Kesehatan umum

Bagian ini memberi informasi tentang:

Air minum

Bila anda memiliki sistim kekebalan tubuh yang sangat lemah, sebaiknya anda lebih berhati-hati dalam minum air. Sumber air minum di Indonesia tidak bebas dari cryptosporidium atau organisme lain yang dapat mengakibatkan diare pada orang dengan HIV-positif yang memiliki jumlah CD4 sangat rendah.

Sekali terkena, cryptosporidium hampir tidak mungkin dihilangkan dari orang HIV-positif dengan jumlah CD4 di bawah 200 dan dapat mengakibatkan diare serius dan kesulitan menyerap makanan dan minuman. Hal ini merupakan infeksi oportunistik yang serius, dan hingga kini masih sulit untuk disembuhkan.

Orang dengan jumlah CD4 di atas 200 sepertinya telah membentuk respon kekebalan yang cukup untuk mengendalikan cryptosporidium, mereka mungkin tetap akan mengalami diare.

Apabila anda memfilter air terhadap cryptosporidium, filter tersebut harus memiliki pori yang sangat kecil. Air yang telah difilter harus disimpan dalam kulkas. Bila dibiarkan pada temperatur ruangan, air tersebut lebih besar kemungkinannya untuk terkontaminasi bakteri daripada air ledeng biasa, karena proses filter menghilangkan klorin yang merupakan zat tambahan air ledeng.

Cara lain untuk menghilangkan organisme dari air adalah dengan memasak air minum selama paling tidak satu menit. Cara memasak air yang lama ini diperlukan untuk memastikan keseluruhan air telah mencapai titik didih; ceret otomatis akan berhenti secara otomatis ketika air yang menyentuh filamen mencapai titik didih. Beberapa ahli keamanan air mengatakan bahwa hal ini kurang lama untuk memastikan seluruh organisme dalam air telah mati.

Banyak orang yang berasumsi bahwa air mineral dalam botol selalu lebih aman, namun ini tidaklah benar. Sumber-sumber air mineral dalam botol juga tidak dapat diskrining terhadap cryptosporidium serta bakteri-bakteri lain yang tidak terdapat dalam air ledeng berklorin telah ditemukan dalam beberapa merek air mineral botol.

Penting untuk diingat bahwa air minum termasuk juga air yang anda gunakan untuk menggosok gigi dan menyiapkan atau membersihkan makanan (bagi orang dengan jumlah CD4 di bawah 200, hal ini artinya anda harus selalu berhati-hati). Air minum juga termasuk es dalam minuman, yang biasanya dibuat dari air ledeng.

Air minum mungkin juga mengandung bakteri yang dapat mengakibatkan diare, Dalam air botol maupun air ledeng, bakteri-bakteri ini biasanya telah diisolasikan, dan satu-satunya cara untuk mematikan bakteri ini adalah dengan memasak air atau menggunakan filter air dengan pori yang sangat kecil, bahkan lebih kecil daripada filter-filter yang direkomendasikan untuk membunuh cryptosporidium.

Biasakan untuk memasak air sehari sekali dan menyimpannya dalam kulkas. Jangan menggunakan air yang telah dimasak lebih dari 12 jam, walau air tersebut telah disimpan dalam kulkas.

Sayangnya, tidak mungkin untuk memonitor kualitas air yang anda minum atau yang digunakan untuk membersihkan makanan di luar rumah. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan yang paling baik adalah untuk menghindari salad dan makanan mentah lain, serta minum air botol dari sumber air pegunungan, yang paling kecil kemungkinan terkontaminasi cryptosporidium.

Bir, jus buah terpasteurisasi serta minuman ringan dalam botol/kaleng tidak berisiko infeksi cryptosporidium.

Berenang di laut atau sungai tidak dianjurkan bagi orang dengan kekebalan tubuh yang lemah, karena masalah polusi dan air bawaan got. Berenang hanya di kolam renang berklorin.

[Sumber: aidsmap]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/173

Hewan peliharaan

Beberapa dokter memperingatkan bahwa penyakit-penyakit seperti toksoplasmosis, yang dapat berakibat serius terhadap kesehatan orang yang sistim kekebalan tubuhnya rusak, dapat diperoleh dari kucing, burung atau anjing.

Dokter lain setuju bahwa walau hal tersebut benar dalam teori, dalam praktiknya, bila anda telah memiliki hewan peliharaan untuk waktu yang cukup lama, kemungkinannya tidak akan lebih berisiko bagi anda. Hal ini karena sifat dari infeksi oportunistik itu sendiri. Kebanyakan IO melibatkan aktifasi atau reaktifasi dari mikro-organisme yang telah masuk ke dalam tubuh di masa yang lampau. Berdasarkan hal tersebut, bila anda telah lama memiliki hewan peliharaan, kemungkinan anda berisiko terkena penyakit darinya sangat kecil.

Ada juga bukti yang menunjukkan bahwa risiko mendapat infeksi dari hewan dalam kenyataannya adalah rendah. Satu penelitian melaporkan bahwa orang dengan HIV yang memelihara kucing tidak lebih besar kemungkinannya terkena toksoplasmosis selama sakitnya daripada mereka yang tidak memelihara kucing. Membersihkan kotoran kucing setiap hari dapat mengurangi risiko toksoplasmosis. Bersihkan kotoran menggunakan sarung tangan karet, air panas dan disinfektan kuat.

Kucing juga diketahui memiliki infeksi bakteri Bartonella (juga dikenal sebagai penyakit 'cat scratch'). Hindari kucing anda menjilat luka yang terbuka, dan pastikan kucing anda tidak memiliki kutu, karena semuanya ini dapat mengakibatkan Bartonella. Selalu cuci tangan setelah memegang hewan dan sebelum menyentuh makanan.

Pajanan terhadap organisme yang berbahaya dapat terjadi ketika bekerja dengan binatang atau berkebun. Misalnya membersihkan kandang ayam atau kotoran burung merpati dapat membuat orang dengan HIV-positif terpajan infeksi, seperti juga berkebun tanpa mengenakan sarung tangan.

Bila pekerjaan anda mengharuskan anda bersentuhan dengan infeksi yang berpotensi berbahaya, maka anda sebaiknya mendiskusikan hal ini dengan dokter anda dan dokter di tempat anda bekerja.

[Sumber: aidsmap]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/172

Kebersihan umum

Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang kebersihan bagi orang dengan HIV tidak harus berbeda dengan orang lain. Hal ini karena kebanyakan infeksi oportunistik yang berkaitan dengan HIV bukanlah yang diakibatkan oleh lingkungan. Misalnya, orang dengan HIV tidak lebih rentan terhadap batuk-pilek daripada orang lain.

Beberapa panduan sederhana mengenai kebersihan:

Pada beberapa kondisi anda harus lebih berhati-hati. Hindari anak-anak yang menderita cacar air bila anda belum pernah mengalaminya. Cacar air diakibatkan oleh virus herpes zoster, yang dapat mengakibatkan shingle pada orang dewasa HIV-positif.

[Sumber: aidsmap.com

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/221

Keracunan makanan

Bila anda memiliki sistim kekebalan tubuh yang kuat, kemungkinan anda mengalami keracunan makanan tidak lebih besar dari kemungkinan orang yang HIV-positif.

Namun, keracunan makanan dapat lebih parah terjadi pada orang dengan AIDS. Karenanya masuk akal untuk orang yang memiliki jumlah CD4 rendah untuk lebih berhati-hati.

Salmonella merupakan risiko yang pasti bagi orang dengan HIV. Kemungkinan lain adalah listeria, infeksi lain yang menyebar lewat makanan, yang dapat menjadi masalah bagi anak dengan HIV. Shingella dan campylobacter dapat juga menyebabkan masalah. Infeksi dengan organisme-organisme ini mungkin sulit disembuhkan, dan mungkin tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan yang efektif untuk orang HIV-negatif.

Salmonella sering menginfeksi ayam. Hal ini berarti bahwa sangat penting untuk memastikan daging ayam benar-benar matang, sehingga tidak ada darah merah yang tampak sama sekali. Berhati-hatilah dengan daging ayam yang dibekukan. Daging beku harus dicairkan dalam kulkas, bukan pada temperatur ruangan. Cuci tangan anda setelah memegang daging unggas yang belum masak dan pastikan daging dan daging unggas mentah tidak disimpan dalam wadah terbuka bila dekat daging atau produk susu. Idealnya, cuci telur sebelum memecahkannya, dan masak secara matang hingga kuning dan putih telur kaku. Jangan gunakan telur yang retak.

Dianjurkan untuk menghindari produk susu yang tidak melalui proses pasteurisasi, termasuk susu, yoghurt 'hidup' dan beberapa jenis keju lembut, yang mungkin dapat mengandung salmonella dan listeria. Beberapa orang menganjurkan yoghurt hidup sebagai pengobatan thrush. Walaupun terdapat beberapa bukti bahwa hal ini membantu, penting bagi orang dengan HIV untuk mengerti penggunaannya juga dapat berisiko.

Akan ada baiknya juga untuk menghindari hewan ternak dan kotorannya, karena kotoran hewan dapat menyebabkan infeksi seperti cryptosporidium. Sayuran organik seringkali ditanam dalam medium yang mengandung pupuk kandang, sehingga penting bagi anda untuk membersihkan secara menyeluruh sayuran organik dengan air mendidih.

Bila menghangatkan makanan, pastikan bahwa makanan itu benar-benar matang hingga bagian dalam. Cuci buah-buahan dan sayuran dengan benar, dan pastikan permukaan tempat memotong dan menyiapkan makanan bersih. Jangan gunakan makanan yang telah kadaluarsa.

[Sumber: aidsmap]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/174

Penggunaan zat adiktif

Hampir semua orang dengan HIV menggunakan sejenis zat adiktif tertentu. Kebanyakan orang menggunakan zat adiktif legal seperti kopi, teh atau coklat, serta banyak juga orang yang minum alkohol atau merokok tembakau. Selain itu, banyak orang dengan HIV yang juga menggunakan napza.

Pada bagian ini, diberikan informasi mengenai alkohol, tembakau dan apa yang disebut zat adiktif rekreasional (recreational drugs).

 


Alkohol


Alkohol merupakan zat adiktif dan memiliki berbagai bentuk, termasuk bir, asam cuka, anggur, 'alcopops' dan spirits seperti whisky, gin dan vodka.

Alkohol tersedia di Indonesia dan banyak dijual di tempat-tempat berlisensi kepada orang yang berusia di atas 18 tahun, serta dinikmati dan digunakan dengan aman oleh banyak orang. Namun, alkohol merupakan penyebab masalah kesehatan dan sosial. Di Inggris, alkohol menyebabkan lebih banyak kematian daripada jenis zat adiktif lainnya.

Alkohol menjadikan otak dan badan lebih santai, dan biasanya diminum untuk efek yang menyenangkan ini. Karena kemampuannya untuk merubah suasana hati dan menyebabkan perubahan fisik, alkohol juga dapat menyebabkan masalah fisik, psikologis dan sosial. Banyak orang yang merasa bahwa minum alkohol secara moderat (satu atau dua unit alkohol per hari) dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa relaks, dan berfungsi untuk mengundang selera makan. Satu unit alkohol itu sama dengan setengah pint bir berkekuatan normal atau lager, segelas anggur, atau segelas kecil sherry atau port.

Lembaga-lembaga kesehatan menganjurkan laki-laki untuk tidak minum lebih dari 3 hingga 4 unit alkohol per hari. Untuk perempuan, batas hariannya adalah 2-3 uniit. Saran ini berlaku juga apakah anda minum tiap hari, mingguan atau di antara itu. Menghabiskan "jatah" minum per minggu anda dalam sekali waktu (sering disebut binge drinking) dapat menyebabkan lemahnya daya koordinasi, muntah-muntah, reaksi emosional yang berlebihan (termasuk rasa sedih, tangis, marah dan kekasaran) dan bahkan dapat menyebabkan pingsan. Perempuan yang hamil, atau berencana untuk hamil, disarankan untuk tidak minum lebih dari 1 hingga 2 unit per minggu.

Hangover pada hari berikutnya -- sakit kepala, mulut kering, merasa sakit dan lelah -- merupakan konsekuensi umum dari minum alkohol yang banyak pada malam sebelumnya. Gejala-gejala ini disebabkan karena dehidrasi dan keracunan, maka, bila anda minum alkohol, anda sebaiknya juga minum banyak air.

Karena bahwa jumlah kecil alkohol dapat mempengaruhi koordinasi, reaksi dan kemampuan anda mengambil keputusan, anda tidak boleh minum bahkan setetespun bila akan mengendalikan kendaraan bermotor atau mesin.

Minum alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan koma dan bahkan kematian.

Konsumsi alkohol yang banyak dalam jangka panjang (10 unit atau lebih per hari untuk laki-laki atau 6 unit atau lebih untuk perempuan) dapat menyebabkan buruknya kesehatan, mempengaruhi hati, jantung dan otak. Minum alkohol setiap hari dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis.

Selain itu, orang yang minum alkohol dalam jumlah besar seringkali memiliki pola makan yang buruk dan ini dapat menyebabkan permasalahan kesehatan lain. Alkohol merupakan zat depresif dan dapat menyebabkan atau memperburuk masalah mental, psikologis atau emosional. Bila digunakan bersamaan dengan zat lain, seperti obat penghilang rasa sakit yang biasa seperti parasetamol, alkohol dapat menimbulkan efek yang lebih buruk.

Tidak ada bukti bahwa minum alkohol secara moderat (satu atau dua unit alkohol per hari) dapat menyebabkan masalah bagi orang dengan HIV. Namun, bila anda memiliki hepatitis atau bila tingkat lemak darah anda tinggi, maka anda harus mengurangi konsumsi alkohol anda atau berhenti sama sekali.

Minum alkohol berlebihan dapat mempengaruhi kekebalan tubuh anda dan dapat memperlambat kesembuhan dari infeksi.

Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat juga mengakibatkan efek serius pada orang yang mengkonsumsi obat anti-HIV. Alkohol diproses oleh hati dan hati yang sehat dibutuhkan agar tubuh dapat memproses obat-obatan secara efektif. Peningkatan lemak darah yang disebabkan oleh beberapa jenis obat anti-HIV dapat diperparah dengan konsumsi alkohol berlebihan.

Orang yang memiliki hepatitis dan HIV dianjurkan untuk sama sekali tidak minum alkohol.

Orang yang hatinya rusak akibat terlalu banyak alkohol (terutama bila ia memiliki hepatitis) lebih mungkin untuk mengalami efek samping dari obat anti-HIV, khususnya protease inhibitor.

Alkohol dapat bereaksi buruk dengan beberapa jenis obat (misalnya beberapa jenis obat anti-TB dan antibiotik) sehingga anda harus berkonsultasi dengan ahli farmasi untuk menentukan apakah aman untuk minum alkohol dengan obat-obatan baru yang diresepkan. Namun, tidak ada interaksi signifikan antara obat-obatan anti-HIV yang ada sekarang dengan alkohol.

Alkohol dapat menyebabkan muntah. Bila anda muntah dalam satu jam setelah minum obat anti-HIV, atau obat lain yang harus anda minum, maka anda harus mengulangi dosis tersebut.

 


Amphetamin


Liat juga bagian mengenai crystal meth.

Amphetamin merupakan stimulan yang biasanya diminum secara oral, walaupun dapat juga dilarutkan dalam air, dihirup, atau disuntikkan.

Amphetamin menyebabkan meningkatnya detak jantung, berkurangnya nafsu makan, memperbaiki suasana hati, dan membesarnya pupil mata. Pengguna amphetamin menyebutkan adanya "rush" rasa percaya diri yang bertahan tiga atau empat jam sebelum kemudian "turun". Rasa khawatir dan gelisah kemudian mengambil alih dari titik ini. Penggunaan amphetamin secara berulang kali dapat menyebabkan toleransi terhadap jenis napza ini, yang berarti anda harus mengkonsumsi lebih banyak untuk mencapai rasa "high". Gejala gelisah, paranoia dan panik dapat juga muncul. Penggunaan jangka panjang dan berat dapat menyebabkan gangguan mental.

Penggunaan amphetamin menunda, namun tidak menghilangkan, kebutuhan untuk makan. Pengguna reguler seringkali mengalami turunnya berat badan dan malnutrisi. Hal ini mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, dan ini merupakan masalah besar bagi orang dengan HIV.

Tidak ada bukti bahwa pengguna amphetamin yang HIV-positif mengalami pergerakan penyakit yang lebih cepat, namun lihat bagian mengenai crystal meth (methamphetamine).

 


Steroid anabolik


Steroid anabolik adalah hormon yang biasanya digunakan sebagai zat untuk membentuk otot. Binaragawan, dan semakin banyak pengunjung gym menggunakan steroid anabolik dalam siklus empat-mingguan, untuk meningkatkan efek latihan mereka.

Laki-laki HIV-positif kadang-kadang diresepkan steroid anabolik atau terapi pengganti testosterone apabila tingkat testoterone alamiah mereka rendah atau bila mereka kehilangan banyak otot.

Steroid dapat sangat beracun untuk hati, dan dapat juga menyebabkan jerawat, kebotakan pada laki-laki, masalah seksual dan pengecilan testikel. Perempuan yang menggunakan steroid anabolik dapat membentuk karakteristik laki-laki.

Steroid yang dibeli di gym seringkali palsu atau terkontaminasi dan dapat sangat beracun bagi hati dan menyebabkan kerusakan syaraf.

Terdapat kontroversi mengenai ffek steroid anabolik terhadap sistim kekebalan tubuh. Beberapa peneliti menganggap bahwa steroid jenis ini immunosuppressif, namun berdasarkan penelitiaan terhadap sistim kekebalan tubuh laki-laki HIV-positif yang diresepkan steroid sebagai penangkal wasting menunjukkan bahwa steroid sama sekali tidak menekan kekebalan tubuh. Namun, diketahui bahwa penggunaan steroid dapat meningkatkan tingkat kolesterol LDL (jahat), sehingga penggunannya harus digunakan secara sangat berhati-hati dan di bawah pengawasan ketat dokter bila anda memiliki tingkat lemak darah yang tinggi akibat medikasi anti-HIV anda.

Penggunaan jarum suntik bergantian antara pengguna steroid memiliki risiko yang sama untuk penularan HIV sebagaimana penggunaan bergantian jarum suntik untuk napza.

 


Barbiturat (downer)


Barbiturat digunakan secara medis untuk menenangkan orang dan sebagai obat tidur. Barbiturat merupakan obat yang dibeli dengan resep.

Barbiturat mempengaruhi sistim syaraf pusat, menyebabkan perasaan lembab, dan tergantung pada dosisnya, efeknya dapat bertahan antara tiga hingga enam jam. Barbiturat dapat menyebabkan orang jadi sembrono, merasa bahagia dan kebingungan mental -- ketidakbahagiaan juga dapat diakibatkan oleh barbiturat.

Dosis yang tinggi dapat menyebabkan pingsan, masalah pernapasan dan kematian. Kematian akibat overdosis merupakan bahaya yang sangat nyata, karena dosis yang berbahaya takarannya sangat dekat dengan dosis normal yang aman. Kemungkinan overdosis lebih meningkat lagi bila barbiturat dikonsumsi bersamaan dengan alkohol. Risiko penggunaan barbiturat juga meningkat bila obat tersebut disuntikkan.

Tubuh dapat dengan cepat menjadi toleran terhadap barbiturate, yang mengakibatkan ketergantungan fisik dan mental. Sakaw dapat menunjukkan gejala mudah marah, tidak bisa tidur, sakit-sakitan, tidak bisa diam, kejang-kejang, dan halusinasi.

Pengguna berat barbiturat lebih rentan terhadap masalah dada dan hipotermia.

 


Ganja


Ganja dapat dihisap, biasanya bersamaan dengan tembakau, dimakan, diminum dalam 'teh' atau dihirup sebagai snuff. Obat ini mempengaruhi sistim syaraf pusat dan, sebagai akibatnya, penggunanya dapat mengalami keringanan dari rasa sakit, merasa kepala ringan, relaks, atau mengantuk. Obat ini dapat juga menstimulir rasa nafsu makan atau mengemil. Namun ganja juga diketahui dapat merusak daya koordinasi, dan dapat menyebabkan mual dan muntah serta kekhawatiran berlebih dan paranoia, yang seiring penggunaan jangka panjang, dapat menjadi semakin parah.

Penggunaan ganja sebagai obat melanggar hukum, dan karenanya terdapat sedikit bukti mengenai efek ganja saat digunakan untuk mengelola kondisi kesehatan kronis. Namun, penggunaan ganja secara ilegal banyak dilakukan untuk alasan pengobatan, seringkali sebagai penghilang rasa sakit atau sebagai penambah nafsu makan. Pada tahun 1996, sebuah uji coba klinis di San Fransisco menemukan bahwa orang dengan penyakit wasting HIV yang menggunakan ganja lebih mungkin menambah berat badan. Ganja juga banyak digunakan untuk meringankan insomnia dan gejala kekhawatiran serta stress. Ganja juga digunakan oleh orang-orang dengan multiple sclerosis sebagai penenang otot.

Risiko jangka pendek penggunaan ganja termasuk rasa khawatir berlebih, panik dan paranoia. Daya ingat dan daya konsentrasi mungkin juga terdampak, seperti juga kemampuan untuk mengendalikan kendaraan bermotor dan mesin. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja di antara anak muda menunjukkan kemungkinan terjadinya masalah kesehatan mental di kemudian hari. Penggunaannya selagi hamil telah dikaitkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan kurang.

Bila ganja dihisap, penggunaan jangka panjangnya diketahui dapat menyebabkan  penyakit pernapasan dan kardiovaskular yang biasa terjadi pada orang merokok seperti asma, bronkitis, emfisema dan penyakit jantung, Hal ini menjadi perhatian bagi orang dengan HIV yang memiliki kerusakan paru-paru dari TB, atau bagi mereka yang tingkat lipidnya meningkat akibat obat-obatan anti-HIV, karena dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Juga terdapat bukti bahwa menghisap ganja dapat menyebabkan kanker mulut, tenggorokan dan paru-paru.

Gejala pelupa kronis serta menurunnya daya konsentrasi telah diperhatikan dalam penggunaan jangka panjang ganja, pada beberapa kasus bahkan setelah penggunannya dihentikan, dan terdapat bukti bahwa pengguna jangka panjang dapat mengalami ketergantungan psikologis terhadap ganja. Dalam survei baru-baru ini penggunaan ganja sehari-hari oleh anak muda diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi di kemudian hari, penggunaan ganja juga telah dihubungkan dengan meningkatnya risiko schizophrenia.

Tidak diketahui reaksi ganja dengan obat anti-HIV. Sebuah penelitian kecil di Amerika tidak menemukan dampak penggunaan ganja terhadap efektivitas protease inhibitor indinavir (Crixivan), walaupun obat tersebut menggunakan mekanisme yang sama untuk lewat dalam tubuh. Seperti obat pengubah suasana hati atau kesadaran yang lain, ganja dapat berdampak pada kemampuan seseorang untuk mematuhi jadwal pengobatan.

 


Kokain


Bersama kebanyakan zat adiktif rekreasional lainnya, statistik menyebutkan bahwa terdapat lebih banyak orang yang menggunakan kokain (coke, charlie, snow, powder, marching powder) beserta turunan kokain, crack (freebase).

Kokain merupakan stimulan yang berasal dari daun koka dari Amerika Selatan. Bentuknya berupa bubuk putih dan biasanya dihirup ke dalam hidung dan menyebabkan perasaan senang, percaya diri yang berlangsung selama 15-30 menit. Kokain juga dapat digosokkan ke gusi dan ke dalam anus atau vagina sebelum seks penetratif. Terkadang kokain juga dibuat sebagai solusi untuk disuntikkan, namun hal ini jarang.

Crack dijual dalam bentuk kerikil kecil, yang dihisap baik sebagai rokok atau dalam pipa. Dalam sejarahnya, crack sering dihubung-hubungkan dengan populasi miskin kota, namun sebenarnya digunakan oleh orang dari strata sosial yang luas.

Pengguna kokain dapat menggunakan banyak dosis untuk mempertahankan rasa high, yang dapat menyebabkan kekhawatiran berlebih, paranoia serta toleransi terhadap kokain, yang berarti dosis yang lebih tinggi harus digunakan untuk menciptakan rasa high yang sama. Walaupun efek ketergantungannya tidak sama dengan heroin atau opiat, pengguna dapat sangat tergantung secara psikologis sehingga merasa kekhawatiran berlebih, depresi, atau rasa lelah yang sangat bila mereka menghentikan penggunaan.

Penggunaan jangka panjang kokain dan crack dapat menyebabkan kekhawatiran berlebih, depresi klinis, masa-masa psikotis, peningkatan kekerasan, kehilangan berat badan serta malnutrisi. Keduanya telah diketahui dapat menyebabkan masalah jantung yang berpotensi fatal termasuk serangan jantung, angina, detak jantung tak teratur serta inflamasi dan pembesaran jantung.

Seperti halnya dengan napza jalanan lainnya, kokain murni jarang sekali dijual ke pengguna. Kokain sering dicampur dengan napza murahan lain seperti amphetamin (speed), talc atau deterjen, yang dapat beracun atau mengakibatkan iritasi, dan berakibat infeksi.

Menghirup kokain dapat merusak selaput antara hidung, yang mengakibatkan perdarahan dan pada akhirnya erosi. Terdapat banyak laporan bahwa penggunaan bergantian alat-alat hirup dapat menularkan virus hepatitis C. Menggosokkan kokain ke gusi, vagina atau anus dapat menyebabkan lecet, yang dapat meningkatkan penularan terhadap HIV atau infeksi menular seksual lain. Penggunaan bergantian alat suntik juga berisiko menularkan HIV, virus hepatitis, dan infeksi darah lainnya.

Kokain tidak dimetabolisir oleh tubuh dengan cara yang sama dengan obat-obatan anti-HIV, sehingga sepertinya tidak berinteraksi dengannya.

Penelitian laboratorium mengatakan bahwa kokain mampu merubah fungsi kekebalan tubuh dalam berbagai cara, membuat sel-sel kekebalan tubuh lebih rentan terhadap HIV. Penelitian yang dilakukan terhadap tikus HIV-positif di laboratorium menemukan bahwa tikus yang terekspos terhadap kokain memiliki jumlah CD4 yang lebih rendah daripada tikus yang tidak diberi kokain. Hal ini memberi kesan bahwa penyakit HIV dapat bergerak lebih cepat pada pengguna kokain.

Namun, penelitian yang melibatkan penggunaan kokain secara berkala dan pergerakan penyakit di kalangan laki-laki gay telah memberi hasil yang bertolak belakang. Satu studi tidak menemukan hubungan sama sekali, sementara studi lain menyimpulkan penggunaan kokain seminggu sekali berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian. Karena penggunaan napza dapat menjadi indikator masalah sosial lainnya yang dapat memberi efek negatif terhadap kesehatan -- seperti kurangnya akses pelayanan kesehatan, atau masalah kesehatan lain -- jenis-jenis penelitian ini sulit untuk diinterpretasi.

Sebagaimana halnya dengan penggunaan napza rekreasional lain, alangkah baiknya mempertimbangkan bagaimana penggunaannya dapat berdampak terhadap kepatuhan pengobatan HIV anda. Bila anda khawatir tentang kebiasaan anda menggunakan napza rekreasional, maka dokter anda dapat merujuk anda ke tempat dukungan yang tepat.

 


Crystal methamphetamine (shabu-shabu)


Shabu-shabu merupakan bentuk sintetis amphetamine, sebuah obat stimultan.

Shabu-shabu dapat dibeli dalam bentuk pil, sebagai bubuk untuk dihirup lewat hidung atau disuntikkan, atau dalam bentuk kristal yang dihisap melalui pipa.

Shabu-shabu menyebabkan perasaan senang yang seketika, perasaan menajamnya fokus dan meningkatnya daya seksual.

Menghisap kristal methamphetamin menyebabkan meningkatnya suhu tubuh, peningkatan detak jantung dan pernapasan.

Paranoia, hilangnya ingatan jangka pendek, marah mendadak dan ketidakseimbangan emosi telah dilaporkan akibat penggunaannya.

Terdapat bukti anekdotal bahwa penggunaan shabu-shabu dapat menyebabkan orang menjadi lebih cepat sakit akibat HIV, lebih lama sembuh dari infeksi dan kurangnya respon terhadap pengobatan anti-HIV. Namun, beberapa orang percaya bahwa hal ini lebih banyak karena pengguna napza ini tidak patuh terhadap pengobatannya.

Menurunnya jumlah CD4 secara drastis juga telah dilaporkan pada pengguna shabu-shabu. Namun, karena banyak pengguna shabu-shabu yang kesulitan tidur, atau tidak makan dengan benar, mungkin ada faktor gaya hidup lain yang mempengaruhi pergerakan penyakit yang lebih cepat tadi.

Ketergantungan psikologis terhadap napza ini juga telah dilaporkan, walaupun sepertinya tidak menyebabkan adiksi fisik.

Menggunakan shabu-shabu dalam jumlah besar dapat menyebabkan kejang-kejang, masalah pada sirkulasi darah, kesulitan bernapas, koma dan kematian. Namun, kematian juga telah dilaporkan terhadap orang-orang yang hanya menggunakan dosis kecil.

Di Amerika terdapat kekhawatiran mengenai hubungan antara penggunaan shabu-shabu oleh laki-laki gay dan seks tak aman, khususnya bila digunakan bersamaan dengan obat-obatan untuk erectile dysfunction (ED), seperti Viagra dan Cialis.

Terdapat laporan mengenai interaksi antara shabu-shabu dengan protease inhibitor ritonavir (Norvir). Proses metabolisme shabu-shabu dalam tubuh menggunakan mekanisme yang sama dengan ritonavir. Dokter juga percaya bahwa penghirupan zat ini dapat memperburuk interaksi.

Penggunaan jenis napza apapun dapat mempengaruhi pola tidur normal, mempengaruhi nafsu makan dan menghalangi rutinitas. Beberapa orang menemukan bahwa hal ini lebih meningkat dengan penggunaan shabu-shabu. Bila anda menggunakan napza ini, pertimbangkanlah efek dari shabu-shabu terhadap kepatuhan anda terhadap obat anti-HIV. Shabu-shabu juga banyak dihubungkan dengan peningkatan kemungkinan melakukan seks tak aman, sehingga pertimbangkan bagaimana anda mengelola ini semua.

[Sumber: Aidsmap]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/181

Seks

Ada banyak alasan mengapa anda tetap harus mempertimbangkan melakukan seks aman bila anda HIV-positif.

Pertama, anda dapat menginfeksi orang lain dengan HIV. Di Inggris, terdapat beberapa kasus dimana seseorang dimasukkan penjara akibat menginfeksi pasangan seksualnya dengan HIV.

Kemudian ada juga masalah infeksi menular seksual, yang paling tidak merupakan keadaan yang sangat tidak menyenangkan, serta dapat meningkatkan  kemungkinan  anda menyebarkan HIV saat berhubungan seks. Bila dibiarkan tanpa penanganan, beberapa infeksi menular seksual dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, terutama bila sistim kekebalan tubuh anda sangat lemah.

Terdapat beberapa bukti bahwa seks tak aman dapat mengganggu kesehatan orang dengan HIV serta sekarang juga ada masalah dengan reinfeksi atau superinfeksi dengan jenis HIV yang resisten obat.

Pada awal tahun 1990an, sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan ribuan laki-laki gay HIV-positif menemukan bahwa laki-laki yang melakukan seks anal tak aman mengalami perkembangan penyakit yang lebih cepat dan jatuh sakit dengan penyakit yang berhubungan dengan HIV lebih cepat daripada mereka yang mengatakan bahwa mereka hanya melakukan seks aman. Sebuah penelitian yang melibatkan pekerja seks di Kenya menunjukkan bahwa perempuan yang melakukan seks tak aman mengalami lebih banyak infeksi menular seksual dan jumlah CD4 yang lebih rendah.

 

Reinfeksi/superinfeksi

Walaupun telah diakui bahwa HIV resisten obat dapat menular kepada orang-orang yang tadinya tidak terinfeksi, tidaklah jelas apakah jenis HIV ini dapat menginfeksi orang yang sudah terinfeksi HIV. Namun terdapat beberapa laporan kasus dari seluruh dunia mengenai orang HIV-positif yang terinfeksi ulang (reinfeksi) dengan jenis HIV lain setelah melakukan seks tak aman - dan sebagai konsekuensinya mengalami kesulitan dalam pengobatan HIVnya.

Namun tampaknya reinfeksi itu jarang dan dalam sejumlah kasus yang dilaporkan, orang-orang yang mengalaminya sedang berhenti pengobatan HIV saat mereka terinfeksi ulang.

Hal ini merupakan topik yang kontroversial, dan kini perkembangannya diikuti dengan cermat oleh para dokter di seluruh dunia, serta informasi tentang ini terus dipublikasikan.

 

Jenis-jenis HIV

HIV terdapat banyak jenisnya, beberapa lebih agresif daripada yang lain dalam tabung laboratorium. Ada pendapat bahwa penularan dari jenis yang ganas (kepada orang yang telah terinfeksi jenis HIV yang lebih jinak) dapat mengakibatkan AIDS.

Hal ini mungkin terjadi karena jenis yang ganas dapat mengalahkan sistim kekebalan tubuh. Contohnya, sistim kekebalan tubuh seseorang mungkin secara baik merespon infeksi HIV yang awal, sehingga jenis HIV dominan dalam tubuh adalah yang tidak terlalu mencelakakan orangnya. Reinfeksi dengan jenis yang lain dapat menimpangkan keseimbangan ini: sistim kekebalan tubuh orang tersebut mungkin tidak mampu lagi menangani jenis virus yang baru dan lebih agresif ini, sehingga proses replikasinya menjadi lebih cepat. Virus baru yang lebih agresif ini dapat juga mengalahkan jenis virus yang sudah ada, dan menjadi jenis dominan. Teori lain adalah bahwa jenis yang baru dapat secara selektif menginfeksi beberapa jenis sel atau jaringan tertentu yang sebelumnya tidak terdampak, dan mengakibatkan perkembangan penyakit yang lebih cepat.

Bukti adanya orang yang terinfeksi dengan dua jenis HIV yang berbeda itu memang ada, namun tidak ada yang yakin kapan infeksi tersebut dapat terjadi. Beberapa peneliti mengatakan bahwa infeksi dengan jenis yang kedua lebih mungkin terjadi dalam beberapa bulan infeksi primer, karena pada saat ini respon kekebalan terhadap HIV paling lemah. Peneliti lain mengatakan bahwa respon kekebalan mungkin tidak melindungi, dan bahwa reinfeksi dapat terjadi pada tahap yang lebih lanjut.

 

Kofaktor

Walaupun terdapat keragu-raguan mengenai pentingnya reinfeksi dengan HIV, ada juga pendapat bahwa infeksi virus lain dan infeksi menular seksual dapat mempercepat perkembangan penyakit.

Pertama-tama, banyak infeksi yang dapat menyebabkan HIV bereproduksi hanya karena infeksi tersebut menstimulir sistim kekebalan tubuh. Reaksi kekebalan tersebut termasuk juga menggiatnya HIV laten dalam sel-sel kekebalan tubuh, yang menyebabkan terjadinya produksi HIV baru serta terinfeksinya sel-sel lainnya.

Contohnya, setelah terinfeksi sitomegalovirus (CMV), orang dengan infeksi HIV kemungkinan akan mengalami peningkatan replikasi HIV. Namun CMV serta beberapa jenis virus lain juga dapat membantu HIV dalam menginfeksi sel-sel baru, dan mempercepat replikasi HIV pada sel-sel yang terinfeksi dengan HIV dan CMV sekaligus. Hal yang sama juga terjadi dengan virus herpes, virus Epstein-Barr (yang menyebabkan demam kelenjar) dan virus Hepatitis B. Semua jenis virus ini berpotensi menyediakan 'kunci' bagi sel-sel yang sebelumnya HIV tidak mungkin menginfeksi. Hampir keseluruhan jenis virus ini ditularkan melalui kontak seksual atau cairan tubuh.

 

Infeksi menular seksual

Bagi kebanyakan orang dengan HIV, pengobatan standar untuk infeksi menular seksual bekerja sama baiknya seperti pada orang HIV-negatif.

Namun, bila kekebalan tubuh anda sangat lemah, anda mungkin akan butuh untuk mengkonsumsi antibiotik lebih lama untuk mengobati infeksi seperti gonorrohea dan sifilis.

Virus infeksi menular seksual dapat juga menjadi lebih serius dan sulit untuk disembuhkan bila anda memiliki HIV. Contohnya, orang dengan HIV lebih mungkin untuk mengalami herpes genital yang lebih sering dan lebih ganas.

Kekebalan tubuh orang dengan HIV sulit untuk membasmi infeksi HPV,  virus yang menyebabkan kutil kelamin dan anus. Beberapa jenis virus ini dapat menyebabkan kanker servix dan anal, dan bahkan setelah ditemukannya pengobatan anti-HIV, para dokter melihat adanya peningkatan terjadinya jenis-jenis kanker ini pada orang dengan HIV.

Virus hepatitis B juga menular lewat hubungan seks, dan orang dengan HIV dianjurkan untuk vaksinasi terhadap hepatitis B. Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa virus hepatitis C juga dapat menular lewat hubungan seks. Kontak oral-anal, atau rimming, dapat menyebabkan infeksi lambung.

Tergantung pada anda untuk menentukan jenis hubungan seks yang ingin anda pertahankan, mana yang perlu anda modifikasi, dan mana yang ingin anda hentikan. Contohnya, anda mungkin tetap memutuskan untuk tidak menggunakan kondom untuk seks penetratif dengan pasangan HIV-positif yang tetap. Pada ujung lain pada spektrum ini, anda mungkin memutuskan untuk menggunakan kondom untuk seks oral.

[Sumber: Aidsmap

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/28