Istilah ODHA
Dari email Slamet Riyadi S.
Saya sekarang sedang menyusun kembali (revisi) buku panduan untuk wartawan dalam meliput HIV dan AIDS. Buku ini kami susun bersama Oktevery Kamil dan Laurel McLaren pada 1995, dan sudah cetak ulang beberapa kali. Namun, sekarang muncul masalah, soal sebutan/istilah. Sesudah sebutan ODHA, yang diusulkan oleh almh Suzana Murni dan Husin Habsyi/YPI, disepakati oleh pakar bahasa Anton Moeliono, maka sebutan tersebut saya diseminasikan dalam setiap pelatihan wartawan di seluruh Indonesia. Nah, kemudian teman-teman ODHA ini beberapa waktu lalu membentuk jejaring secara nasional dengan sebutan "Orang Yang Terinfeksi HIV", jejaringnya disebut JOTHI. Sebetulnya UNAIDS sendiri sudah memilah antara HIV dan AIDS, sehingga ketika saya diminta menyusun buku saku soal AIDS utk pelajar di Yogyakarta saya menulisnya ODHIV (Orang Dengan HIV).
Melalui surat ini saya ingin memperoleh masukan dari teman-teman di situs ini, sebaiknya para wartawan menulis: ODHA, ODHIV atau Orang Terinfeksi HIV (OTHIV) atau dengan sebutan lain, serta apa alasannya.
Salam.
SRS








Menurut saya, orang dengan
Menurut saya, orang dengan HIV sudah terlalu lama dikotak-kotakkan dengan label-label, istilah ODHA hanyalah satu dari banyak label yang kemudian berpotensi menimbulkan stigma. Sebagai argumen, mengapa orang yang hidup dengan penyakit kronis lain seperti diabetes tidak diberi label "orang yang hidup dengan diabetes". Sebagai bukti pengkotak-kotakan adalah istilah OHIDHA ... apabila yang dimaksud adalah orang yang terdampak oleh HIV/AIDS, bukankah kita semua secara langsung maupun tidak sudah terdampak HIV/AIDS ... berarti sengaja diberi jarak antara orang dengan HIV dan yang tidak.
Tapi saya juga mengakui bahwa sekarang ini banyak orang dengan HIV yang memang senang punya label ODHA, dan memang lebih memudahkan bagi pergerakan kesetaraan & pemberdayaan apabila ada label.
Dan karena label ODHA ini sudah memasyarakat, saya kira tidak ada gunanya untuk mengubahnya. Mengubah istilah tersebut sekarang malah akan lebih membingungkan dan membuat orang yang sudah terkotakkan menjadi semakin terpojokkan.
Mungkin ada pendapat lain?
Saya setuju dengan pak
Saya setuju dengan pak admin...
lebih baik menggunakan istilah yang sudah memasyarakat... dan terbiasa didengar orang... kalo kata orang marketing "Branding"-nya udah dapet...
Jangan terpengaruh
Semua harus co operative, mulailah untuk positif thinking apapun atribut itu. saling tolong menolong and be smile
Pemikiran yang postif seperti
Pemikiran yang postif seperti ini akan sangat membantu banyak orang... :D
Therapy kekebalan tubuh
saya ada saran supaya tidak terkotak-kotak odha and what ever lah kita ganti dengan nama yang lebih manusiawi, yaitu orang yang sedang menjalankan therapy kekebalan tubuh..... it,s fine ?
Post new comment