahkan juga pengobatan yang direkomendasikan dokter. Bila digunakan seperti ini, terapi penunjang akan merusak dan bahkan membuat orang enggan mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Para promotor yang terbaik adalah mereka yang melihat terapi ini sebagai kompleter dari terapi-terapi lain dan bukan sebagai pengganti.
Perawatan kesehatan yang tidak termasuk dalam standar praktek pengobatan barat disebut "alternatif" atau "komplementer". Ini termasuk berbagai jenis terapi:
Beberapa penyedia layanan kesehatan suka menggunakan terapi alternatif bersamaan dengan pengobatan barat. Mereka berpendapat terapi alternatif dapat mengurangi stress, meringankan beberapa efek samping obat antiretroviral (ARV), atau memiliki manfaat lainnya.
Beberapa penyedia layanan kesehatan tidak suka terapi alternatif. Mereka berpendapat bahwa belum ada penelitian yang cukup terhadap terapi alternatif. Mereka berpendapat obat-obatan barat selalu memberi hasil yang lebih baik kepada para pasien.
Terapi komplementer dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya. Kata-kata "alami" atau "bukan bahan kimia" tidak menjamin keamanan. Beberapa jenis jamu dapat menurunkan kadar darah ARV. Konsumen harus berhati-hati dalam menggunakan terapi komplementer.
Sangatlah sulit untuk memperoleh informasi yang tepat mengenai terapi komplementer. Cari informasi sebanyak-banyaknya sebelum menggunakan terapi komplementer. Cari tahu mengenai:
Terkadang informasi ini benar-benar tidak tersedia. Namun berhati-hatilah bila sepertinya orang tidak ingin menjawab pertanyaaan anda. Anda mungkin berhadapan dengan penipu kesehatan.
Kebanyakan penelitian menguji pengobatan bagi penyakit atau kondisi tertentu. Tiap pasien memperoleh pengobatan yang sama. Terkadang terapi kompletenter tidak memiliki standar, sehingga membuatnya sulit untuk diteliti.
Terapi alternatif tidak selalu dirancang untuk mengobati penyakit tertentu: Beberapa terapi alternatif merawat orang secara keseluruhan, bukan suatu penyakit tertentu. Terapi ini mungkin dapat mengembalikan keselarasan, keseimbangan, atau menormalkan aliran energi. Misalnya, ahli akupuntur memanfaatkan denyut nadi untuk menentukan apakah energi tubuh anda tidak seimbang. Akupuntur bagi orang dengan HIV dilakukan berdasarkan pola energi individu, dan tidak berdasarkan HIVnya. Para terapis seperti ini mungkin dapat membantu orang dengan HIV, namun tidak untuk mengobati HIV.
Sangat sedikit terapi komplementer memiliki standar: Jamu-jamuan dengan merek yang berbeda dapat memiliki jumlah kandungan aktif yang berbeda pula. Chiropractic, akupuntur, dan terapi lainnya tidak memiliki standar. Mereka dirancang berdasarkan kondisi tiap pasien. Penelitian akan sangat sulit bila pengobatan tidak berdasarkan suatu standar.
Penelitian sangat mahal: penelitian ilmiah sangat mahal biayanya. Pembuat terapi alternatif seringkali tidak mampu untuk membayar untuk sebuah penelitian ilmiah. Pemerintah lebih cenderung untuk mendanai penelitian obat-obatan barat karena sepertinya lebih efektif. Dengan hak paten, para produsen dapat memperoleh keuntungan yang membantu mendanai penelitian. Sedangkan kebanyakan terapi komplementer tidak dapat dipatenkan.
Halangan-halangan ini bukan berarti tidak ada terapi komplementer yang secara sukses diteliti.
Diskusikan dengan penyedia layanan kesehatan anda mengenai bagaimana anda ingin menangani infeksi HIV anda. Informasikan mengenai segala jenis terapi yang anda lakukan. Hal ini sangat penting bila anda mengalami reaksi buruk dari pengobatan yang anda konsumsi. Mungkin ada terapi komplementer yang tidak boleh digunakan bersamaan dengan ARV. Misalnya, beberapa jenis jamu dapat menurunkan tingkat ARV.
Teliti mengenai sikap dan pengetahuan penyedia layanan kesehatan anda mengenai terapi komplementer. Idealnya, penyedia layanan kesehatan memiliki pikiran yang terbuka dan bersedia membantu anda mempertimbangkan terapi alternatif yang menarik perhatian anda.
Banyak orang dengan HIV memanfaatkan terapi alternatif atau komplementer. Beberapa terapi komplementer bisa berbahaya. Lainnya aman untuk digunakan. Beberapa telah melalui penelitian dan dapat memperbaiki kesehatan anda.
Sulit untuk meneliti terapi komplementer. Cari tahu sebanyak mungkin mengenai terapi komplementer sebelum anda mulai menggunakannya. Informasikan penyedia layanan kesehatan anda mengenai jenis-jenis terapi yang anda lakukan.
[Sumber: AIDS InfoNet]
Setiap jenis herba memiliki kemungkinan menyebabkan efek samping. Untuk sebagian orang, resikonya kecil dan hanya terjadi bila herba tersebut digunakan dalam jumlah yang banyak atau selama waktu yang panjang. Bagi orang lain, efek samping yang parah dan mengancam nyawa terjadi bahkan pada dosis yang sangat rendah dan sekali minum.
Seorang praktisi herba yang baik akan membahas mengenai resiko potensial dari efek samping serta interaksi antara herba-obat. Namun hal ini bukan berarti anda tidak mendiskusikan interaksi dan efek samping ini dengan dokter dan ahli farmasi anda.
Untuk melihat daftar herba dan efek samping yang telah diketahui, anda dapat klik http://www.projectinform.org/fs/herbs_g.html
Daftar tersebut tidak komprehensif. Apabila anda tidak mendapatkan herba yang anda gunakan dalam daftar tersebut, bukan berarti tidak ada efek samping dari penggunaannya. Banyak sumber lain di Internet dan tempat-tempat lain yang mungkin lebih lengkap informasinya. Selain sumber di atas, anda bisa lihat di www.personalhealthzone.com/herbsafety.html.
[Sumber: Project Inform ]
Praktisi tradisional banyak memanfaatkan jamu-jamuan. Bagian ini membahas jamu sebagai bagian dari pengobatan tradisional Cina.
Pengobatan tradisional Cina memiliki sejarah lebih dari 2,500 tahun. Pengobatan tradisional ini melihat tubuh manusia sebagai suatu sistim aliran energi. Ketika aliran-aliran energi ini seimbang, maka tubuh tersebut sehat. Para praktisi memeriksa denyut nadi pasien dan mengamati keadaan lidah mereka untuk mendiagnosa ketidakimbangan energi. Dalam pengobatan Cina, denyut nadi dapat diperiksa pada tiga lokasi di masing-masing pergelangan tangan, dan pada tiga kedalaman pada masing-masing lokasi.
Penyakit tidak didefinisikan dengan gejala-gejala atau nama penyakit seperti "infeksi HIV". Sebaliknya, seorang praktisi pengobatan Cina akan berbicara mengenai ketidakimbangan energi. Bahasanya dapat kedengaran sangat aneh, seperti "kekurangan yin" atau "peningkatan panas ginjal". Kata-kata Cina yin dan yang menggambarkan energi yang saling bertolak-belakang yang seharusnya tetap seimbang, dan Qi (dibaca "chi") secara kasar dapat diartikan sebagai energi atau kekuatan hidup.
Dalam pengobatan tradisional Cina, terdapat banyak cara untuk memperbaiki keseimbangan aliran energi tubuh. Teknik yang paling sering digunakan di negara-negara barat adalah teknik senam seperti Qigong atau Tai Chi, akupuntur (tusuk jarum), dan jamu.
Banyak praktisi pengobatan Cina mengkhususkan diri pada akupuntur atau jamu. Sangat jarang yang menggunakan keduanya.
Jamu-jamuan cina tidak dapat mengobati infeksi HIV. Namun, banyak orang yang percaya bahwa jamu-jamuan tersebut telah membantu mereka memperbaiki energi secara keseluruhan, atau membantu menangani efek samping pengobatan antiretroviral (ARV). Beberapa orang telah menggunakan jamu untuk mengurangi rasa mual atau diare yang diakibatkan oleh pengobatan ini.
Secara umum, seorang ahli jamu meracik ramuan yang khusus untuk masing-masing pasiennya, berdasarkan aliran dan ketimpangan energi orang tersebut. Namun, beberapa praktisi pengobatan tradisional Cina melihat adanya corak "racun panas" yang sama pada ketimpangan energi orang dengan penyakit HIV lanjut. Karena penekanan pengobatan Cina pada hidup panjang dan peningkatan kekebalan, mereka merasa beberapa racikan jamu dapat membantu siapa saja dengan HIV.
Berdasarkan ketimpangan energi anda, ahli jamu anda mungkin akan meracik sebuah kombinasi jamu-jamuan untuk anda gunakan. Pengertian Cina mengenai jamu dapat termasuk berbagai bagian tumbuh-tumbuhan serta juga mineral dan bagian-bagian tubuh hewan. Jamu-jamuan ini dapat tersedia dalam berbagai bentuk:
Jamu-jamuan Cina diresepkan untuk memperbaiki ketimpangan energi. Anda mungkin dapat merasa lebih baik atau gejala-gejala mungkin dapat hilang karenanya, namun cara yang paling baik untuk mengetahui kapan untuk berhenti atau beralih jamu yang anda gunakan adalah dengan berkonsultasi dengan ahli jamu anda.
Kebanyakan jamu yang digunakan pada pengobatan tradisional Cina aman dalam dosis yang berbagai macam. Namun, beberapa mungkin tidak aman atau diproduksi secara benar. Sebagai contoh, pada tahun 2003 FDA Amerika Serikat melarang beredarnya beberapa produk termasuk jamu Ma Huang (ephedra). Beberapa jamu mungkin beracun pada dosis tinggi, atau mungkin tidak baik dikonsumsi selama kehamilan. Cara yang paling aman untuk menggunakan jamu Cina adalah sesuai dengan petunjuk ahli jamu yang terlatih. Pastikan anda informasikan ahli jamu dan dokter anda bila mengalami diare, sakit kepala, atau masalah lain saat menggunakan jamu.
Hampir tidak ada penelitian yang terkontrol dilakukan mengenai interaksi khusus antara jamu-jamuan Cina dengan terapi lain, termasuk ARV. Tidak ada informasi mengenai interaksi yang berbahaya.
Sebaiknya anda menginformasikan mengenai semua jenis terapi yang anda gunakan kepada praktisi kesehatan anda. Dalam beberapa kasus, obat-obatan barat dan jamu-jamuan Cina mungkin memiliki efek yang serupa, dan mengkombinasikan keduanya mungkin akan kelebihan. Contohnya, mungkin bukan ide yang baik untuk menggunakan jamu Cina yang dapat membantu menenangkan anda dengan obat tidur secara sekaligus.
Terdapat beberapa jurnal ilmiah yang membahas penelitian terhadap manfaat kesehatan jam-jamuan Cina. Namun hampir semuanya dipublikasi di Cina.
Penelitian mengenai pengobatan HIV dengan jamu Cina telah memperoleh hasil yang berbeda-beda. Namun, biasanya penelitian ini mengenai jamu-jamuan Cina sebagai ARV. Baru-baru ini jamu digabungkan dengan ARV. Beberapa ahli jamu percaya bahwa penggunaan jamu yang paling baik adalah untuk membantu mengurangi efek samping ARV, dan secara umum untuk memperkuat sistim kekebalan tubuh.
[Sumber: AIDS InfoNet]
Kurkuma adalah semacam jamu yang dibuat dari tanaman Curcuma domestica atau Curcuma longa, dari familia (jenis) Zingiberaceae. Jenis lain dalam familia ini termasuk Curcuma xanthorrhizae, yang lebih dikenal sebagai temu lawak, Curcuma heyneana atau temu giring, dan Curcuma aeruginosarhizome, dan biasanya bagian ini yang dipakai untuk membuat jamu. atau temu hitam. Semuanya mempunyai macam akar yang disebut sebagai rimpang (rhizome), dan biasanya bagian ini yang dipakai untuk membuat jamu.
Temu giring dan temu hitam paling sering dipakai untuk pengobatan cacingan. Kurkuma dan temu lawak lebih sering dipakai oleh Odha, dan adalah kandungan dalam kapsul Hepasil, yang dipasarkan oleh Kalbe Farma sebagai 'hepaprotektor'.
Kurkuma lebih dikenal dalam dapur sebagai kunyit. Kunyit adalah bumbu makan kari, sering juga disebut sebagai turmeric.
Kandungan aktif kunyit adalah senyawa kimia yang disebut sebagai curcuminoid. Curcuminoid dalam kunyit adalah curcumin (75 persen), demethoxycurcumin (15-20 pesen) dan bisdemethoxycurcumin (kurang lebih 3 persen). Dalam penelitian, curcuminoid ditemukan mempunyai sifat antioksidan dan antiradang. Pada awal 1990-an, para peneliti juga menemukan bawah curcumin bertindak anti-HIV dalam tabung percobaan.
Namun dua uji coba klinis pada manusia mengambil kesimpulan yang berlawan. Satu, yang dilakukan di Los Angeles pada 1994 mengamati penurunan pada viral load di antara orang yang memakai kurkuma. Namun sebuah uji coba klinis lain yang dilakukan di AS pada 1996 tidak menemukan bukti bahwa kurkuma dengan takaran tinggi atau rendah berhasil mengurangi viral load atau meningkatkan jumlah sel CD4.
Tampaknya juga, kurkuma dapat melindungi hati dari beberapa senyawa beracun.
Selain anggapan bahwa kurkuma dapat membantu tubuh anda melawan dengan HIV, sifat antiracun pada hati mungkin dapat membantu Odha. Jamu ini dipakai oleh praktisi pengobatan alternatif di Indonesia antara lain untuk mengobati penyakit kuning. Beberapa obat yang dipakai untuk melawan HIV dapat merusak hati. Orang yang terinfeksi hepatitis B atau C (HBV dan HCV) lebih mungkin mengalami masalah hati waktu memakai obat antiretroviral (ARV). Diharapkan kurkuma dapat membantu mencegah kerusakan pada hati.
Empu rimpang kunyit dicampur dengan bahan rempah lain kemudian direbus, lalu airnya dipakai sebagai obat minum. Atau kunyit dapat diparut dan ditambah air minum, diperas lalu diminum dua kali sehari.
Kurkuma dapat dibeli sebagai jamu sari kunyit dengan 90-95 persen curcumin, yang dipakai dengan takaran 250-500mg tiga kali sehari.
Bila dipakai dengan takaran yang diusulkan, kurkuma dianggap aman. Beberapa ahli menganjurkan agar kurkuma tidak dipakai dengan takaran tinggi oleh perempuan hamil, karena dapat menimbulkan masalah rahim. Orang dengan batu empedu atau hambatan pada saluran empedu sebaiknya bicara dengan dokter sebelum memakai kurkuma.
Tidak tercatat interaksi antara kurkuma dengan ARV atau obat lain. Namun sebaiknya yakinkan dokter mengetahui bila anda memakai kurkuma.
Penelitian yang lebih teliti mengenai data berhubungan dengan kurkuma memberi kesan bahwa, walaupun jamu ini mungkin mempunyai tidakan anti-HIV, penggunaannya dengan takaran tinggi (jauh lebih tinggi daripada dipakai sebagai bumbu makan) mungkin tidak layak untuk Odha karena beberapa alasan.
Pertama, kurkuma tampaknya menekankan jenis sitokin yang dipakai oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan HIV dan banyak infeksi oportunistik. Sebaliknya, jamu ini tampaknya merangsang pembuatan jenis sitokin lain yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh.
Kedua, kurkuma dapat menghambat pertumbuhan sel-B dan sel-T. Pada Odha, sel CD4 dan CD8 (jenis sel-T) tampaknya mati lebih cepat daripada normal. Jadi senyawa yang menghambat tubuhnya sel tersebut dapat mempercepat kehancuran sistem kekebalan tubuh oleh HIV.
Kunyit mengandung beberapa jenis curcumin yang sudah lama dipakai sebagai jamu untuk mengobati berbagai penyakit. Jamu ini dipakai beribu tahun, dan belum dialami efek samping yang berat atau interaksi yang gawat.
Walaupun ada bukti bahwa curcumin mempunyai tindakan anti-HIV dalam tabung percobaan, hal ini belum dibukti dengan uji coba klinis pada manusia. Namun hanya sedikit uji coba itu dilakukan, dan oleh karena itu dan kenyataan bahwa jamu ini aman dan murah, tidak ada kesalahan bila Odha ingin coba sendiri, asal harapannya tidak terlalu tinggi.
Beberapa praktisi menganggap bahwa kurkuma dapat mengurangi kerusakan pada hati yang diakibatkan oleh beberapa jenis racun termasuk obat antiretroviral.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI740]
oleh Jeffrey Leiphart, Ph.D
Pengobatan Tubuh-Pikiran (Mind-Body Medicine) merupakan cara pendekatan terbaru terhadap kesehatan dan penyakit yang mengakui bahwa permasalahan emosi dan psikologi dapat mempengaruhi kondisi tubuh kita.
Penelitian tubuh dan pikiran telah menunjukkan bahwa emosi, kepercayaan serta hubungan kita dengan orang lain serta kebiasaan perilaku kita dapat mempengaruhi sistim kekebalan tubuh kita, membuatnya semakin kuat atau melemak, sehingga mengarahkan tubuh ke arah sakit atau sehat. Sebagai contah, kita kini tahu bahwa tingkat stress tinggi dan kesedihan serta depresi yang berkelanjutan dapat melemahkan sistim kekebalan tubuh, dan bahwa dukungan teman, motivasi diri serta olahraga fisik semuanya menyumbangkan andil terhadap kekebalan tubuh yang kuat dan kesehatan tubuh.
Para peneliti pengobatan tubuh dan pikiran sejak pertengahan tahun 1980-an telah mempelajari bagaimana hubungan antara tubuh dan pikiran bekerja dalam kaitan dengan HIV/AIDS. Mereka telah mempelajari mengapa beberapa orang jatuh sakit dan meninggal karena HIV, sementara orang lain tetap bebas dari gejala dan sehat. Deminikian beberapa hal yang mereka temukan, berdasarkan penelitian medis:
Bagaimana anda dapat memanfaatkan informasi baru tentang hubungan tubuh dan pikiran ini untuk meningkatkan kesehatan HIV+ anda? nilai diri anda untuk masing-masing isu di atas, apakah anda melakukan hal-hal tersebut dengan baik, OK, atau kurang. Kemudian, buat daftar hal-hal yang anda masih "kurang" dan pilih seseorang untuk secara jujur membahasnya bersama. Anda mungkin ingin memilih orang yang berbeda untuk masing-masing isu. Setelah diskusi, buat perencanaan untuk memperbaiki masing-masing "kekurangan" dan mulailah memperbaikinya.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai topik ini, dapat dilihat di website L.I.F.E. Program di www.shanti.org
[Sumber: TheBody.com]
Temu lawak adalah semacam jamu yang dibuat dari tanaman Curcuma xanthorrhizae, yang lebih dikenal sebagai temu lawak, dari familia (jenis) Zingiberaceae. Jenis lain dalam familia ini termasuk Curcuma domestica atau Curcuma longa, yang lebih dikenal sebagai kunyit, Curcuma heyneana atau temu giring, dan Curcuma aeruginosa atau temu hitam. Semuanya mempunyai macam akar yang disebut sebagai rimpang (rhizome), dan biasanya bagian ini yang dipakai untuk membuat jamu.
Temu lawak sering dipakai oleh Odha, dan adalah kandungan dalam kapsul Hepasil, yang dipasarkan oleh Kalbe Farma sebagai 'hepaprotektor'.
Kandungan aktif temu lawak termasuk minyak esensial dan beberapa bahan kimia lain. Tampaknya belum ada penelitian mengenai manfaat temu lawak.
Menurut ahli jamu, temu lawak dapat dipakai untuk penyakit ginjal, demam, penyakit kuning, gangguan pada getah empedu, dan beberapa masalah lain.
Jamu ini dipakai oleh praktisi pengobatan alternatif di Indonesia antara lain untuk mengobati penyakit kuning. Beberapa obat yang dipakai untuk melawan HIV dapat merusak hati. Orang yang terinfeksi hepatitis B atau C (HBV dan HCV) lebih mungkin mengalami masalah hati waktu memakai obat antiretroviral (ARV). Diharapkan temu lawak dapat membantu mencegah kerusakan pada hati.
Satu potong temu lawak sebesar telur ayam diiris-iris, ditambah sebatang pohon meniran (Phyllanthus urinaria), kemudian direbus dengan air empat gelas hingga tinggal tiga gelas. Setelah dingin minum setengah sampai satu gelas tiga kali sehari, ditambah dengan satu sendok makan madu.
Belum ada laporan mengenai efek samping penggunaan temu lawak. Orang dengan batu empedu atau hambatan pada saluran empedu sebaiknya bicara dengan dokter sebelum memakai temu lawak.
Tidak tercatat interaksi antara temu lawak dengan ARV atau obat lain. Namun sebaiknya yakinkan dokter mengetahui bila kita memakai temu lawak.
Belum ada uji coba klinis terhadap temu lawak. Belum ada tanda bahwa temu lawak mempunyai tindakan anti-HIV. Beberapa ahli jamu menganggap bahwa temu lawak mempunyai tindakan terhadap hepatitis.
Temu lawak sudah lama dipakai sebagai jamu untuk mengobati berbagai penyakit. Belum dilaporkan efek samping yang berat atau interaksi yang gawat.
Belum pernah dilakukan uji coba terhadap temu lawak, terutama terhadap HIV atau hepatitis. Oleh karena itu dan kenyataan bahwa jamu ini aman dan murah, tidak ada kesalahan bila Odha ingin coba sendiri, asal harapannya tidak terlalu tinggi.
Beberapa praktisi menganggap bahwa temu lawak dapat mengurangi kerusakan pada hati yang diakibatkan oleh beberapa jenis racun termasuk obat antiretroviral.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI741]
Akupuntur adalah teknik pengobatan yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina. Jarum-jarum yang sangat tajam digunakan untuk menstimulasi titik-titik tertentu pada tubuh. Titik-titik ini terdapat pada jalur-jalur energi yang disebut "meridian". Pengobatan akupuntur dirancang untuk memperbaiki aliran dan keseimbangan energi sepanjang meridian-meridian ini.
Pengobatan tradisional Cina memiliki sejarah lebih dari 2,500 tahun. Pengobatan tradisional ini melihat tubuh manusia sebagai suatu sistim aliran energi. Ketika aliran-aliran energi ini seimbang, maka tubuh tersebut sehat. Para praktisi memeriksa denyut nadi pasien dan mengamati keadaan lidah mereka untuk mendiagnosa ketidakimbangan energi. Dalam pengobatan Cina, denyut nadi dapat diperiksa pada tiga lokasi di masing-masing pergelangan tangan, dan pada tiga kedalaman pada masing-masing lokasi.
Penyakit tidak didefinisikan dengan gejala-gejala atau nama penyakit seperti "infeksi HIV". Sebaliknya, seorang praktisi pengobatan Cina akan berbicara mengenai ketidakimbangan energi. Bahasanya dapat kedengaran sangat aneh, seperti "kekurangan yin" atau "peningkatan panas ginjal". Kata-kata Cina yin dan yang menggambarkan energi yang saling bertolak-belakang yang seharusnya tetap seimbang, dan Qi (dibaca "chi") secara kasar dapat diartikan sebagai energi atau kekuatan hidup.
Dalam pengobatan tradisional Cina, terdapat banyak cara untuk memperbaiki keseimbangan aliran energi tubuh. Teknik yang paling sering digunakan di negara-negara barat adalah teknik senam seperti Qigong atau Tai Chi, akupuntur (tusuk jarum), dan jamu.
Banyak praktisi pengobatan Cina mengkhususkan diri pada akupuntur atau jamu. Sangat jarang yang menggunakan keduanya.
Karena akupuntur berkenaan dengan keseimbangan energi, maka tidak ada titik akupuntur tertentu yang digunakan untuk mengobati HIV. Sebaliknya, ahli akupuntur anda akan menggunakan denyut nadi anda dan mungkin akan mengamati lidah anda untuk mencari tahu ketidakimbangan aliran energi anda.
Akupuntur tidak dapat mengobati infeksi HIV. Namun, banyak orang yang percaya bahwa jamu-jamuan tersebut telah membantu mereka memperbaiki energi secara keseluruhan, atau membantu menangani efek samping pengobatan antiretroviral (ARV). Beberapa orang telah menggunakan akupuntur untuk mengurangi rasa mual atau diare yang diakibatkan oleh pengobatan ini. Banyak orang lain merasa akupuntur mampu meringankan rasa sakit akibat neuropati.
Berdasarkan ketidakimbangan energi anda, ahli akupuntur anda akan memilih titik akupuntur untuk distimulir. Anda akan berbaring di atas dipan, bertelungkup atau telentang. Jarum-jarum akan dimasukkan pada titik-titik tertentu. Anda mungkin akan merasa sedikit sakit, kesemutan atau rasa kebal selagi jarum ditusukkan. Jarum-jarum ini dibiarkan pada tempatnya selama 30 hingga 45 menit tergantung pada tujuan dari akupuntur itu. Selama itu, banyak orang jatuh tertidur.
Anda mungkin juga mendapatkan perawatan tambahan selama akupuntur untuk meningkatkan aliran energi anda:
Beberapa praktisi menggunakan manik-manik kecil atau jarum kecil yang ditinggalkan pada kulit selama beberapa hari untuk memberi tekanan pada titik akupuntur.
Beberapa orang merasa sedikit rasa sakit, kaku atau kesemutan ketika jarum akupuntur ditusukkan. Dalam beberapa kasus yang jarang, orang akan merasa pusing atau mual selama akupuntur. Anda mungkin akan mengeluarkan beberapa tetes darah ketika jarum dicabut. Akupuntur memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan kebanyakan pengobatan-pengobatan barat.
Anda sebaiknya tidak melakukan akupuntur bila anda minum minuman beralkohol satu jam sebelumnya, atau bila anda telah menggunakan napza.
Pastikan ahli akupuntur anda tahu bila anda hamil. Beberapa titik akupuntur tidak boleh distimulir selama kehamilan.
Penelitian mengenai akupuntur menunjukkan manfaat dalam mengobati beberapa jenis rasa sakit dan mual. Hal ini yang mendorong National Institute of Health di AS untuk mengeluarkan pernyataan pada tahun 1997 mendukung manfaat akupuntur untuk beberapa kondisi tertentu. World Health Organization memiliki daftar lebih dari 40 kondisi yang mungkin dapat dibantu dengan akupuntur.
Penelitian terakhir mengenai akupuntur untuk mengurangi rasa sakit akibat neuropati tidak menunjukkan manfaat yang jelas. Namun rancangan penelitian tersebut telah dikritik karena menggunakan titik-titik akupuntur yang sama untuk semua orang dalam penelitian, dan karena menggunakan titik-titik palsu sebagai perbandingan. Banyak orang dengan kondisi neuropati merasa akupuntur telah membantu mereka.
[Sumber: AIDS InfoNet]
Bawang putih adalah tanaman umum dengan akar berwarna putih berbentuk umbi lapis, serupa dengan bawang merah. Nama ilmiah adalah Allium sativum, dan tanaman ini adalah bagian dari familia Liliaceae (Lili). Bawang putih dipakai baik untuk masakan maupun sebagai tanaman obat.
Saat bawang putih segar dihancurkan atau dicincang, enzim dalam umbinya dilepas dan sebuah senyawa yang mengadang sulfur (belerang) bernama allicin dibuat. Senyawa yang mengandung sulfur ini sering menjadi antibiotik yang efektif.
Bawang putih mungkin berasal dari Kirgiz, daerah padang pasir Siberia. Pujangga Cina 3000 tahun SM menguji manfaat bawang putih. Jadi, bawang putih mempunyai sejarah panjang dalam penggunaannya sebagai obat. Aristoteles menguji bawang putih pada tahun 335 SM untuk kualitas pengobatan. Pada abad pertengahan, bawang putih telah dipikirkan sebagai pengobatan terhadap orang bertekanan darah tinggi, kehilangan nafsu makan, orang dengan masalah paru, gigitan ular, batuk rejan, dan kebotakan. Pendeta Perancis abad 17 makan bawang putih dalam jumlah besar untuk melawan wabah sampar, dan dilaporkan mereka bertahan hidup lebih lama daripada pendeta Inggris. Selama kedua perang dunia, tentara Rusia dan Jerman makan bawang putih sebagai pengobatan di medan pertempuran.
Banyak ujicoba sudah membuktikan bahwa bawang putih mengandung zat anti bakteri dan jamur. Bawang putih juga dapat mempertahankan sistem kekebalan tubuh, yang dalam kasus HIV sangat dibutuhkan.
Bawang putih terbukti efektif melawan sejumlah infeksi oportunistik termasuk herpes virus, sitomegalovirus, kriptosporidiosis (kripto), dan organisme mikobakteri atau kandida. Pada beberapa kasus, pengobatan Barat tidak efektif untuk mengobati kondisi ini. Sebagai contoh, sebuah tes yang melibatkan lima orang dengan kripto di Los Angeles menunjukkan bahwa seluruh gejala berkurang ketika mereka memakai banyak bawang putih. Kripto dianggap sebagai salah satu infeksi oportunistik yang sulit diobati.
Bawang putih mengandung sulfur, asam amino, zat mineral termasuk germanium, selenium, dan zinc, serta vitamin A, B, dan C. Allicin dipercaya sebagai zat kandungan bawang putih yang paling banyak memberikan manfaat, selain menghasilkan bau yang menyengat itu.
Ada Odha yang menganggap bahwa bawang putih juga mengurangi tingkat kolesterol dan trigliserid yang tinggi. Masalah ini dapat menjadi efek samping dari penggunaan terapi antiretroviral (ART). Namun belum ada penelitian yang membuktikan bahwa bawang putih menimbulkan hasil ini.
Bawang putih berbentuk pil/kapsul bisa dibeli di apotik. Harganya memang mahal, tetapi baunya tidak terlalu menusuk. Kebanyakan orang memakai bawang putih pada masakan mereka. Beberapa orang memakan bawang putih mentah secara teratur, biasanya dengan memotongnya kecil-kecil, dan memakannya bersama makanan lain. Atau, ada juga yang merajangnya sampai halus lalu disendokkan ke mulut, seperti puyer.
Bawang putih menimbulkan sedikit efek samping, tetapi dosis yang tinggi dapat menyebabkan sakit perut atau gangguan pada usus. Hal ini terutama terjadi bila dipakai bawang putih mentah. Selain itu, baunya dapat dianggap sebagai efek samping yang kurang enak!
Sebuah penelitian pada 2001 menunjukkan bahwa bawang puith dan suplemen yang mengandung bawang puith atau allicin dapat mengurangi tingkat saquinavir (sebuah protease inhibitor) dalam darah rata-rata 51 persen. Hal ini kemungkinan sangat mempengaruhi kegiatan saquinavir terhadap HIV, dengan kemungkinan HIV menjadi resistan terhadap obat tersebut. Walaupun belum ditelitikan, kemungkinan interaksi ini terjadi terhadap protease inhibitor lain dan juga NNRTI. Menurut para peneliti, "kami melihat interaksi yang jelas dan berjangka lama. Implikasi yang jelas adalah bahwa dokter dan pasien seharusnya berhati-hati bila memakai bawang putih atau suplemen kandungan bawang putih bersama dengan ART." Pastikan dokter mengetahui bila anda memakai bawang putih sebagi suplemen.
Bawang putih adalah tanaman yang sudah lama diketahui efektif sebagai obat. Namun hanya sedikit penelitian dilakukan terhadapnya, jadi efektifitasnya tidak dapat dibuktikan. Penggunaan biasanya tidak menimbulkan efek samping (selain baunya), tetapi dibuktikan ada interaksi dengan satu jenis obat antiretorviral, dan kemungkinan juga ada dengan beberapa jenis lain. Jadi sebaiknya kita tidak memakai bawang putih dengan dosis tinggi bila kita memakai terapi antiretroviral. Namun penggunaan sebagai rempah dalam masakan kemungkinan tidak menimbulkan masalah.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI742]