Virus Sitomegalia (CMV)
Virus sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah infeksi oportunistik. Virus ini sangat umum. Antara 50 persen sampai 85 persen masyarakat Amerika Serikat adalah CMV-positif waktu mereka berusia 40 tahun. Statistik untuk Indonesia belum diketahui. Sistem kekebalan tubuh yang sehat menahan virus ini agar tidak mengakibatkan penyakit.
Waktu pertahanan kekebalan menjadi lemah, CMV dapat menyerang beberapa bagian tubuh. Kelemahan tersebut dapat disebabkan oleh bebagai penyakit termasuk HIV. Terapi antiretroviral (ART) sudah mengurangi angka penyakit CMV pada Odha sampai dengan 75 persen. Namun, kurang-lebih 5 persen Odha masih mengembangkan CMV.
Penyakit yang paling lazim disebabkan CMV adalah retinitis. Penyakit ini adalah kematian sel pada retina, bagian belakang mata. Ini secara cepat dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati. CMV dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menginfeksikan beberapa organ sekaligus. Risiko CMV tertinggi waktu jumlah CD4 di bawah 50. CMV jarang terjadi dengan jumlah CD4 di atas 100.
Tanda pertama retinitis CMV adalahmasalah penglihatan seperti titik hitam yang bergerak. Ini disebut 'floater' (katung-katung) dan mungkin menunjukkan adanya radang pada retina. Anda juga mungkin akan melihat cahaya kilat, penglihatan yang kurang atau terdistorsi, atau titik buta. Beberapa dokter mengusulkan pemeriksaan mata untuk mengetahui adanya retinitis CMV. Pemeriksaan ini dilaksanakan oleh ahli mata. Jika jumlah CD4 anda dibawah 200 dan anda mengalami masalah penglihatan apa saja, sebaiknya anda langsung menghubungi dokter.
Beberapa Odha yang baru saja mulai memakai ART dapat mengalami radang dalam mata, yang menyebabkan kehilangan penglihatan. Masalah ini disebabkan oleh sindrom pemulihan kekebalan.
Sebuah penelitian baru beranggapan bahwa orang dengan CMV aktif lebih mudah menularkan HIV-nya pada orang lain.
Bagaimana CMV diobati?
Pengobatan pertama untuk CMV meliputi infus setiap hari. Karena harus diinfus setiap hari, sebagian besar orang memasang 'keran' atau buluh obat yang dipasang secara permanen pada dada atau lengan. Dulu orang dengan penyakit CMV diperkirakan harus tetap memakai obat anti-CMV seumur hidup.
Pengobatan CMV mengalami kemajuan dramatis selama beberapa tahun terakhir ini. Saat ini ada tujuh jenis pengobatan CMV yang telah disetujui oleh FDA di AS.
ART dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Pasien dapat berhenti memakai obat CMV jika jumlah CD4-nya di atas 100 hingga 150 dan tetap begitu selama tiga bulan. Namun ada dua keadaan yang khusus:
- Sindrom pemulihan kekebalan dapat menyebabkan radang yang parah pada mata Odha walaupun mereka tidak mempunyai penyakit CMV sebelumnya. Dalam hal ini, biasanya pasien diberikan obat anti-CMV bersama dengan ART-nya.
- Bila jumlah CD4 turun di bawah 50, risiko penyakit CMV meningkat.
Apakah CMV dapat dicegah?
Gansiklovir disetujui untuk mencegah (profilaksis) CMV, tetapi banyak dokter enggan meresepkannya. Mereka tidak ingin menambahkan hingga 12 kapsul lagi untuk dikonsumsi pasien dalam sehari. Lagi pula, belum jelas profilaksis ini bermanfaat. Dua penelitian besar menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Pada akhirnya, ART dapat menahan jumlah CD4 pada tingkat yang cukup tinggi sehingga yang memakainya tidak akan berpenyakit CMV.
Bagaimana anda dapat memilih pengobatan CMV?
Ada beberapa masalah yang sebaiknya dipertimbangkan dalam memilih pengobatan penyakit CMV aktif:
-
Apakah ada risiko pada penglihatan?
Anda sebaiknya bertindak cepat agar anda tidak menjadi buta.
-
Bagaimana efektivitas pengobatan?
Gansiklovir suntikan pengobatan CMV yang paling efektif secara keseluruhan. Bentuk implan sangat baik untuk menghentikan retinitis. Namun implan tersebut hanya bekerja pada mata tempat ditanamnya.
-
Bagaimana obat diberikan?
Pil paling mudah ditangani. Pengobatan intravena meliputi suntikan atau buluh obat yang mungkin menimbulkan infeksi. Suntikan pada mata berarti menyuntik jarum langsung pada mata. Bentuk tanam, yang bertahan enam sampai delapan bulan, membutuhkan seandar satu jam rawat jalan.
-
Apakah terapinya lokal atau sistemik?
Terapi lokal hanya mempengaruhi mata. Retinitis CMV dapat cepat menyebar dan mengakibatkan kebutaan. Karena itu, penyakit ini harus diobati secara agresif waktu pertama diketahui. Obat baru dalam bentuk suntikan dan tanam menempatkan obat langsung dalam mata, dan menimbulkan dampak terbesar pada retinitis.
CMV juga dapat ditemukan pada bagian tubuh lain. Untuk menanggulangi di bagian tubuh lain, anda membutuhkan terapi sistemik (seluruh tubuh). Pengobatan suntikan atau infus, atau pil valgansiklovir, dapat dipakai.
-
Apa efek sampingnya?
Beberapa obat CMV dapat merusak sumsum tulang atau ginjal. Ini mungkin membutuhkan obat tambahan. Obat lain meliputi infus selama waktu yang lama. Membahas efek samping pengobatan CMV dengan dokter.
Apa kata pedoman?
Baru-baru ini ada beberapa pedoman profesional yang menyarankan penggunaan valgansiklovir sebagai pengobatan pilihan untuk pasien yang tidak berisiko kehilangan penglihatannya dengan segera.
Kesimpulan
Penggunaan ART adalah cara terbaik untuk mencegah CMV. Jika jumlah CD4 anda rendah, dan anda mengalami gangguan penglihatan APA PUN, anda harus langsung periksa ke dokter!
Pengobatan langsung pada mata memungkinkan pengendalian retinitis CMV. Dengan obat CMV baru, anda dapat menghindari buluh obat yang dipasang pada tubuh anda dan infus harian.
Sebagian besar orang dapat menghentikan penggunaan obat CMV jika jumlah CD4-nya naik dan tetap di atas 100–150 waktu memakai ART.
[Sumber: Lembaran Informasi Spiritia LI501]







