Pencegahan bagi orang HIV+

Mengerti cara-cara penularan HIV merupakan langkah yang paling penting dalam pencegahan. Diskusikan dengan penyedia layanan kesehatan anda mengenai bagaimana cara penularan HIV dan apa yang dapat anda lakukan untuk mencegah penularan ke orang lain. Setiap kali anda berkunjung ke penyedia layanan kesehatan, bicarakan mengenai perilaku berisiko anda, seperti melakukan hubungan seks tanpa perlindungan dan berbagi jarum suntik. Anda mungkin merasa ragu-ragu untuk berbicara dengan penyedia layanan kesehatan mengenai perilaku berisiko. Mungkin juga akan sulit bagi anda untuk berubah, bahkan bila anda menginginkannya. Namun sangatlah penting untuk jujur kepada dokter anda mengenai aktifitas berisiko. Anda dan penyedia layanan kesehatan anda kemudian dapat membahas cara-cara untuk meminimalisir risiko penularan kepada orang lain. Bila anda seorang perempuan, anda dan dokter anda sebaiknya membicarakan cara-cara mencegah kehamilan. Bila anda ingin hamil, anda dan dokter anda dapat membahas mengenai apa yang anda harus lakukan untuk mencegah penularan HIV ke anak anda.

Bagaimana saya dapat mencegah penularan?

Pengobatan HIV yang sukses dapat mengurangi viral load anda, yang mungkin dapat mengurangi risiko penularan HIV. Namun terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi penularan HIV lewat hubungan seks, seperti:

  • adanya penyakit menular seksual lain.
  • iritasi pada alat kelamin.
  • menstruasi.
  • laki-laki yang belum sunat.
  • menggunakan pil KB.
  • ketimpangan hormon.
  • kekurangan vitamin dan mineral.

Selalu gunakan strategi pencegahan, seperti kondom dan gunakan praktik-praktik seks lebih aman. Bila anda pengguna napza suntik, jangan berbagi alat suntik dengan orang lain. Bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan anda bila anda kesulitan melakukan strategi pencegahan tersebut. Anda dan penyedia layanan kesehatan anda kemudian dapat mencari jalan agar perilaku anda aman.

 

Haruskan saya memberi tahu pasangan saya?

Ya. Sangatlah penting untuk memberi tahu pasangan seksual dan orang-orang yang telah berbagi alat suntik dengan anda bahwa mereka kemungkinan terpajan HIV dan sebaikan melakukan tes HIV. Anda dan dokter anda dapat membahas bagaimana cara terbaik untuk menginformasikan pasangan anda.

Sangat penting untuk menggunakan strategi pencegahan HIV walaupun pasangan anda juga terinfeksi HIV. Pasangan anda mungkin terinfeksi jenis virus lain yang dapat bereaksi berbeda dalam tubuh anda atau yang resisten terhadap pengobatan HIV yang berbeda.

 

Saya mengkonsumsi obat anti-HIV dan viral load saya tidak terdeteksi. Apakah saya sudah sembuh? Dapatkah saya menginfeksi orang lain?

Viral load yang tidak terdeteksi bukan berarti anda telah sembuh. Itu hanya berarti bahwa jumlah virus HIV dalam darah anda sedemikian rendah sehingga tes viral load tidak mampu mendeteksinya. Anda tetap terinfeksi HIV dan dapat menularkan ke orang lain. Anda sebaiknya terus menggunakan strategi pencegahan dan konsultasi secara berkala dengan penyedia layanan kesehatan anda.

[Sumber: AIDSInfo

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/35

Panduan seks lebih aman

Untuk dapat menularkan HIV lewat hubungan seks, infeksi HIV dalam darah atau cairan seksual harus ditransfer kepada seseorang. Cairan seksual dapat berasal dari penis laki-laki atau dari vagina perempuan, sebelum, selama, atau setelah orgasme terjadi. HIV dapat ditularkan bila cairan terinfeksi tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang.

Anda tidak dapat menularkan HIV bila tidak ada infeksi HIV. Bila anda dan pasangan anda tidak terinfeksi HIV, tidak ada risiko. Viral load yang "tidak terdeteksi" TIDAK berarti "tidak ada infeksi HIV". Bila tidak ada kontak dengan darah atau cairan seksual, tidak ada risiko. HIV harus masuk ke dalam tubuh untuk dapat terjadi infeksi.

Panduan seks lebih aman adalah cara-cara untuk mengurangi risiko penyebaran HIV pada saat melakukan hubungan seks.

 

Kegiatan tidak aman

Seks tak aman sangat tinggi risiko penyebaran HIVnya. Risiko tertinggi adalah bila darah atau cairan seksual menyentuh daerah-daerah lunak, basah (selaput lendir) di dalam rektum, vagina, mulut, hidung, atau pada ujung penis. Daerah-daerah ini mudah sekali luka, sehingga mempermudah jalan HIV untuk masuk ke dalam tubuh.

Hubungan vaginal atau rektal tanpa perlindungan sangat tidak aman. Cairan seksual masuk ke dalam tubuh, dan dimanapun penis laki-laki masuk, dapat menyebabkan lecet yang memungkinkan terjadinya infeksi HIV. Pasangan penerima lebih mungkin untuk tertular, walaupun HIV mungkin juga masuk ke dalam penis, terutama bila terjadi hubungan dengan darah atau cairan vagina yang terinfeksi HIV selama waktu yang lama, atau bila terdapat luka terbuka pada penis.

 

Kegiatan lebih aman

Kebanyakan kegiatan seksual berisiko menularkan HIV. Untuk mengurangi risiko tersebut, buatlah supaya darah atau cairan seksual sulit masuk tubuh anda.

Amati tubuh anda dan tubuh pasangan anda. Luka, lecet, atau gusi berdarah meningkatkan risiko penularan HIV. Kegiatan fisik yang kasar juga meningkatkan risiko. Bahkan luka-luka kecil dapat mempermudah HIV masuk dalam tubuh.

Gunakan pelindung untuk mencegah kontak dengan darah atau cairan seksual. Ingat bahwa pelindung alami tubuh adalah kulit. Bila anda tidak memiliki luka atau lecet, kulit anda akan melindungi terhadap infeksi. Risiko infeksi meningkat bila selaput lendir rusak.

Pelindung buatan yang paling umum untuk laki-laki adalah kondom. Anda juga dapat menggunakan kondom perempuan untuk melindungi vagina atau rektum selama hubungan seksual.

Pelicin dapat meningkatkan stimulasi seksual. Pelicin juga mengurangi kemungkinan rusaknya kondom atau pelindung lainnya. Pelicin berbasis minyak seperti Vaseline, minyak, atau krim dapat merusak kondom dan pelindung latex lainnya. Pastikan untuk menggunakan pelicin berbasis air.

Seks oral juga berisiko penularan HIV, khususnya bila cairan seksual masuk ke dalam mulut dan bila terdapat gusi berdarah atau luka dalam mulut. Sepotong latex atau plastik di atas vagina, atau kondom pada penis, dapat digunakan sebagai pelindung selama seks oral. Kondom tanpa pelicin baik untuk seks oral, karena kebanyakan pelicin rasanya tidak enak.

 

Kegiatan aman

Kegiatan aman tidak berisiko menularkan HIV. Abstinen (sama sekali tidak berhubungan seks) adalah yang paling aman. Seks dengan satu pasangan saja aman selama anda dan pasangan anda tidak terinfeksi dan selama tidak ada yang berhubungan seks atau berbagi alat suntik dengan orang lain.

Untuk tetap aman, anggap pasangan seks anda terinfeksi HIV. Anda tidak akan pernah tahu seseorang itu terinfeksi dengan melihat penampilan. Mereka mungkin saja bohong bila mereka katakan tidak terinfeksi, terutama bila mereka ingin berhubungan seks dengan anda. Banyak orang yang terinfeksi HIV dari pasangan tetap mereka yang tidak setia "sekali saja".

Bahkan orang yang hasil tesnya negatif mungkin terinfeksi. Mungkin mereka terinfeksi setelah mereka dites, atau mereka melakukan tes terlalu dini setelah terpajan HIV.

 

Bagaimana bila kedua orang telah terinfeksi?

Banyak orang yang terinfeksi HIV tidak merasa perlu mengikuti panduan seks aman bila mereka berhubungan seks dengan orang lain yang terinfeksi. Namun, tetap masuk akal untuk "play safe". Bila tidak, anda mungkin terpajan infeksi menular seksual lain seperti herpes atau sifilis. Bila anda telah terinfeksi HIV, penyakit-penyakit ini dapat lebih parah.

Anda juga dapat terinfeksi ulang dengan jenis HIV lain. Jenis HIV yang baru ini mungkin tidak dapat dikendalikan dengan obat-obatan yang anda gunakan. Jenis ini juga mungkin resisten terhadap obat antiretroviral lain. Tidak ada cara untuk mengetahui seberapa berisiko hubungan seksual dua orang yang telah terinfeksi HIV. Mengikuti panduan seks lebih aman dapat mengurangi risiko tersebut.

 

Ketahui apa yang anda lakukan

Menggunakan alkohol atau napza sebelum atau selama seks lebih meningkatkan kemungkinan anda tidak mengikuti panduan seks lebih aman. Hati-hati bila anda pernah menggunakan alkohol atau napza.

 

Ketahui batasan anda

Tentukan tingkat risiko yang dapat anda terima. Ketahui seberapa besar perlindungan yang ingin anda gunakan selama melakukan berbagai jenis kegiatan seksual. Sebelum anda melakukan hubungan seks,

Tetap dengan batasan anda. Jangan biarkan alkohol atau napza atau pasangan yang menarik membuat anda lupa diri.

 

Kesimpulan

Infeksi HIV dapat terjadi selama kegiatan sekstual. Seks itu aman hanya bila tidak ada HIV, tidak ada darah atau cairan seksual, atau tidak ada cara HIV dapat masuk ke dalam tubuh.

Anda dapat mengurangi risiko infeksi bila anda menghindari kegiatan tak aman atau bila anda menggunakan pelindung seperti kondom. Tentukan batasan anda dan jangan langgar.

[Sumber: AIDS InfoNet

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/121

Pencegahan bagi HIV+

Orang HIV+ berhak untuk memperoleh "... kehidupan seksual dan emosional yang penuh dan terpuaskan sama seperti orang lain" (Prinsip Denver, 1983). Pencegahan bagi orang yang positif bertujuan untuk menginformasikan orang yang hidup dengan HIV mengenai:

  1. Bagaimana cara mencegah penularan HIV kepada orang lain.
  2. Bagaimana mencegah terinfeksi penyakit menular seksual (seperti herpes, gonorrhea, klamidia, dsb) dan penyakit darah lainnya (seperti hepatitis C dan hepatitis B). 

 

Mengapa pencegahan bagi orang positif penting? Apa pentingnya bila orang lain itu sudah terinfeksi HIV?

Pencegahan bagi orang positif membantu orang yang hidup dengan HIV untuk menghindari terinfeksi penyakit-penyakit lain (koinfeksi), terutama penyakit menular seksual (PMS). Penyakit-penyakit lain ini dapat memberi beban terhadap sistim kekebalan tubuh, terutama bila sistim ini sudah lemah akibat HIV. Selain itu, orang HIV+ dapat terinfeksi jenis lain HIV yang mungkin berbeda dengan jenis yang ia miliki. Beberapa “mutasiâ€Â (perubahan genetis) pada HIV dapat menyebabkan virus tersebut resisten terhadap beberapa obat HIV. Mutasi-mutasi resisten ini dapat ditularkan dari satu orang HIV+ ke orang HIV+ lain. Mengapa hal ini penting? Karena beberapa pengobatan HIV mungkin tidak efektif bahkan sebelum orang tersebut mengkonsumsinya. Pencegahan bagi orang positif juga penting untuk memperlambat penyebaran infeksi HIV baru.

 

Apakah pencegahan bagi orang positif hanya mengenai perilaku seksual?

Tidak. Pencegahan untuk orang positif menekankan pada dua bidang:

  • perilaku seksual, dan
  • penggunaan napza suntik

Namun orang dengan HIV+ sebaiknya melakukan pencegahan umum terhadap segala jenis penyakit termasuk penyakit-penyakit kronis (bertahan lama), seperti diabetes dan hipertensi, serta penyakit-penyakit akut (bertahan untuk jangka waktu pendek) seperti flu atau cacar air – sama seperti orang HIV-negatif. Sangat penting bagi orang dengan HIV untuk menyadari bahwa segala pesan kesehatan/pencegahan bagi masyarakat umum mungkin menjadi lebih penting bagi mereka karena status kekebalan tubuh mereka.

 

Apa yang tidak boleh dilakukan orang HIV+?

  1. Orang HIV+ tidak boleh melakukan hubungan seks penetratif (oral, anal, maupun vaginal) yang tidak terlindungi dengan orang lain. Hal ini termasuk juga fisting, handballing, atau fingering. Selain itu, beberapa penelitian berpendapat bahwa laki-laki yang tidak sunat lebih mudah terinfeksi HIV daripada mereka yang sunat. Hal ini karena kulit luar alat kelamin menjadi akses tambahan bagi HIV untuk masuk ke dalam tubuh. Karenanya, laki-laki HIV+ yang belum disunat sebaiknya lebih berhati-hati dalam berhubungan seks, gunakan perlindungan untuk mencegah infeksi HIV ulang.
     
  2. Orang dengan HIV+ yang menggunakan napza sebaiknya tidak berbagi alat napza (mis. jarum, pipa crack, sedotan cocaine, dsb) dengan orang lain. Penggunaan alat napza bergantian dapat mengandung sedikit darah dari orang lain yang mungkin terkontaminasi hepatitis B, hepatitis C, atau HIV. (PENTING: Orang positif sebaiknya membuat tato hanya dari ahli yang menggunakan jarum steril DAN wadah tinta yang bersih DAN tinta yang baru).

 

Bagaimana orang HIV+ dapat membuat seks lebih aman?

Penelitian menunjukkan bahwa viral load memainkan peran dalam seberapa tinggi kemungkinan seseorang menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seks. Seseorang HIV+ dapat juga memperkecil kemungkinan penularan dengan menekan viral loadnya serendah mungkin dengan menggunakan pengobatan HIV. Namun penelitian lain juga menunjukkan bahwa viral load yang ditemukan dalam darah dapat berbeda dengan viral load dalam saluran dan cairan kelamin. Seringkali viral load dalam saluran kelamin dapat lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam darah, dimana viral load HIV biasanya diukur. Karenanya tetap penting bagi orang dengan HIV+ untuk mempraktikkan seks aman dengan pasangannya. Viral load yang rendah atau "tidak terdeteksi" hanyalah lapisan pelindung lain dengan mengurangi resiko penularan.

 

Hubungan seks dengan orang lain dapat dibuat lebih aman dengan cara-cara berikut:

  • Seks anal - Menggunakan kondom lateks dengan benar dengan pelicin berbasis air (misalnya K-Y Jelly) serta menggunakan kondom baru dengan pasangan yang berbeda dan setiap melakukan hubungan seks.
     
  • Seks vaginal - Menggunakan kondom lateks dengan benar dengan pelicin berbasis air (misalnya K-Y Jelly) serta menggunakan kondom baru dengan pasangan yang berbeda dan setiap melakukan hubungan seks.
     
  • Seks oral - menggunakan dental dam (sebidang plastik kecil yang dapat dibeli di toko spesialis atau toko penyedia alat dental) ATAU pembungkus plastik non-microwavable (dapat dibeli di supermarket) ATAU kondom lateks yang digunting dari bagian yang terbuka hingga ujung, untuk seks oral pada perempuan atau seks anal. Gunakan kondom lateks yang utuh untuk seks oral pada laki-laki.
     
  • Penetratif seks lain (fisting, handballing, atau fingering) – Gunakan sarung tangan lateks, dan bila perlu, pelicin berbasis air (seperti K-Y Jelly).
     
  • Alat seks atau lainnya - Bersihkan alat seks dengan sabun dan air setiap sehabis digunakan, dan tidak melakukan kegiatan seksual yang dapat mengakibatkan pendarahan.

 

Bagaimana cara orang dengan HIV+ membuat napza "aman"?

Seseorang HIV+ dapat membuat penggunaan napza lebih aman dengan melakukan hal tersebut di bawah:

  1. Hanya menggunakan jarum bersih ATAU jarum yang telah dan akan digunakan oleh orang yang sama.
  2. Menggunakan cotton swab dan alat napza bersih.
  3. Sembunyikan alat napza sehingga orang lain tidak dapat menggunakannya.
  4. Mengikuti program rehabilitasi untuk berhenti menggunakan napza sama sekali.

 

Apakah hambatan bagi pencegahan untuk orang HIV+?

Berikut adalah hambatan utama bagi pencegahan untuk orang dengan HIV+:

  1. Pengungkapan kepada orang lain mengenai status HIV - Orang HIV+ dapat mempersiapkan diri untuk mengungkapkan status dengan melatih (sendiri atau dengan teman) cara-cara memberitahu orang lain mereka terinfeksi HIV. Anda dapat juga memperoleh ide cara pengungkapan dari konselor, kelompok dukungan, dan penyedia pelayanan kesehatan.
     
  2. Akses terhadap kondom/dental dam/pelicin - Kondom mungkin sulit diperoleh bagi mereka yang sedang “hotâ€Â maka SELALU SEDIA dengan membeli kondom sehari sebelum anda memperkirakan akan melakukan seks. Anda juga dapat mempersiapkan diri dengan membeli kondom dan menyimpannya di dalam rumah. Kondom gratis biasanya dapat diperoleh dari dinas kesehatan setempat, klinik PMS atau organisasi berbasis komunitas yang bekerja dengan orang yang memiliki PMS atau HIV.
     
  3. Akses terhadap jarum bersih untuk penggunaan napza suntik - Beberapa tempat menyediakan pelayanan “harm reductionâ€Â bagi pengguna napza suntik. Walaupun pelayanan seperti ini mungkin kontroversial, mereka menyediakan jarum steril, dan di beberapa tempat testing untuk PMS, bagi pengguna napza suntik.
 

Bagaimana bila pasangan HIV-negatif saya secara tidak sengaja terpajan HIV saya?

kepada mereka yang secara tidak sengaja terpajan HIV pada situasi yang tidak berhubungan dengan pekerjaan (PPP untuk pajanan berhubungan dengan pekerjaan, seperti luka tertusuk alat suntik pada petugas kesehatan, telah lama dianjurkan, dan telah diberikan juga di Indonesia).Pada tahun 2005, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menganjurkan profilaksis pasca pajanan atau PPP ditawarkan

PPP adalah terapi HIV yang digunakan orang yang HIV-negatif yang telah terpajan HIV. Bila digunakan pada waktu yang cepat, PPP dapat mencegah orang tersebut terinfeksi HIV. PPP mengharuskan orang tersebut memulai menggunakan obat HIV dalam waktu 72 jam (3 hari) sejak kemungkinan terjadinya pajanan HIV. Seseorang yang menggunakan PPP harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat HIV selama paling tidak 1 bulan. Obat-obatan HIV ini seringkali menimbulkan efek samping yang mengakibatkan sulitnya meneruskan terapi. Namun, anda harus selalu konsultasi dengan dokter anda sebelum menghentikan terapi PPP.

Di Indonesia PPP untuk situasi yang berhubungan dengan pekerjaan, khususnya pada petugas medis, telah banyak digunakan. Namun untuk masyarakat umum dan untuk situasi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, PPP masih sangat jarang diberikan.

 

Links lain yang dapat membantu:

[Sumber: TheBody.com]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/36