Seks
Ada banyak alasan mengapa anda tetap harus mempertimbangkan melakukan seks aman bila anda HIV-positif.
Pertama, anda dapat menginfeksi orang lain dengan HIV. Di Inggris, terdapat beberapa kasus dimana seseorang dimasukkan penjara akibat menginfeksi pasangan seksualnya dengan HIV.
Kemudian ada juga masalah infeksi menular seksual, yang paling tidak merupakan keadaan yang sangat tidak menyenangkan, serta dapat meningkatkan kemungkinan anda menyebarkan HIV saat berhubungan seks. Bila dibiarkan tanpa penanganan, beberapa infeksi menular seksual dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, terutama bila sistim kekebalan tubuh anda sangat lemah.
Terdapat beberapa bukti bahwa seks tak aman dapat mengganggu kesehatan orang dengan HIV serta sekarang juga ada masalah dengan reinfeksi atau superinfeksi dengan jenis HIV yang resisten obat.
Pada awal tahun 1990an, sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan ribuan laki-laki gay HIV-positif menemukan bahwa laki-laki yang melakukan seks anal tak aman mengalami perkembangan penyakit yang lebih cepat dan jatuh sakit dengan penyakit yang berhubungan dengan HIV lebih cepat daripada mereka yang mengatakan bahwa mereka hanya melakukan seks aman. Sebuah penelitian yang melibatkan pekerja seks di Kenya menunjukkan bahwa perempuan yang melakukan seks tak aman mengalami lebih banyak infeksi menular seksual dan jumlah CD4 yang lebih rendah.
Reinfeksi/superinfeksi
Walaupun telah diakui bahwa HIV resisten obat dapat menular kepada orang-orang yang tadinya tidak terinfeksi, tidaklah jelas apakah jenis HIV ini dapat menginfeksi orang yang sudah terinfeksi HIV. Namun terdapat beberapa laporan kasus dari seluruh dunia mengenai orang HIV-positif yang terinfeksi ulang (reinfeksi) dengan jenis HIV lain setelah melakukan seks tak aman - dan sebagai konsekuensinya mengalami kesulitan dalam pengobatan HIVnya.
Namun tampaknya reinfeksi itu jarang dan dalam sejumlah kasus yang dilaporkan, orang-orang yang mengalaminya sedang berhenti pengobatan HIV saat mereka terinfeksi ulang.
Hal ini merupakan topik yang kontroversial, dan kini perkembangannya diikuti dengan cermat oleh para dokter di seluruh dunia, serta informasi tentang ini terus dipublikasikan.
Jenis-jenis HIV
HIV terdapat banyak jenisnya, beberapa lebih agresif daripada yang lain dalam tabung laboratorium. Ada pendapat bahwa penularan dari jenis yang ganas (kepada orang yang telah terinfeksi jenis HIV yang lebih jinak) dapat mengakibatkan AIDS.
Hal ini mungkin terjadi karena jenis yang ganas dapat mengalahkan sistim kekebalan tubuh. Contohnya, sistim kekebalan tubuh seseorang mungkin secara baik merespon infeksi HIV yang awal, sehingga jenis HIV dominan dalam tubuh adalah yang tidak terlalu mencelakakan orangnya. Reinfeksi dengan jenis yang lain dapat menimpangkan keseimbangan ini: sistim kekebalan tubuh orang tersebut mungkin tidak mampu lagi menangani jenis virus yang baru dan lebih agresif ini, sehingga proses replikasinya menjadi lebih cepat. Virus baru yang lebih agresif ini dapat juga mengalahkan jenis virus yang sudah ada, dan menjadi jenis dominan. Teori lain adalah bahwa jenis yang baru dapat secara selektif menginfeksi beberapa jenis sel atau jaringan tertentu yang sebelumnya tidak terdampak, dan mengakibatkan perkembangan penyakit yang lebih cepat.
Bukti adanya orang yang terinfeksi dengan dua jenis HIV yang berbeda itu memang ada, namun tidak ada yang yakin kapan infeksi tersebut dapat terjadi. Beberapa peneliti mengatakan bahwa infeksi dengan jenis yang kedua lebih mungkin terjadi dalam beberapa bulan infeksi primer, karena pada saat ini respon kekebalan terhadap HIV paling lemah. Peneliti lain mengatakan bahwa respon kekebalan mungkin tidak melindungi, dan bahwa reinfeksi dapat terjadi pada tahap yang lebih lanjut.
Kofaktor
Walaupun terdapat keragu-raguan mengenai pentingnya reinfeksi dengan HIV, ada juga pendapat bahwa infeksi virus lain dan infeksi menular seksual dapat mempercepat perkembangan penyakit.
Pertama-tama, banyak infeksi yang dapat menyebabkan HIV bereproduksi hanya karena infeksi tersebut menstimulir sistim kekebalan tubuh. Reaksi kekebalan tersebut termasuk juga menggiatnya HIV laten dalam sel-sel kekebalan tubuh, yang menyebabkan terjadinya produksi HIV baru serta terinfeksinya sel-sel lainnya.
Contohnya, setelah terinfeksi sitomegalovirus (CMV), orang dengan infeksi HIV kemungkinan akan mengalami peningkatan replikasi HIV. Namun CMV serta beberapa jenis virus lain juga dapat membantu HIV dalam menginfeksi sel-sel baru, dan mempercepat replikasi HIV pada sel-sel yang terinfeksi dengan HIV dan CMV sekaligus. Hal yang sama juga terjadi dengan virus herpes, virus Epstein-Barr (yang menyebabkan demam kelenjar) dan virus Hepatitis B. Semua jenis virus ini berpotensi menyediakan 'kunci' bagi sel-sel yang sebelumnya HIV tidak mungkin menginfeksi. Hampir keseluruhan jenis virus ini ditularkan melalui kontak seksual atau cairan tubuh.
Infeksi menular seksual
Bagi kebanyakan orang dengan HIV, pengobatan standar untuk infeksi menular seksual bekerja sama baiknya seperti pada orang HIV-negatif.
Namun, bila kekebalan tubuh anda sangat lemah, anda mungkin akan butuh untuk mengkonsumsi antibiotik lebih lama untuk mengobati infeksi seperti gonorrohea dan sifilis.
Virus infeksi menular seksual dapat juga menjadi lebih serius dan sulit untuk disembuhkan bila anda memiliki HIV. Contohnya, orang dengan HIV lebih mungkin untuk mengalami herpes genital yang lebih sering dan lebih ganas.
Kekebalan tubuh orang dengan HIV sulit untuk membasmi infeksi HPV, virus yang menyebabkan kutil kelamin dan anus. Beberapa jenis virus ini dapat menyebabkan kanker servix dan anal, dan bahkan setelah ditemukannya pengobatan anti-HIV, para dokter melihat adanya peningkatan terjadinya jenis-jenis kanker ini pada orang dengan HIV.
Virus hepatitis B juga menular lewat hubungan seks, dan orang dengan HIV dianjurkan untuk vaksinasi terhadap hepatitis B. Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa virus hepatitis C juga dapat menular lewat hubungan seks. Kontak oral-anal, atau rimming, dapat menyebabkan infeksi lambung.
Tergantung pada anda untuk menentukan jenis hubungan seks yang ingin anda pertahankan, mana yang perlu anda modifikasi, dan mana yang ingin anda hentikan. Contohnya, anda mungkin tetap memutuskan untuk tidak menggunakan kondom untuk seks penetratif dengan pasangan HIV-positif yang tetap. Pada ujung lain pada spektrum ini, anda mungkin memutuskan untuk menggunakan kondom untuk seks oral.
[Sumber: Aidsmap]







