Saat ini, hanya ada sedikit penelitian yang secara khusus membidik pada perempuan dengan HIV/AIDS. Belum ada bukti bahwa perempuan secara klinis mengalami HIV lebih parah daripada laki-laki. Beberapa penilitian beranggapan bahwa HIV dapat mempengaruhi perempuan secara berbeda dibandingkan laki-laki, mungkin dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih besar pada sistem kekebalan tubuh dalam waktu yang lebih dini.
Perbedaan, jika ada, mungkin disebabkan oleh perbedaan fisik, sosial atau psikologis. HIV dapat mempengaruhi:
Sering kali, perempuan HIV-positif juga merawat pasangan dan/atau anak yang HIV-positif, atau sedikitnya mempunyai anak yang tergantung padanya.
Ada bukti bahwa viral load pada perempuan lebih rendah daripada laki-laki, terutama pada tahun-tahun pertama setelah terinfeksi. Namun tampaknya gerak laju HIV berjalan serupa dengan laki-laki. Pedoman pengobatan untuk laki-laki dapat dipakai untuk perempuan.
Perempuan mengalami lebih banyak masalah yang disebabkan oleh human papillomavirus. Pertumbuhan tidak normal terkait dengan kanker leher rahim lebih sering terjadi dan lebih berat pada perempuan HIV-positif. Masalah HPV tampaknya tidak pulih dengan penggunaan terapi antiretroviral (ART).
Gangguan haid umum terjadi apakah seorang perempuan itu HIV-positif atau tidak. Jika anda mengalami gangguan haid, penting untuk diingat bahwa hal ini belum tentu diakibatkan oleh HIV atau pengobatan HIV. Sering kali gangguan tersebut diakibatkan perubahan hormon yang terjadi secara alamiah pada sebagian besar perempuan. Namun HIV dan ART dapat juga mempengaruhi siklus haid. Walaupun dampak HIV terhadap fungsi hormon perempuan belum diteliti secara luas, diperkirakan perubahan pada sistem kekebalan tubuh dapat menyebabkan perubahan hormon, sehingga mengakibatkan gangguan haid.
Beberapa masalah haid yang dilaporkan oleh perempuan HIV-positif:
Amenore lazim dialami perempuan yang mengalami penyakit kronis, atau yang kehilangan berat badan yang drastis. Perempuan dengan penyakit parah seperti AIDS dapat mengalami amenore. Perempuan yang tidak haid dapat mengalami rasa sakit pada panggul, payudara bengkak atau mengalami 'hot flushes' (rasa hangat yang terjadi dan hilang secara tiba-tiba).
Penting untuk melaporkan perubahan haid pada dokter, untuk diperiksa dan didiagnosis alasannya. Gangguan haid dapat mempengaruhi rasa kesehatan kita secara keseluruhan, tetapi biasanya mudah didiagnosis dan diobati.
Banyak perempuan melaporkan perubahan pada siklus haid setelah mulai ART. Obat antiretroviral (ARV) termasuk AZT, ddI, ddC dan d4T diketahui menyebabkan gangguan haid pada beberapa perempuan.
Penelitian baru menunjukkan bahwa gangguan haid, terutama perdarahan di atas normal, mungkin adalah efek samping dari beberapa protease inhibitor, misalnya ritonavir. Adalah penting untuk menanggapi perdarahan yang luar biasa, karena ini dapat menyebabkan anemia.
Perempuan dengan HIV sering memakai pil KB untuk mengatur siklus haid atau waktu masuk masa mati haid. Banyak ARV dapat berinteraksi dengan sebagian besar jenis pil KB. Jika dipakai sekaligus, keefektifan pil KB dapat dikurangi. Tanyakan pada dokter apakah perlu mengubah dosis pil KB-nya waktu mulai ART, atau menggantikannya dengan cara KB lain, misalnya kondom.
HIV mempengaruhi perempuan secara berbeda dengan laki-laki. Ini karena beberapa perbedaan antara perempuan dan laki-laki, baik fisik, sosial dan mental. Perempuan dengan HIV sebaiknya ditangani oleh dokter yang berpengetahuan dan berpengalaman dengan HIV pada perempuan.
Perempuan dengan HIV sering mengalami gangguan haid. Bila ini terjadi, coba membahas dengan dokter.
Infeksi oportunistik yang dialami oleh perempuan adalah lain daripada yang dialami laki-laki. Juga ada perbedaan dalam prevalensi dan parahnya efek samping obat, termasuk ARV.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI610]