Pencegahan HIV

Epidemik HIV telah berlangsung 30 tahun lebih dan masih terus berkembang.

Karenanya para peneliti terus mencari metode-metode baru untuk mencegah infeksi baru.

Dua pendekatan pencegahan baru yang banyak menerima perhatian dan kontroversi adalah sirkumsisi (sunat), dan pemanfaatan pengobatan HIV untuk menurunkan viral load.

 

Sirkumsisi (sunat)

Sirkumsisi sebagai salah satu cara pencegahan telah banyak mendapat perhatian dari media. Berbagai penelitian yang dilakukan di Afrika menunjukkan bahwa sirkumsisi mampu menurunkan risiko penularan HIV dari perempuan ke laki-laki sebesar 60%.

Akibatnya, banyak program-program sirkumsisi yang dikembangkan di berbagai negara yang terkena dampak HIV paling besar dengan harapan akan mampu memperlambat laju epidemik.

Namun sedikit sekali yang diketahui mengenai dampak yang diberikan sirkumsisi kepada perempuan.

Sebuah penelitian baru telah mempelajari hal ini. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko terinfeksi HIV lebih rendah 40% bagi perempuan dengan pasangan laki-laki yang telah sunat.

Namun, hal tersebut mungkin merupakan kebetulan, karena temuan tersebut tidak mencapai apa yang disebut "signifikansi statistik".

Walau demikian, para peneliti tersebut berharap temuan mereka "dapat memberi manfaat bagi program-program yang bertujuan meningkatkan sirkumsisi laki-laki untuk pencegahan HIV".

 

Pengobatan sebagai pencegahan

Pemanfaatan obat HIV sebagai metode pencegahan HIV merupakan topik hangat yang kontroversial.

Beberapa peneliti percaya bahwa dalam situasi tertentu, orang yang sedang dalam terapi HIV, yang tidak menderita infeksi menular seksual dan yang memiliki viral load tak terdeteksi, tidak berisiko infeksi terhadap pasangan seksual mereka.

Para peneliti sangat berhati-hati dalam menekankan bahwa mengkonsumsi obat HIV tidak akan menggantikan fungsi penggunaan kondom dalam pencegahan penularan.

Namun, beberapa peneliti mengindikasikan bahwa dalam keadaan tertentu, penurunan risiko terkait dengan konsumsi obat HIV, serta dengan memiliki viral load tak terdeteksi, paling tidak mendekati apa yang dicapai oleh penggunaan kondom.

Tidak semua orang setuju dengan hal ini, dan sesi-sesi paling heboh dalam konferensi HIV terjadi saat penelitian-penelitian tentang pemanfaatan pengobatan HIV sebagai upaya pencegahan dipresentasikan.

Perdebatan tentang pengobatan sebagai upaya pencegahan dimulai kurang lebih dua tahun yang lalu dengan diluncurkannya apa yang kini disebut sebagai 'pernyataan Swiss'.

Dokter dan peneliti senior dari Swiss mengatakan bahwa orang HIV positif yang mengkonsumsi obat-obatan HIV tidak berisiko infeksi kepada pasangan seksualnya apabila:

  • Viral load mereka tak terdeteksi paling tidak selama enam bulan.
  • Mengkonsumsi obat-obatan HIV secara benar dan tepat.
  • Tidak menderita infeksi menular seksual.

Para peneliti dari Denmark ingin melihat apakah orang yang mengkonsumsi obat HIV yang memiliki viral load tak terdeteksi dapat mempertahankannya.

Karenanya mereka meneliti hasil viral load dari tiap orang di negara tersebut yang melakukan pengobatan HIV.

Hasilnya menunjukkan bahwa transmisi HIV sangat jarang terjadi bila seseorang memiliki viral load di bawah 1000 copies/ml.

Karenanya para peneliti Denmark tersebut mengkategorisasi orang yang melakukan pengobatan HIV dengan viral load di atas level ini sebagai masih mungkin menular.

Mereka kemudian mengkalkulasikan jumlah waktu orang yang melakukan pengobatan HIV yang memiliki viral load di atas tingkat tersebut.

Bagi pasien yang mencapai viral load tak terdeteksi, 99.5% waktunya viral load tersebut akan tetap dalam tingkat di bawah 1000 copies/ml.

Namun selama tahun pertama pengobatan HIV, viral load akan tiba-tiba meningkat menjadi terdeteksi selama 5%. Mereka memperkirakan bahwa rekomendasi Swiss terebut perlu direvisi, dan bahwa pasien harus memiliki viral load tak terdeteksi paling tidak selama 12 bulan.

Mereka juga menemukan bahwa viral load jarang sekali menjadi terdeteksi bila seseorang telah mengkonsumsi obat HIV dengan viral load tak terdeteksi selama lima tahun atau lebih. Pasien-pasien tersebut menjalani 99.97% waktunya dengan viral load di bawah 1000 copies/ml.

Penelitian terus dilakukan terhadap kedua metode pencegahan HIV ini dan perkembangan terbaru dilaporkan dalam website www.aidsmap.com.

[Sumber: HIV Weekly, 31 March 2010]

Trackback URL for this post:

http://www.odhaindonesia.org/trackback/471
onesmallbears's picture

Giants Blue Jersey Eli

Giants Blue Jersey Eli Manning Jersey Jason Pierre-Paul Jersey Ahmad Bradshaw Jersey Antrel Rolle Jersey Brandon Jacobs Jersey Carl Banks Jersey Danny Clark Jersey Eli Manning Jersey Hakeem Nicks Jersey Harry Carson Jersey Justin Tuck Jersey Kenny Phillips Jersey Kevin Boss Jersey Lawrence Taylor Jersey Mario Manningham Jersey Mark Bavaro Jersey Michael Strahan Jersey Osi Umenyiora Jersey Phil Simms Jersey Plaxico Burress Jersey Prince Amukamara Jersey Steve Smith Jersey Tiki Barber Jersey Victor Cruz Jersey An New York Giants fan? Then our New York Giants shop can help you make your dream come true. Here you can find New York Giants jerseys you want with all kinds of styles and colors. It's easy to get, just click your mouse. Here you can choose many types of Giants jerseys, such as authentic jerseys, premier jerseys, and replica jerseys, they are all of high quality. They are made of high-quality polyester two-way stretch pique fabric and has solid mesh inserts for ventilation. You can also see many jerseys of hot players such as Justin Tuck, Eli Manning and so on; you can choose what you like best from them. They are all free shipping and not tax.

Post new comment

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Enter the characters shown in the image. Ignore spaces and be careful about upper and lower case.